BAB I
HUKUM TAURAT
1.1.
PENGERTIAN
Kata “taurat” dalam bahasa Ibrani adalah “תּוֹרָה” (baca:torah) dan dalam bahasa Yunani adalah “νομος” (baca: nomos). Istilah kata “torah” berasal dari kata kerja bahasa Ibrani yaitu kata ירה (baca: yarah)
yang mengandung pengertian "hukum, arahan, pengajaran, instruksi, didikan,
menunjukkan". Pengertian tersebut dapat diketahui dari penggunaan kata
“torah” dalam kitab PL (Perjanjian Lama), di antaranya adalah sebagai berikut:
·
Kata “torah” digunakan untuk merujuk kepada
hukum-hukum (Keluaran 20 – Ulangan 33; Mazmur 78:1, 5, 10);
·
Kata “torah” digunakan untuk merujuk kepada seluruh
kehendak Allah yang tertulis (Ulangan 4:4; 30:10; 31:9);
·
Kata “torah” digunakan dalam arti kelima kitab Musa
(Kejadian – Ulangan; Yos. 1:8);
·
Kata “torah” digunakan dalam arti “firman” Tuhan
(Mazmur 1);
·
Kata “torah” digunakan dalam arti nasihat-nasihat
hikmat dari seorang ibu (Amsal 1:8; 6:20; 31:26) dan nasihat seorang ayah
(Amsal 4:1); pidato dari guru hikmat (Amsal 7:2; 13:14); dari nabi-nabi (Yesaya
8:16, 20; 30:9);
·
Kata “torah” digunakan untuk proklamasi
profetis-eskatologis dari para nabi (Yesaya. 2:3; 42:4; Mikha 4:2);
·
Kata “torah” digunakan sebagai istilah teknis untuk
arahan-arahan dari para imam kepada umat yang awam (Yeremia 18:18; Ezra 7:26);
·
Dalam PB, kata “nomos” (kata bahasa Yunani) digunakan
untuk merujuk kepada seluruh PL (Matius 5:17-18; Lukas 16:17; Titus 3:9).
Hal ini menunjukkan bahwa kata “Taurat” pada prinsipnya mengandung
pengertian yang amat luas. Namun, dalam buku ini istilah “Taurat” lebih
difokuskan kepada pengertian yang mengarah kepada Titah berupa hukum-hukum yang
disampaikan Tuhan melalui nabi Musa kepada bangsa Israel, yaitu 10 Hukum Taurat
dan 613 penjabarannya yang lebih dikenal dengan istilah “mitzvot”.
Ke-10 Hukum Taurat atau disebut juga Dasa Titah yang dalam Latin disebut sebagai Dekalog (δέκα λόγοι) adalah daftar
perintah agama dan moral, yang merupakan perintah Tuhan dan diberikan kepada bangsa Israel melalui perantaraan Musa di gunung Sinai dalam bentuk dua loh batu. Frasa '10
Perintah' tersebut adalah sebagaimana tercantum dalam Keluaran 20:2-17 dan Ulangan 5:6-21.
Ke-10 Hukum
Taurat tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu.
2.
Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun
yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di
dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah
kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang
membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga
dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih
setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang
berpegang pada perintah-perintah-Ku.
3.
Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan
sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut namaNya
dengan sembarangan.
4.
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan
melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN,
Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki,
atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau
hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya
TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada
hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.
5.
Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di
tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
6.
Jangan membunuh.
7.
Jangan berzinah.
8.
Jangan mencuri.
9.
Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
10.
Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini
isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau
keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.
Jika ditinjau dari obyeknya, kesepuluh Perintah
Tuhan tersebut di atas dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
a. Hukum-hukum
yang mengatur hubungan umat dengan Allah, terdiri dari hukum ke-1 sampai ke-4.
b. Hukum-hukum
yang mengatur hubungan antar sesama manusia, terdiri dari hukum ke-5 sampai
ke-10
Selanjutnya, seluruh
perintah Allah (mitzvah) yang dicatat dalam kumpulan kitab Taurat berjumlah 613 Mitzvot (bahasa Ibrani: תרי"ג
מצוות: taryag
mitzvot). Prinsip-prinsip hukum Alkitab ini seringkali disebut sebagai "Perintah
Allah" (mitzvah, bentuk jamaknya: mitzvot) dan secara keseluruhan disebut
sebagai "Hukum Musa" atau "Hukum Sinai"
atau hanya "Hukum" (Torat Mosheh, תורת משה; bahasa Inggris: "Law of Moses",
"Mosaic Law," "Sinaitic Law," atau hanya "the
Law"). Seluruh 613 mitzvot terdiri dari "perintah positif",
untuk dilakukan (mitzvot aseh), dan "perintah negatif", untuk
dilarang dilakukan (mitzvot lo taaseh).
Perintah negatif berjumlah 365, sedangkan perintah positif berjumlah
248.
Keseluruhan 613 mitzvot dibagi menjadi tiga kategori umum:
1. Kategori mitzvot yang disebut "Mishpatim", meliputi perintah-perintah
yang dianggap sudah jelas, misalnya "Jangan membunuh" atau
"Jangan mencuri".
2. Kategori mitzvot yang disebut "Edot"
("kesaksian"; "testimonies"), yang merupakan
kesaksian dalam cabang-cabang agama Yudaisme, misalnya hari Sabat dikatakan memberi kesaksian pada
kisah Allah menciptakan dunia dalam 6 hari dan beristirahat pada hari ketujuh
serta menguduskannya.
3. Kategori mitzvot yang disebut "Chukim".
Perintah-perintah ini tidak mempunyai alasan yang jelas dan dianggap sebagai
manifestasi murni kehendak Allah.
Adapun 613 Mitzvot tersebut dapat dilihat pada lampiran 1.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa
Hukum Taurat adalah suatu kumpulan hukum, arahan, pengajaran, instruksi,
didikan dalam kitab Musa yang merujuk kepada hukum-hukum, kehendak Allah yang
tertulis dalam kitab PL, dan firman Tuhan yang digunakan sebagai
nasihat-nasihat hikmat dari orang tua dan guru, sebagai proklamasi
profetis-eskatologis dari para nabi, dan sebagai istilah teknis untuk
arahan-arahan dari para imam kepada umat yang awam.
1.2.
SUMBER
HUKUM TAURAT
Hukum Taurat bersumber dari 5 (lima) Kitab Musa yang sering disebut sebagai
“Pentateukh”. Istilah ini pertama sekali digunakan oleh orang Yahudi
berbahasa Yunani di kota Alexandria, yang bermakna "lima
kitab", atau sebagai "Hukum", atau "Hukum Musa". Dalam
bahasa Yunani Pentateukh ("lima
wadah" atau "lima gulungan") tersebut adalah sebagai berikut:
Istilah bahasa Ibrani terhadap 5 (lima)
kitab tersebut mengikuti frasa pertama ayat pertama setiap kitab, yaitu:
1.
Bereshit (בְּרֵאשִׁית)
artinya “Pada Permulaan”
2.
Shemot (שִׁמוֹת)
artinya “Nama"
3.
Vayikra (ויקרא)
artinya "dan Dia memanggil"
4.
Bəmidbar (במדבר)
artinya "Dalam gurun [tempat]"
5.
Devarim (דברים)
artinya "Benda" atau "Kata-kata"
Sedangkan istilah bahasa Inggeris terhadap
5 (lima) kitab tersebut merupakan terbitan perkataan bahasa Yunani dan menggambarkan tema utama
setiap kitab:
1.
Genesis: "asal muasal"
2.
Exodus: "berlepas ke sesuatu tempat"
3.
Leviticus: merujuk kepada suku Lewi dan
peraturan berkaitan kehadiran serta tugas mereka.
4.
Numbers (Arithmoi): mengandungi rekaman
bilangan orang Israel yang sesat di Sinai dan kemudiannya di
kawasan dataran Moab.
5.
Deuteronomy: "undang-undang kedua,"
merujuk kepada pengulangan yang berkaitan dengan ketentuan-ketentuan Musa
sebelum kematiannya.
Selanjutnya, istilah dalam bahasa
Indonesia terhadap 5 (lima) kitab tersebut merupakan adopsi istilah yang
digunakan dalam bahasa Inggeris yang menggambarkan tema utama setiap kitab:
1.3.
PERBEDAAN
PENDAPAT MENGENAI HUKUM TAURAT
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa kata Ibrani “תורה” (baca: torah) diartikan sebagai "Taurat" yang dalam hal
ini "Hukum Taurat". Torah atau Hukum Taurat pada dasarnya mengandung
pengertian bukan hanya sebagai suatu ajaran atau hukum, tetapi lebih dari itu
yaitu merupakan suatu acuan praktis atau ajaran normatif bagi perilaku manusia
khususnya pada waktu itu adalah bangsa Israel.
Hukum Taurat adalah suatu kumpulan
hukum, arahan, pengajaran, instruksi, didikan dari Tuhan kepada manusia. Namun,
ada sebagian pendapat yang membedakan antara “Hukum Tuhan” dengan “Hukum Musa”.
Pendapat ini menjelaskan bahwa “Hukum Tuhan” adalah 10 Hukum dari Tuhan yang
diberikan kepada Musa di gunung Sinai, sedangkan hukum-hukum yang yang lain
seperti hukum yang mengatur tentang makanan dan minuman, moral, kutuk, berkat,
hari, dan sebagainya disebut “Hukum Musa”. Artinya bahwa ada 2 (dua) jenis
Hukum Taurat, yaitu “10 Hukum” sebagai Taurat Tuhan (Mazmur 19:8) dan
selebihnya merupakan “Taurat Musa”.
Adapun perbedaan antara “Hukum Taurat
Tuhan” dengan “Hukum Taurat Musa” menurut pendapat ini adalah sebagai berikut:
|
No
|
Hukum Taurat Tuhan
|
Hukum Taurat Musa
|
|
1
|
Disebut “Hukum Allah” (Keluaran 31:18; I Yohanes 3:4);
“Taurat Tuhan” (Mazmur 19:8); “Perintah Allah” (Matius 15:3; Wahyu 14:12)
atau “Pengajaran Tuhan” (Yesaya 5:24)
|
Disebut “Hukum Musa” atau “Hukum Taurat Musa” (Kisah Para
Rasul 13:39; 15:5; I Korintus 9:9; Yosua 8:31; Lukas 2:22)
|
|
2
|
Disebut “Hukum yang memerdekakan orang” (Yakobus 2:12)
|
Disebut hukum yang berisi peraturan-peraturan (Ibrani
9:10)
|
|
3
|
Diucapkan oleh Allah sendiri (Keluaran20:1-17; Ulangan
5:22)
|
Diberikan kepada Musa supaya dibacakan kepada bangsa
Israel (Imamat 1:1-3; Keluaran 24:3)
|
|
4
|
Disebut “hukum utama” (Yakobus 2:8)
|
Disebut “ketentuan” (Efesus 2:15; Kolose 2:14)
|
|
5
|
Ditulis oleh Tuhan di atas batu (Keluaran 31:18; 32:16)
|
Ditulis oleh Musa pada sebuah gulungan kitab (Ulangan
31:24-26; 2 Tawarikh 34:15; 35:12)
|
|
6
|
Dimasukkan / ditempatkan di dalam
Tabut atau ada di dalam Tabut Perjanjian (Keluaran 40:20)
|
Diletakkan di samping Tabut atau ada di luar Tabut
Perjanjian (Ulangan 31:26)
|
|
7
|
Dimaksudkan untuk menyatakan dosa atau mendefinisikan
dosa (Roma 7:7; 3:20; I Yohanes 3:4,8; Roma 4:15; Roma 5:13)
|
Dimaksudkan untuk menyatakan obat bagi
dosa, ditambahkan sesudah ada dosa (Yohanes 1:29; Ibrani 5:1; 8:4; Galatia
3:19)
|
|
8
|
Menghakimi semua orang (Yakobus 2:10-12; Pengkhotbah
12:13,14)
|
Mendakwa dan mengancam berat (Kolose 2:14)
|
|
9
|
Tidak berat (I Yohanes 5:3)
|
Tidak menghukum seorang pun atau tidak menghakimi
siapa-siapa (Kolose 2:16)
|
|
10
|
Bersifat Rohani (Roma 7:14)
|
Bersifat lahiriah / kedagingan (Ibrani 9:13) atau
bersifat manusiawi (Ibrani 7:16)
|
|
11
|
Membawa berkat / kebahagiaan (Amsal 29:18) dan
Ketenteraman (Mazmur 119:165)
|
Mengandung kutuk (Galatia 27:26; Ulangan 28:15-68;
29:20-21; Galatia 3:10)
|
|
12
|
Sempurna (Mazmur 19:8), suci, benar, dan baik (Ulangan
5:22; Roma 7:12)
|
Dapat berubah (Ibrani 7:12)
Hanya sementara karena berlaku hanya
sampai kedatangan Yesus Kristus (Kolose 2:14; Matius 27:51; Ibrani 8:13;
Efesus 2:15)
|
|
13
|
Kekal atau abadi dibentuk oleh Injil (Matius 5:17-19;
Roma 3:31; Lukas 16:17; Mazmur 19:8; 111:7,8)
|
Sama sekali tidak membawa kesempurnaan (Ibrani 7:18,19)
tidak mungkin menyempurnakan (Ibrani 10:1)
|
Walaupun demikian dalam surat-suratnya, Paulus biasa
menyebut sebagai Hukum Taurat saja baik untuk Taurat Tuhan maupun Taurat Musa.
Taurat Musa berisi peraturan upacara bangsa Israel. Semua korban-korban dalam
upacara bangsa Israel adalah bayangan dari Kristus. Korban-korban upacara itu
sudah digenapi oleh Yesus Kristus dan itulah yang dimaksudkan oleh Yesus dalam
Matius 5:17-18. Menurut pendapat ini, memperingati kegenapan korban-korban itu
dilakukan melalui Perjamuan Kudus. Sedangkan Taurat Tuhan tidak dihapuskan dan
masih berlaku sampai sekarang.
Lalu, bagaimana dengan umat Kristen saat ini ? Baik Hukum
Taurat yang disebut “Hukum Taurat Tuhan” maupun Hukum Taurat yang disebut
“Hukum Taurat Musa”, pada prinsipnya semua Hukum Taurat tersebut berasal dari
Tuhan sehingga sangatlah wajar apabila Rasul Paulus hanya menggunakan istilah
Hukum Taurat saja. Selain itu, telah diketahui bahwa Musa hanyalah perantara /
juru bicara Tuhan kepada bangsa Israel untuk menyampaikan hukum-hukumNya
sehingga Musa tidaklah menghasilkan Hukum Taurat sendiri, tetapi Hukum Taurat
Tuhanlah yang disampaikannya. Dengan demikian, maka tidak perlu membedakan
keduanya dalam arti Hukum Taurat hanyalah satu yaitu Hukum Taurat yang
diberikan Tuhan kepada manusia.
1.4.
PERANAN
HUKUM TAURAT
Hukum Taurat pada dasarnya merupakan hukum
moral yaitu suatu hukum yang membahas peraturan-peraturan Allah untuk hidup
kudus (Keluaran 20:1-17). Selain itu Hukum Taurat juga
merupakan hukum perdata karena
sebagian isinya adalah membahas kehidupan hukum dan sosial Israel sebagai
bangsa (Keluaran 21:1-23:33). Hukum Taurat juga merupakan hukum tata ibadah karena di dalamnya
mengandung juga bagaimana bentuk dan upacara penyembahan Israel kepada Tuhan
termasuk sistem persembahan korban (Keluaran 24:12-31:18).
Sejalan dengan hal tersebut, Hukum Taurat juga dapat dibedakan dalam 3
(tiga) kelompok, yaitu:
1. Hukum
Moral (Moral Law)
Moral Law atau hukum moral adalah menjadi
bagian dari hukum kodrati, hukum yang menjadi bagian dari kodrat manusia,
sehingga Rasul Paulus mengatakan “Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa
isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut
bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela” (Roma
2:15).
2.
Hukum Seremonial (Ceremonial
law)
Hukum ini merupakan ekspresi untuk
memisahkan sesuatu yang sakral dari yang duniawi yang juga berdasarkan prinsip
hukum kodrat, seperti: hukum persembahan, tentang kesakralan, proses penyucian
untuk persembahan, tentang makanan, pakaian, sikap, dan lain-lain.
3.
Hukum Yudisial (Judicial
Law)
Ini adalah merupakan suatu ketentuan
yang menetapkan hukuman (sangsi) sehingga peraturan dapat dijalankan dengan
baik. Oleh karena itu, maka peraturan ini sangat rinci, terutama untuk mengatur
hubungan dengan sesama, seperti: peraturan untuk penguasa, bagaimana
memperlakukan orang asing, dan lain-lain.
Oleh sebab itu, ada beberapa sifat dan fungsi Hukum Taurat yang menjadi
kegunaan dari Hukum Taurat itu sendiri, yaitu:
1.
Hukum Taurat diberikan dalam hubungan perjanjian yang
dibuat oleh Allah dengan umat-Nya, berisi ketentuan-ketentuan perjanjian yang
harus ditaati. Orang Israel secara formal menerima kewajiban-kewajiban
perjanjian ini (Keluaran 24:1-8).
2.
Ketaatan Israel kepada Hukum Taurat berlandaskan pada
kemurahan Allah yang menyelamatkan dan memerdekakan (Keluaran 19:4). Hukum Taurat diberikan setelah
bangsa Israel dimerdekakan dari perbudakan bangsa Mesir (Keluaran 20:2), dan sementara mereka hidup
sebagai “perantau” di bumi oleh kasih karunia Allah (Keluaran 19:4).
3.
Hukum Taurat merupakan pernyataan kehendak Allah
mengenai perilaku umat-Nya (Keluaran 19:4-6; 20:1-17;
21:1-24:8) dan menentukan persembahan darah untuk mengadakan pendamaian karena dosa
mereka (Imamat 1:5; 16:33). Hukum Taurat tidak direncanakan
sebagai suatu sarana untuk memperoleh keselamatan karena umat yang diberikan
Hukum Taurat sudah berada dalam hubungan yang selamat dengan Allah (Keluaran 20:2). Sebaliknya, melalui Hukum Taurat
mereka mengetahui apa yang dikehendaki Allah dalam pola kehidupan mereka. Orang
Israel diharapkan untuk mentaati Hukum Taurat oleh kasih karunia Allah supaya
memelihara dan merayakan hubungan iman dengan-Nya (Ulangan 28:1-2; 30:15-20).
4.
Kepercayaan kepada Allah dan Firman-Nya (Kejadian 15:6) dan kasih yang mendalam terhadap
Dia (Ulangan 6:5) menjadi landasan untuk mentaati
Hukum Taurat.
5.
Hukum Taurat menekankan kebenaran abadi bahwa ketaatan
kepada Allah dari hati yang penuh kasih
(Kejadian 2:9; Ulangan 6:5) akan menghasilkan kehidupan
berlimpah-limpah dan berkat-berkat yang berharga dari Tuhan (Ulangan 4:1,40; 5:33; 8:1; Mazmur 119:45; Roma 8:13; 1 Yohanes 1:7; Kejadian 2:16).
6.
Hukum Taurat mengungkapkan sifat dan sikap Allah,
yaitu kasih, kebaikan, keadilan, dan kebencian-Nya akan dosa. Orang Israel yang
percaya diharapkan untuk mentaati Hukum Taurat karena mereka telah diciptakan
menurut gambar-Nya (Imamat 19:2).
7.
Keselamatan tidak pernah dilandaskan pada kesempurnaan
dalam mentaati Hukum Taurat.
8.
Hukum Taurat bertindak sebagai pengawal umat Allah
sampai Kristus datang (Galatia 3:22-26). Perjanjian yang lama kini sudah
diganti dengan perjanjian yang baru; di dalamnya Allah telah menyingkapkan
seluruh rencana keselamatan-Nya melalui Yesus Kristus (Roma 3:24-26; Galatia 3:19).
9.
Hukum Taurat diberikan oleh Allah dan ditambahkan
kepada janji "karena
pelanggaran-pelanggaran" (Galatia 3:19); yaitu, hukum direncanakan dengan
maksud (a) mengatur tingkah laku, (b) menegaskan apa dosa itu, (c) menunjukkan
kepada Israel kecenderungan mereka untuk melanggar kehendak Allah dan melakukan
kejahatan, dan (d) membangkitkan kesadaran mereka akan perlunya pengampunan,
kasih karunia, dan penebusan Allah (Roma 3:20; 5:20; 8:2).
Selain itu, melakukan hukum taurat bertujuan agar manusia dapat berhasil
dan beruntung dalam perjalanan hidupnya. Dalam kitab Yosua 1:8, “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab
Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak
hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian
perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung”.
Ada beberapa prinsip dasar dalam
melakukan Hukum Taurat, yaitu:
·
Melakukan Hukum Taurat tidak boleh sebagian-sebagian.
”Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum
itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap
seluruhnya.” (Yakobus 2:10).
·
Pelanggaran Hukum Taurat adalah dosa.“Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar
juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.” (I Yohanes 3:4).
·
Upah pelanggaran Hukum Taurat adalah maut dan Hidup
Kekal merupakan Karunia Allah. “Sebab upah
dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus
Yesus, Tuhan kita.” (Roma 6:23)
Hal ini berarti bahwa pelanggaran
terhadap Hukum Taurat berakibat sangat fatal. Semua manusia telah berbuat dosa
dan oleh sebab itu semua manusia seyogianya telah binasa. Namun oleh kasih
karunia yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia, maka manusia mendapat
keselamatan. Hal ini berarti juga bahwa Hukum Taurat dimaksudkan agar manusia
menyadari bahwa mereka tidak mampu melakukan Hukum Taurat hanya dengan usaha
manusia itu sendiri. “Tetapi kita tahu,
bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka
yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh
dunia jatuh ke bawah hukuman Allah.” (Roma 3:19).
Tuhan sangat murka akan dosa. Itulah
sebabnya maksud hukum Taurat agar manusia datang kepada Tuhan. Hukum menunjuk
kepada Kristus, mengapa ? Karena di depan Hukum Taurat kita langsung merasa,
langsung tahu, tidak mampu, sehingga kita memerlukan Kristus. Hukum tak punya
kuasa untuk mengampuni pelanggar. Hukum sebagai cermin untuk menunjukan bahwa
kita berdosa. Hukum Taurat bertindak bagaikan cermin. Suatu cermin tidaklah
memperbanyak noda yang ada pada pakaian, namun menyatakan noda itu dengan lebih
jelas sehingga lebih banyak lagi yang dapat dilihat dengan mata. Suatu cermin
tidak digunakan untuk membersihkan noda di wajah, namun memberi tahu kalau ada
noda untuk dibersihkan.
Dengan demikian, maka Hukum Taurat
berfungsi sebagai dasar pemerintahan Tuhan (Mazmur 89 : 15), dasar untuk
menghakimi (Yakobus 2 : 12 dan 1 Yohanes 5: 3), sebagai cermin dosa (Roma 3:20,
Rom 4:15 dan Rom 7:7), Penuntun (Galatia
3:24), menghasilkan
kutuk (Galatia 3:13), dan penuntun sampai Kristus datang (Galatia 3:24). Hukum taurat bukan sebagai jalan untuk mendapatkan
keselamatan (Galatia 3:15-18),
Selain itu Hukum Taurat menunjukkan bahwa dosa
bukan saja bagian dari kondisi alamiah manusia, tetapi merupakan sebuah
pelanggaran hukum Allah (Roma 3;20; 5:13,20; 7:7,8,13). Itulah
sebabnya mengapa Paulus mengatakan, “Di
mana tidak ada Hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.” (Roma 4:15).
BAB II
AJARAN TUHAN YESUS
TENTANG HUKUM TAURAT
2.1.
YESUS DAN HUKUM TAURAT
Mengenai Yesus dan Hukum Taurat, dapat kita peroleh dari
kitab Matius 5:17-48 dengan ayat paralel terdapat dalam kitab Lukas 6:27-36.
(17) Janganlah kamu menyangka, bahwa
Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan
untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. (18) Karena Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau
satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya
terjadi. (19) Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat
sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia
akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa
yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan
menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. (20) Maka Aku berkata
kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan
ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke
dalam Kerajaan Sorga.
(21) Kamu telah mendengar yang
difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh
harus dihukum. (22) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah
terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir!
harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus
diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
(23) Sebab itu, jika engkau
mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu
yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, (24) tinggalkanlah persembahanmu
di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali
untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
(25) Segeralah berdamai dengan
lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu
itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau
kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. (26) Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau
membayar hutangmu sampai lunas.
(27) Kamu telah mendengar firman:
Jangan berzinah. (28) Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang
perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.
(29) Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah
itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada
tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. (30) Dan jika tanganmu yang
kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu
jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk
neraka.
(31) Telah difirmankan juga: Siapa
yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. (32) Tetapi Aku
berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah,
ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang
diceraikan, ia berbuat zinah.
(33) Kamu telah mendengar pula yang
difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan
peganglah sumpahmu di depan Tuhan. (34) Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah
sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,
(35) maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi
Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; (36) janganlah juga engkau
bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau
menghitamkan sehelai rambutpun. (37) Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika
tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari
si jahat.
(38) Kamu telah mendengar firman:
Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. (39) Tetapi Aku berkata kepadamu:
Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun
yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. (40) Dan kepada
orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga
jubahmu. (41) Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil,
berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. (42) Berilah kepada orang yang meminta
kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
(43) Kamu telah mendengar firman:
Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. (44) Tetapi Aku berkata
kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
(45) Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga,
yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan
menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (46) Apabila
kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut
cukai juga berbuat demikian? (47) Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada
saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain?
Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? (48) Karena itu
haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah
sempurna."
Dalam nats tersebut di atas, Tuhan
Yesus secara tegas mengatakan bahwa kedatanganNya bukanlah untuk meniadakan
hukum Taurat dan kitab para nabi tetapi justru untuk menggenapinya. Hal ini
perlu dicermati secara mendalam karena sebagian pendapat mengatakan bahwa
dengan iman kepada Tuhan Yesus Kristus maka hukum Taurat tidak berlaku lagi.
Bahkan akhir-akhir ini sudah ada sebagian gereja yang ‘mengabaikan’ hukum
Taurat dengan mengatakan bahwa hukum Taurat hanya berlaku bagi orang Yahudi dan
merupakan bagian terpenting dari agama Yahudi. Pendapat demikian sangatlah
menyesatkan karena Tuhan Yesus sendiri sebagai Imam Besar dan Juruselamat dunia
menegaskan bahwa kedatanganNya bukan untuk meniadakan hukum Taurat. Bahkan
secara tegas Tuhan Yesus mengatakan bahwa “Sesungguhnya
selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak
akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi”. Ini
menunjukkan bahwa hukum Taurat berlaku terus sampai semuanya tergenapi, dan
kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini adalah merupakan penggenapan hukum Taurat.
Ada hubungan antara "iota" (ιωτα, baca:iôta) dengan “semuanya terjadi”. Ia
berkata "satu iota-pun tidak akan dibatalkan sebelum semuanya
terjadi", Maksud dari "semuanya terjadi" ini adalah berkaitan
dengan hal-hal yang akan segera digenapi oleh Tuhan Yesus Kristus, yaitu
kematianNya dan kebangkitanNya yang dengan sendirinya akan menggenapi Hukum
Taurat. Kata "ditiadakan" yang dalam bahasa Yunani “παρελθη”
(baca:parelthê) dari kata “παρερχομαι” (baca: parerkhomai) adalah kata yang sama dengan lenyap. Kata "semuanya
terjadi" dalam bahasa Yunani "γενηται”
(baca: genêtai) berasal dari kata “γινομαι” (baca: ginomai) suatu kata yang sering dipergunakan oleh Matius
untuk sesuatu yang terjadi sebagai penggenapan nubuat.
Tidak ada seorangpun yang boleh
meniadakan salah satu hukum Taurat sekalipun yang paling kecil. Justru Tuhan
Yesus mengatakan bahwa “Jika hidup
keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan
orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”.
Mengapa demikian ? Karena para ahli-ahli Taurat dan orang Farisi dalam
melakukan hukum Taurat sudah melenceng dari tujuan pemberian hukum Taurat itu
sendiri. Ketika Tuhan Yesus membandingkan hukum Taurat pada murid Tuhan
sejati dengan para ahli Taurat sesungguhnya Ia hendak menunjukkan bahwa para
ahli Taurat melakukannya melakukan hukum Taurat hanya sebatas formalitas. Itu membuat hukum Taurat
begitu kelihatan kaku, tidak menyentuh kehidupan manusia. Seharusnya hukum
Taurat menghidupkan dan menumbuhkan kesadaran penuh akan keilahian dalam hidup
setiap anak Tuhan. Kesempurnaan Yesus justru karena Ia melakukan hukum Taurat
dalam kehidupanNya.
Jadi, dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa secara jelas
Tuhan Yesus Kristus menyampaikan pernyataan bahwa: (1) Ajaran yang
disampaikanNya tidak bertentangan dengan hukum Taurat, (2) AjaranNya tidak akan
mengubah sedikitpun dari hukum Taurat (3) Adanya peringatan bagi orang yang
mengabaikan hukum Taurat sekecil apapun (4) Yesus mengajarkan kepada para
pengikutnya agar melaksanakan hukum Taurat lebih benar dibandingkan ahli-ahli
Taurat dan kaum Farisi.
Lalu apa yang dimaksud dengan 'menggenapi' hukum Taurat? Apabila hukum
Taurat bersifat perbuatan lahiriah dan dimengerti secara harafiah, maka hukum
kasih bersifat rohaniah dan tertulis dalam hati seseorang dan bukan diukur
dengan ritual yang kelihatan di luarnya tetapi lebih karena motivasi dalam
hati. Yesus pernah mengecam para ahli Taurat ketika ada pertanyaan yang
ditujukan kepadaNya: "mengapa
murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek-moyang kita? Mereka tidak membasuh
tangan sebelum makan." Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "mengapa
kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek-moyangmu?"
(Matius 15:2-3). Menggenapi berarti membuka selubung Taurat yang selama ini
membuat para pengikutnya tidak bisa melihat makna sebenarnya dari hukum itu.
Jadi menggenapi bukan meniadakan tetapi mengembalikan kepada pengertian hakiki
hukum yang sebenarnya. Mengutip surat Yesaya, Yesus bersabda: "Bangsa ini memuliakan Aku dengan
bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku,
sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah
kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia." (Markus
7:6-8).
Kalau diperhatikan ajaran Tuhan Yesus sebagaimana dalam
nats tersebut di atas, dapat diketahui bahwa ajaranNya tersebut memiliki pola
penyampaian yang sama, yaitu pertama disebutkan apa bunyi hukum Tauratnya, lalu
Tuhan Yesus menyampaikan ajarannya yang menyentuh aspek rohani. Ketika Yesus
menyebut aturan membunuh, beliau melanjutkannya dengan kata marah, ketika Tuhan
Yesus menyampaikan hukum berzinah, dilanjutkan dengan ajaran nafsu yang
bersemayam dalam hati, ketika beliau menyatakan hukum mata ganti mata
dilanjutkan dengan ajaran tentang kasih, juga suatu yang terkait erat dengan
rohani. Itulah yang dimaksud Tuhan Yesus dengan kata “menggenapi hukum Taurat”,
selain kedatanganNya sendiri merupakan “kegenapan dari hukum Taurat”. Secara
awam, bisa dijelaskan kata “menggenapi” tersebut: apabila ingin menggenapi
angka sembilan menjadi sepuluh, maka dalam angka sembilan tersebut ditambahkan
satu angka, sehingga genap menjadi sepuluh, dimana dalam angka sepuluh tersebut
terdapat unsur angka sembilan. Jadi, apabila Tuhan Yesus menyatakan menggenapi
hukum Taurat, artinya semua aturan hukum Taurat tetap dijalankan dan “ditambah”
dengan unsur keimanan bahwa pelaksanaan hukum tersebut semata-mata atas dasar
kepatuhan kepada Tuhan, sesuatu yang tidak dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan
orang-orang Farisi pada waktu itu.
Salah satu isi hukum Taurat adalah
“jangan membunuh”. Tuhan Yesus mengatakan bahwa “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang
berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa
yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala”. Artinya
bahwa “membunuh” bukan hanya mengandung pengertian “membunuh secara harafiah”,
tetapi tindakan marah, mengatakan kafir dan jahil kepada sesama manusia sama
dengan membunuh. Pengertian seperti
inilah yang merupakan esensi dari hukum Taurat.
Dalam nats ini juga Tuhan Yesus
menegaskan bahwa sebelum manusia berdamai dengan Allah, harus terlebih dahulu
berdamai dengan sesama manusia. Hal ini sejalan dengan doa yang pernah diajarkanNya
“dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Matius 6:12;
Lukas 11:4a)
Mengenai hukum Taurat yang
mengatakan “jangan berzinah”, pengertiannya lebih diperjelas dengan ungkapan
Tuhan Yesus, “Setiap orang yang memandang
perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya”.
Tentang perceraian yang dalam hukum
Taurat ‘seperti’ diperbolehkan menurut pandangan para ahli Taurat dan orang
Farisi asalkan diberikan surat cerai, Tuhan Yesus menegaskan bahwa “setiap orang yang menceraikan isterinya
kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin
dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah”.
Tentang bersumpah yang dalam hukum
Taurat ‘seperti’ diperbolehkan asalkan sumpah itu bukanlah sumpah palsu, Tuhan
Yesus menegaskan bahwa “Janganlah
sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,
maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena
Yerusalem adalah kota Raja Besar;
janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak
berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. Jika ya, hendaklah
kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih
dari pada itu berasal dari si jahat”.
Tentang pembalasan perbuatan jahat
sesama, Tuhan Yesus menegaskan bahwa “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat
jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga
kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena
mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau
berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah
kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau
meminjam dari padamu”.
Bahkan lebih dari itu, Tuhan Yesus
mengatakan: “Kasihilah musuhmu dan
berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu
menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang
yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan
orang yang tidak benar”.
Itulah beberapa hal ajaran Tuhan Yesus
yang berkaitan dengan hukum Taurat. Lalu, dengan dasar apakah orang beriman
‘mengabaikan’ hukum Taurat. Bukankah Tuhan Yesus sendiri menegaskan bahwa
kedatanganNya bukanlah untuk meniadakan hukum Taurat tetapi justru
menggenapinya ? Dalam ajaranNya justru Tuhan Yesus meluruskan dan bahkan
memperdalam makna setiap ‘perintah’ dalam hukum Taurat. Hukum Taurat yang
sebelumnya dimaknai secara harafiah, justru dalam ajaranNya Tuhan Yesus
memberikan ‘makna sebenarnya’ atau esensi dari hukum Taurat itu sendiri.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa
ajaran Tuhan Yesus tidaklah bertentangan dengan hukum Taurat. Bahkan
kedatanganNya bukan untuk meniadakan hukum Taurat sebab hukum Taurat itu
barulah tidak berlaku apabila (a). Langit dan bumi ini sudah lenyap dan (b). Semuanya
sudah terjadi atau digenapi.
2.2.
PENGAJARAN SESAT
Mengenai Pengajaran Sesat, dapat dilihat dalam kitab Matius
7:15-23 yang paralel dengan Lukas
11:9-13:
(15)
Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar
seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. (16) Dari
buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari
semak duri atau buah ara dari rumput duri? (17) Demikianlah setiap pohon yang
baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan
buah yang tidak baik. (18) Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah
yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.
(19) Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang
dan dibuang ke dalam api. (20) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
(21) Bukan
setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan
Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (22) Pada
hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami
bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak
mujizat demi nama-Mu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang
kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari
pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
Nats ini menegaskan bahwa bukan
setiap orang yang berseru kepada Tuhan yang akan masuk ke dalam kerajaan Surga
tetapi setiap orang yang melakukan kehendak Allah. Dari “buahnyalah” seseorang itu diketahui apakah memang orang
tersebut dikategorikan orang percaya atau tidak. Dari tindakan dan perbuatan
melakukan kehendak Allah seseorang dapat masuk ke dalam kerajaan surga. Apa itu
kehendak Allah ? Kehendak Allah dapat diketahui dari segala yang telah
difirmankanNya kepada manusia termasuk hukum Taurat.
2.3.
HAL BERPUASA
Mengenai Puasa, dapat dilihat dalam
kitab Matius 9:14-17 yang paralel dengan Markus 2:18-22 dan Lukas 5:33-39
sebagai berikut:
(14) Kemudian datanglah murid-murid
Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa,
tetapi murid-murid-Mu tidak?" (15) Jawab Yesus kepada mereka:
"Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai
itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari
mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. (16) Tidak seorangpun
menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika
demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah
koyaknya. (17) Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong
kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu
terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang
dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah
kedua-duanya."
Dalam nats tersebut di atas Tuhan Yesus
tidak mengatakan bahwa Puasa tidak berlaku lagi. Tetapi selama Dia masih
bersama-sama dengan murid-muridNya puasa tidaklah diperlukan. Hanya saja,
setelah Dia tidak bersama-sama lagi dengan mereka barulah puasa dijalankan. Hal
ini dapat diartikan bahwa pada prinsipnya Puasa ditujukan kepada Allah dan
bukan sebagai kegiatan formalitas atau legalitas status keagamaan apalagi agar
dilihat oleh orang lain. Tuhan Yesus dalam berbagai kesempatan mengatakan agar
apabila melakukan puasa janganlah ada orang yang tahu, karena puasa bukanlah
untuk ditunjukkan kepada manusia tetapi puasa berorientasi kepada Allah. Jadi,
untuk apa para murid melakukan puasa yang berorientasi kepada Tuhan sementara
Tuhan sendiri masih bersama-sama dengan mereka? Bukankah apabila seseorang menambalkan secarik kain
yang belum susut pada baju yang tua, maka kain penambal itu akan mencabik baju
itu sehingga semakin besar koyaknya atau anggur yang baru apabila diisikan ke
dalam kantong kulit yang tua maka kantong itu akan koyak sehingga anggur itu
terbuang dan kantong itupun hancur ?
Jadi, bagi orang Kristen puasa tetap berlaku dengan
syarat muka tidak muram seperti orang munafik
supaya kelihatan bahwa mereka sedang berpuasa. Apabila hal itu dilakukan
maka mereka sudah mendapat upah dengan mendapat pujian dari orang yang melihat
atau paling tidak orang lain mengetahui dan mengakui bahwa orang tersebut
sedang menjalankan ibadah puasa, itulah upahnya. Tetapi apabila melakukan puasa tidak diketahui
oleh orang lain maka Allah yang berada di tempat tersembunyi akan melihatnya
dan upah puasa itu akan diberikanNya.
2.4.
HARI SABAT
2.4.1.
MURID YESUS MEMETIK GANDUM PADA HARI SABAT
Mengenai Hari Sabat dapat dilihat dalam
kitab Matius 12:1-8 yang paralel dengan Markus 2:23-28 dan Lukas 6:1-5 sebagai
berikut:
(1) Pada waktu itu, pada hari Sabat,
Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-murid-Nya memetik bulir
gandum dan memakannya. (2) Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi
kepada-Nya: "Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak
diperbolehkan pada hari Sabat." (3) Tetapi jawab Yesus kepada mereka:
"Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang
mengikutinya lapar, (4) bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan bagaimana
mereka makan roti sajian yang tidak boleh dimakan, baik olehnya maupun oleh
mereka yang mengikutinya, kecuali oleh imam-imam? (5) Atau tidakkah kamu baca
dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat
di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah? (6) Aku berkata kepadamu: Di sini
ada yang melebihi Bait Allah. (7) Jika memang kamu mengerti maksud firman ini:
Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak
menghukum orang yang tidak bersalah. (8) Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas
hari Sabat."
Nats di atas
merupakan jawaban Tuhan Yesus terhadap sikap orang-orang Farisi yang
mempertanyakan mengapa murid-murid Tuhan Yesus diperbolehkan memetik bulir
gandum pada hari Sabat. Dalam nats tersebut, ada 2 (dua) analog yang
disampaikan Tuhan Yesus yaitu apa yang dilakukan Daud dan apa yang dilakukan
imam-imam di Bait Allah pada hari Sabat.
Daud pada saat
sampai ke Nob kepada Ahimelekh seorang imam, meminta makanan. Tetapi saat itu
tidak ada roti biasa, yang ada hanyalah roti kudus yang biasa diangkat orang
dari hadapan Tuhan pada setiap hari sabat, supaya pada hari roti itu diambil,
ditaruh lagi roti baru. Dalam keadaan ‘insidensial’ seperti itu, Ahimelekh
memberikan roti itu kepada Daud beserta pengikutnya. Padahal hanya keturunan
Harun atau para imam-imamlah yang boleh makan roti itu.
Demikian juga para
iman setiap hari Sabat melakukan kegiatan berupa pengolahan dua ekor domba
berumur setahun yang tidak bercela, dan dua persepuluh efa tepung yang terbaik
sebagai korban sajian serta dengan korban curahannya.
Jawaban Tuhan
Yesus itu menunjukkan bahwa menguduskan hari Sabat bukan berarti tidak boleh
melakukan kegiatan apapun sebagaimana yang dipercayai oleh orang-orang Farisi. Murid-murid
Tuhan Yesus memetik bulir gandum pada hari Sabat karena mereka lapar.
Pengudusan hari Sabat yang dilakukan orang-orang Farisi lebih cenderung
bersifat kaku dalam pelaksanaannya, di lain pihak tanpa mereka sadari, para
imam tetap bekerja pada hari Sabat dalam hal menyiapkan korban sajian bagi
Tuhan.
Hal lain yang
lebih penting adalah bahwa analog yang disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam nats
tersebut di atas berkaitan dengan korban persembahan manusia kepada Tuhan yang
merupakan upaya manusia untuk berdamai dengan Tuhan. Di lain pihak, Tuhan Yesus
sendiri adalah korban yang telah dipersiapkan Allah untuk menebus dosa manusia
dan menjadi “jalan satu-satunya” untuk berdamai dengan Allah. Maka pada ayat
berikutnya Tuhan Yesus menegaskan bahwa Ia melebihi Bait Allah dan Dia adalah Tuhan
atas hari Sabat.
Jika demikian, maka jelaslah bahwa
pola pikir orang-orang Farisi selama ini mengenai persembahan korban setiap
hari Sabat sebagai jalan untuk berdamai dengan Allah haruslah berubah. Menerima
Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan Penebus merupakan hal yang baru sehingga
tidak diperlukan lagi korban persembahan yang dilakukan setiap hari Sabat di
Bait Allah. Selain itu, menguduskan hari Sabat bukan berarti tidak
diperbolehkan melakukan tindakan apapun. Melakukan tindakan yang ditujukan
kepada Tuhan, berbuat baik, melakukan tindakan yang bersifat ‘insidensial’
tidaklah bertentangan dengan hukum Taurat mengenai pengudusan hari Sabat.
2.4.2.
YESUS MENYEMBUHKAN ORANG PADA HARI SABAT
Mengenai Hari Sabat juga dapat dilihat
dalam kitab Matius 12:9-15a yang paralel dengan Markus 3:1-6 dan
Lukas 6:6-11 sebagai berikut:
(9) Setelah pergi dari sana, Yesus
masuk ke rumah ibadat mereka. (10) Di situ ada seorang yang mati sebelah
tangannya. Mereka bertanya kepada-Nya: "Bolehkah menyembuhkan orang pada
hari Sabat?" Maksud mereka ialah supaya dapat mempersalahkan Dia. (11)
Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Jika seorang dari antara kamu
mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat,
tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya? (12) Bukankah manusia jauh
lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari
Sabat." (13) Lalu kata Yesus kepada orang itu: "Ulurkanlah
tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka pulihlah tangannya itu, dan menjadi
sehat seperti tangannya yang lain. (14) Lalu keluarlah orang-orang Farisi itu
dan bersekongkol untuk membunuh Dia. (15a). Tetapi Yesus mengetahui
maksud mereka lalu menyingkir dari sana.
Nats tersebut di atas semakin
mempertegas ajaran Tuhan Yesus mengenai hari Sabat. “Boleh berbuat baik pada hari Sabat”, demikian jawaban Tuhan Yesus
ketika dipertanyakan kepadaNya apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat.
2.5.
PERINTAH ALLAH DAN ADAT ISTIADAT YAHUDI
Mengenai Perintah Allah dan Adat
Istiadat Yahudi dapat dilihat dalam kitab Matius 15:1-20 yang paralel dengan
Markus 7:1-23 sebagai berikut:
(1) Kemudian datanglah beberapa
orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: (2)
Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak
membasuh tangan sebelum makan. (3) Tetapi jawab Yesus kepada mereka:
"Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek
moyangmu? (4) Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi:
Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. (5) Tetapi kamu
berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada
padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk
persembahan kepada Allah, (6) orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya
atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat
istiadatmu sendiri. (7) Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang
kamu:
(8) Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal
hatinya jauh dari pada-Ku.
(9) Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan
ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."
(10) Lalu Yesus memanggil orang
banyak dan berkata kepada mereka: (11) Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk
ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah
yang menajiskan orang.
(12) Maka datanglah murid-murid-Nya
dan bertanya kepada-Nya: "Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi
batu sandungan bagi orang-orang Farisi?" (13) Jawab Yesus: "Setiap
tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya.
(14) Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika
orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang."
(15) Lalu Petrus berkata kepada-Nya:
"Jelaskanlah perumpamaan itu kepada kami." (16) Jawab Yesus:
"Kamupun masih belum dapat memahaminya? (17) Tidak tahukah kamu bahwa
segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di
jamban? (18) Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah
yang menajiskan orang. (19) Karena dari hati timbul segala pikiran jahat,
pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. (20)
Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh
tidak menajiskan orang."
Nats di atas merupakan dialog antara
Tuhan Yesus dengan orang Farisi dan ahli Taurat karena murid-murid Tuhan Yesus
tidak membasuh tangan sebelum makan. Dalam dialog tersebut secara jelas
terungkap bahwa orang Yahudi telah melanggar perintah Tuhan demi adat istiadat
nenek moyang mereka. Orang Yahudi lebih mengutamakan adat istiadat yang
merupakan ajaran manusia daripada perintah Tuhan.
Pada awalnya hukum Taurat merupakan nafas Perjanjian Lama yang diterima
oleh Musa dan diberitakan oleh para nabi yang ditujukan kepada bangsa Israel /
Yahudi. Namun, bagi umat Israel / Yahudi, hukum itu berangsur-angsur membeku
menjadi ritual kaku yang bukan melayani Tuhan tetapi melayani kepentingan
manusia dan menjadi adat istiadat manusia. Tuhan Yesus berfirman: "Mengapa kamupun melanggar perintah
Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” Di lain pihak, kedatangan Yesus
Kristus ke dunia ini adalah untuk memerdekakan manusia dari kutukan hukum
Taurat dan membawa manusia kepada penggenapan hukum Taurat dalam bentuk Injil.
Injil Anugerah tidak menggantikan hukum Taurat, tetapi menggenapi hukum Taurat
dengan memberi pengertian yang lebih mendalam lagi sehingga terjadi kepenuhan
dalam hubungan iman umat dengan Tuhannya.
Selain itu dalam nats di atas Tuhan
Yesus menegaskan bahwa “bukan yang masuk ke dalam mulut yang
menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan
orang” Apa yang
keluar dari mulut berasal dari hati sementara dari hati timbul segala pikiran
jahat dan itulah yang menajiskan orang. Dalam hal ini, Tuhan Yesus lebih
menekankan pada aspek kesesuaian hati, perkataan dan perbuatan.
2.6.
ORANG MUDA YANG KAYA
Mengenai Orang Muda yang Kaya dapat
dilihat dalam kitab Matius 19:16-26 yang paralel dengan Markus 10:17-27 dan
Lukas 18:18-27 sebagai berikut:
(16) Ada seorang datang kepada
Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat
untuk memperoleh hidup yang kekal?" (17) Jawab Yesus: "Apakah
sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik.
Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah
Allah." (18) Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?"
Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan
mengucapkan saksi dusta, (19) hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah
sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (20) Kata orang muda itu
kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih
kurang?" (21) Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna,
pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin,
maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah
Aku." (22) Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia
dengan sedih, sebab banyak hartanya.
(23) Yesus berkata kepada murid-murid-Nya:
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk
masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (24) Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih
mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke
dalam Kerajaan Allah." (25) Ketika murid-murid mendengar itu, sangat
gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat
diselamatkan?" (26) Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia
hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin."
Nats di atas berkaitan dengan perbuatan
apa yang dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Tuhan Yesus secara tegas
mengatakan bahwa “jikalau engkau ingin masuk ke dalam
hidup, turutilah segala perintah Allah." Walaupun demikian, mentaati segala
hukum Taurat seperti yang sudah dilakukan oleh orang tersebut tidaklah cukup.
Untuk menjadi lebih sempurna maka harus meninggalkan segala hal yang bersifat
duniawi – harta di surga lebih penting daripada harta di dunia – dan mengikut
Tuhan Yesus.
2.7.
HUKUM YANG TERUTAMA
Mengenai Hukum yang Terutama dapat
dilihat dalam kitab Matius 22:34-40 yang paralel dengan Markus 12:28-34 dan
Lukas 10:25-28 sebagai berikut:
(34) Ketika orang-orang Farisi
mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam,
berkumpullah mereka (35) dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya
untuk mencobai Dia: (36) Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?
(37) Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap
hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (38) Itulah
hukum yang terutama dan yang pertama. (39) Dan hukum yang kedua, yang sama
dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (40) Pada
kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
Nats di atas merupakan nats
fenomenal mengenai ajaran Tuhan Yesus tentang hukum Taurat. Ajaran Tuhan Yesus
mengenai hukum Taurat adalah bahwa Kasih merupakan inti dari seluruh hukum
Taurat dan kitab para nabi. Ada 2 (dua) hukum Kasih yang diajarkan Tuhan Yesus,
yaitu:
1. Mengasihi Tuhan, Allah, dengan
segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi
2. Mengasihi sesama manusia seperti
diri sendiri
2.8.
YESUS MENGECAM AHLI-AHLI TAURAT DAN ORANG-ORANG
FARISI
Mengenai Yesus mengecam ahli-ahli Taurat
dan orang-orang Farisi dapat dilihat dalam kitab Matius 23:1-36 yang paralel
dengan Markus 12:38-40 dan Lukas 11:37-54, 20:45-47 sebagai berikut:
(1) Maka berkatalah Yesus kepada
orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: (2) Ahli-ahli Taurat dan
orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. (3) Sebab itu turutilah dan
lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu
turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak
melakukannya. (4) Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas
bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. (5) Semua pekerjaan
yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali
sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; (6) mereka suka duduk di tempat
terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; (7) mereka
suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. (8) Tetapi kamu,
janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah
saudara. (9) Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena
hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. (10) Janganlah pula kamu disebut
pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. (11) Barangsiapa terbesar
di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. (12) Dan barangsiapa
meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan
ditinggikan.
(13) Celakalah kamu, hai ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu
menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak
masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.
(14) (Celakalah kamu, hai ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan
rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang
panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.)
(15) Celakalah kamu, hai ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu
mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja
menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka,
yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.
(16) Celakalah kamu, hai
pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu
tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. (17) Hai
kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas
atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? (18) Bersumpah demi mezbah, sumpah
itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah
itu mengikat. (19) Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting,
persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? (20) Karena itu
barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi
segala sesuatu yang terletak di atasnya. (21) Dan barangsiapa bersumpah demi Bait
Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. (22)
Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga
demi Dia, yang bersemayam di atasnya.
(23) Celakalah kamu, hai ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan
dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam
hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.
Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (24) Hai kamu
pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta
yang di dalamnya kamu telan.
(25) Celakalah kamu, hai ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan
pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan
dan kerakusan. (26) Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah
dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.
(27) Celakalah kamu, hai ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama
seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih
tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai
jenis kotoran. (28) Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar
di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.
(29) Celakalah kamu, hai ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu
membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh (30) dan
berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut
dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. (31) Tetapi dengan demikian kamu
bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh
nabi-nabi itu. (32) Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! (33) Hai kamu
ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat
meluputkan diri dari hukuman neraka? (34) Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus
kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di
antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di
rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, (35) supaya kamu
menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel,
orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di
antara tempat kudus dan mezbah. (36) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!"
Ada beberapa poin penting yang disampaikan
Tuhan Yesus kepada murid-muridnya dalam nats tersebut di atas, antara lain
bahwa para murid Tuhan Yesus harus
menuruti dan melakukan segala sesuatu yang diajarkan oleh ahli-ahli Taurat dan
orang-orang Farisi tetapi tidak menuruti perbuatan-perbuatan mereka. Pernyataan
ini disampaikan kepada murid-muridnya karena ahli-ahli Taurat dan orang Farisi
mengajarkan hal yang baik tetapi tidak melakukannya. Semua pekerjaan yang
ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi lakukan hanya dimaksud supaya dilihat
orang.
Dengan kata lain bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang
Farisi adalah orang yang menjalankan hukum Taurat bukan demi keimaman, bukan
dengan hati yang benar-benar tunduk kepada Tuhan melainkan untuk kepentingan
keuntungan pribadi, banyak kalimat perumpamaan Tuhan Yesus yang menggambarkan
hal ini. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu
orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya, semua pekerjaan yang
mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang, mereka suka menerima
penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Semua pernyataan Tuhan Yesus
tersebut menggambarkan sekalipun ritual peribadatan dan aturan hukum Taurat
dilaksanakan, tapi ajaran tersebut dilakukan untuk kepentingan mereka sendiri.
Berdasarkan hal tersebut, Tuhan Yesus mengajarkan kepada
para pengikutnya agar hidup keagamaanya lebih benar yang berarti bahwa tetap
menjalankan hukum Taurat namun dengan dasar keimanan dan kepatuhan kepada
Tuhan, bukan demi mendapat penghormatan dari orang lain, demi keuntungan
pribadi atau karena kemunafikan.
Selain itu ada beberapa kecaman yang
disampaikan Tuhan Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena
kemunafikan mereka, yaitu: mengabaikan yang terpenting dari hukum Taurat, yaitu
keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Kesalahan orang lain sekecil apapun
mereka tahu tetapi kesalahan mereka sebesar apapun tidak mereka ketahui; lebih
mementingkan kebersihan secara lahiriah daripada secara batiniah, padahal
apabila batiniah sudah bersih maka lahiriah juga akan bersih, secara lahiriah
mereka tampak benar di mata orang tetapi dalam hatinya penuh kemunafikan dan
kedurjanaan, membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh
yang telah dibunuh oleh nenek moyang mereka. Mereka tidak akan luput dari
hukuman neraka karena nenek moyang mereka telah membunuh nabi-nabi dan
orang-orang saleh.
2.9.
KESIMPULAN MENGENAI AJARAN YESUS TENTANG HUKUM
TAURAT
Dari beberapa nats di atas, maka ada beberapa isu penting
yang merupakan ajaran Tuhan Yesus sebagai ‘penggenapan’ hukum Taurat
sebagaimana dirangkum berikut ini.
Secara tegas Tuhan Yesus mengatakan
bahwa kedatanganNya bukanlah untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi
tetapi justru untuk menggenapinya. Hukum Taurat tetap berlaku sampai (a). Langit dan bumi lenyap dan (b).
semuanya sudah terjadi atau digenapi. Oleh sebab itu setiap orang harus
melakukan hukum Taurat yang lebih benar daripada ahli-ahli Taurat dan
orang-orang Farisi agar masuk ke dalam kerajaan sorga.
Selain itu, dalam ajaran Tuhan Yesus
mengenai hukum Taurat, Tuhan Yesus mendefenisikan beberapa hukum Taurat secara
benar sehingga pola pikir ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi selama ini
diluruskan kembali oleh Tuhan Yesus. Hal-hal tersebut adalah mengenai membunuh,
berdamai dengan Allah, berzinah, perceraian suami isteri, sumpah, pembalasan
perbuatan jahat sesama, dan mengasihi musuh.
Tuhan Yesus juga dalam ajarannya
memperingatkan agar para muridNya tidak terbuai dengan kata-kata manis dari
orang lain tetapi dari ‘buah’ atau perbuatanlah seseorang itu dinilai baik atau
tidak dan bukan dari perkataannya.
Tuhan Yesus juga dalam ajarannya
mengenai hukum Taurat meluruskan pemaknaan puasa, hari Sabat, dan sikap orang
Yahudi yang lebih mengutamakan adat istiadat daripada perintah Tuhan.
Akhirnya Tuhan Yesus menyampaikan
hukum baru sebagai inti dari segalah hukum Taurat dan kitab para nabi, yaitu
HUKUM KASIH, yaitu: mengasihi Tuhan, Allah, dengan segenap hati dan dengan
segenap jiwa dan dengan segenap akal budi; dan mengasihi sesama manusia seperti
diri sendiri.
Pada bagian lain, Tuhan Yesus
menyuruh para muridnya untuk mentaati ajaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang
Farisi tetapi tidak menuruti perbuatan-perbuatan mereka karena lain perkataan
mereka dengan perbuatan mereka, lain lahiriah dengan batiniah. Bahkan hal yang
terpenting dari hukum Taurat yaitu keadilan, belas kasihan dan kesetiaan telah
diabaikan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dan mereka tidak akan
luput dari hukuman karena dosa nenek moyang.
Dalam sejarah kehidupanNya, Tuhan Yesus semasa masih bayi dibawa ke bait
Allah di Yerusalem, disunat pada hari kedelapan dan
menjalani ritual pentahiran dan penyerahan anak sulung (Lukas 2:21-24), dan pada umur 12 tahun la kembali
diajak oleh kedua orang tuanya untuk pergi ke Yerusalem merayakan hari raya
Paskah sebagai peringatan keluarnya orang Israel dari perbudakan di Mesir
(Lukas 2:41-42). Namun, apakah itu berarti bahwa setelah Tuhan Yesus mulai
mengajar, ajaranNya adalah ajaran Yahudi yang berpusat pada hukum Taurat?
Sekalipun berlatar belakang agama Yahudi, sejak awal Tuhan Yesus sudah
melakukan perubahan. Tuhan Yesus sudah menunjukkan suatu ritual baru yaitu la
dibaptiskan oleh Yohanes (Lukas 3:21-22), suatu ritual baru yang tidak ada
dalam ibadah agama Yahudi selain adat basuhan.
Selanjutnya, di Nazaret Tuhan Yesus yang semula masih datang pada hari
Sabat (Lukas 4:16,31), di sinilah Ia menyatakan diri sebagai Mesias yang
diurapi, suatu penggenapan nubuatan perjanjian lama melalui pembacaan surat
nabi Yesaya (Lukas 4:18-19). Ini menunjukkan bahwa sejak awal pelayanannya di
bumi ini Tuhan Yesus sudah membedakan diri dari agama Yahudi. Ia yang bukan
ahli kitab dan keturunan imam, tetapi bisa mengajar di sinagoge (tempat ibadah
umat Yahudi), dan bahkan Tuhan Yesus tidak lagi memusatkan pengajarannya di
sinagoge sebagaimana tradisi agama Yahudi pada waktu itu, tetapi Tuhan Yesus
mulai mengajar di banyak tempat, di tepi pantai, di pasar, di rumah jemaat,
bahkan termasuk di atas Bukit (Matius 5-7). Injil yang dihadirkan bukan sebagai
perintah yang memberatkan seperti yang terjadi dalam agama Yahudi yang secara
ketat diawasi oleh para imam agama, tetapi Tuhan Yesus merupakan anugerah
kepada umat manusia. Itulah sebabnya maka Tuhan Yesus beserta ajaranNya ditolak
mentah-mentah oleh orang Yahudi dan marah kepada-Nya bahkan la akan dilemparkan
dari atas tebing (Lukas 4:28-29). Selanjutnya Tuhan Yesus mulai mengadakan
banyak mujizat sebagai penggenapan Yesaya 61:1-2 (Lukas 4:18-19) dimana la
membebaskan banyak orang dari belenggu penyakit dan kerasukan setan. Yesus
telah memberikan gambaran ibadah ritual yang baru, misalnya pandangannya
mengenai hari Sabat bahwa Sabat bukan lagi ritual yang memberatkan, tetapi
Sabat adalah suatu aksi yang membebaskan umat, karena Dia sendirilah Tuhan atas
hari Sabat.
Selanjutnya dengan mengumpulkan 12 (dua belas) murid, Tuhan Yesus telah
membuka era pelayanan baru yang selama ini hanya berpusat pada pelayanan para
Imam yang secara turun temurun melayani ritual di rumah ibadah, menjadi
bersifat melayani keluar melalui para murid yang diutus. Dalam Perjanjian Lama,
keimaman dilayani oleh keturunan Lewi karena merekalah yang diberi wewenang
secara keturunan sebagai pemelihara ritual agama, namun sekarang pelayanan
dilakukan murid-murid yang dipilih bukan atas dasar keturunan keimaman
melainkan karena panggilan, iman dan anugerah Allah. Rasul Petrus mengatakan:
"Tetapi kamulah bangsa yang
terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri,
supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah
memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib." (1
Petrus 2:9). Tuhan Yesus mengajarkan dasar iman yang benar, bukan karena kita
menyebut nama 'Tuhan' maka kita selamat dan diperkenan melainkan bila kita
melakukan kehendak-Nya (Matius 7:24-27). Kehidupan Iman tidak lagi dibatasi
oleh tembok-tembok rumah ibadah dan ritual sesuai tradisi nenek-moyang,
melainkan dunia ini menjadi rumah ibadah bagi Tuhan Yesus dan jemaatNya, dan Tuhan
Yesus mengutus murid ke dalam dunia (Yoh. 17:18). Umat tidak lagi menyembah di
Yerusalem atau di bukit Gerizim, tetapi menyembah Bapa dengan roh dan kebenaran
(Yoh. 4:21-24), Manusia menjadi Bait Allah (1 Korintus 6: 19). Doa yang selama
ini merupakan pengulangan ayat-ayat doa melalui pimpinan para Imam, berubah
menjadi doa langsung kepada Tuhan sebagai ungkapan hati yang bertobat (Matius
6: 515). Doa menjadi percakapan dialogis dengan Tuhan yang hidup. Tuhan Yesus
bahkan membandingkan doa dan puasa seorang Farisi dan ahli Taurat yang bersifat
ritual dengan doa orang berdosa yang dengan tulus diucapkan (Lukas 18:9-14).
Menariknya, dalam kedua doa itu, justru doa orang miskin itulah yang lebih
diperkenan Tuhan daripada doa ritual orang Farisi.
Konsep ibadah yang menekankan Iman dan Anugerah jelas dalam pengajaran Tuhan
Yesus. Demikian juga berita anugerah yang ditawarkan kepada manusia, bahwa: "Karena begitu besar kasih Allah akan
dunia ini, sehingga la telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap
orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal." (Yohanes 3:16). Konsep iman sudah berbeda dengan konsep iman
sebagaimana dalam hukum Taurat yang bertumpu pada perbuatan.
Oleh karena ajaran Tuhan Yesus yang semakin melepaskan diri dari ritual hukum Taurat itulah, maka Tuhan Yesus dianggap berseberangan dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi khususnya dan hukum agama Yahudi umumnya, bahkan dalam hal Sabat berkali-kali Yesus persalahkan. Tuhan Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Matius 23: 1-36), apalagi ketika la menyatakan diriNya sebagai Allah, dan menyebut bahwa "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:20) dan mengaku bahwa "Aku Anak Allah" (Yohanes 10:36), dan bahwa "Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa." Ia kemudian diadili dan disalibkan.
BAB III
SIKAP PARA MURID TUHAN YESUS TENTANG HUKUM TAURAT
Mengenai sikap para murid Tuhan Yesus terhadap Hukum Taurat, ayat yang
sering dikutip adalah sebagaimana tertulis dalam Kisah Para Rasul 15:1-34.
3.1. SIDANG DI YERUSALEM
Mengenai Sidang di Yerusalem dapat
dilihat dalam kitab Kisah Para Rasul 15:1-21 sebagai berikut:
(1) Beberapa orang datang dari Yudea
ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu
tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat
diselamatkan." (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan
membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas
serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan
penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.
(3) Mereka diantarkan oleh jemaat
sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di
tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang
tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di
situ. (4) Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh
rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang
Allah lakukan dengan perantaraan mereka. (5) Tetapi beberapa orang dari
golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata:
"Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti
hukum Musa."
(6) Maka bersidanglah rasul-rasul
dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. (7) Sesudah beberapa waktu
lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan
berkata kepada mereka: "Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak
semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku
bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. (8) Dan Allah,
yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima
mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada
kita, (9) dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan
mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. (10) Kalau demikian,
mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu
suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh
kita sendiri? (11) Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan
Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga."
(12) Maka diamlah seluruh umat itu,
lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceriterakan segala tanda dan
mujizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah
bangsa-bangsa lain. (13) Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara,
berkatalah Yakobus: "Hai saudara-saudara, dengarkanlah aku: (14) Simon
telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada
bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi
nama-Nya. (15) Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang
tertulis:
(16) Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan
kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali
dan akan Kuteguhkan,
(17) supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala
bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman
Tuhan yang melakukan semuanya ini,
(18) yang telah diketahui dari sejak semula. (19)
Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi
mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, (20) tetapi kita
harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan
yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang
yang mati dicekik dan dari darah. (21) Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa
diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan
tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat."
Nats tersebut di atas pada hakekatnya berisi tentang apakah orang yang
bukan Yahudi tetapi sudah menerima Tuhan Yesus sebagai juruselamatnya wajib
disunat sebagaimana tercantum dalam Imamat 12:3 dan wajib menuruti hukum Taurat
yang disampaikan Musa kepada bangsa Israel.
Dalam pidatonya, Petrus mengatakan bahwa bangsa-bangsa lain yang bukan
bangsa Yahudi telah mendengar injil dan menjadi percaya dan dikaruniakan Roh
Kudus sama seperti bangsa Yahudi. Ini merupakan pengalaman Petrus sendiri
ketika Kornelius menjadi percaya atas injil yang disampaikan Petrus dan semua
orang yang hadir pada waktu itu dikaruniakan Roh Kudus. Artinya Petrus
menegaskan bahwa keselamatan itu bukan hanya milik bangsa Yahudi saja tetapi
juga telah menjadi milik seluruh bangsa.
Kesepakatan yang diambil pada sidang itu, adalah bangsa di luar Yahudi
tidak wajib untuk disunat dan melakukan hukum Taurat yang telah menjadi adat
istiadat Yahudi. Kata Petrus, “mengapa
kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu
kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita
sendiri? Di sini Petrus menegaskan bahwa nenek moyang bangsa Yahudi dan
orang Yahudi sendiri tidak mampu mentaati hukum Taurat itu, apalagi bila hal itu diwajibkan bagi
bangsa non Yahudi untuk mentaatinya, bangsa non Yahudi tidak akan mampu
mentaatinya. Bila hal itu dipaksakan, maka bangsa non Yahudi akan kesulitan
berbalik kepada Allah.
Walaupun demikian, melihat tradisi orang-orang yang non Yahudi pada waktu
itu, maka hukum Taurat sebagaimana tercantum dalam kitab Keluaran 34:15-17, dan
kitab Imamat 17:10-16, 18:6-23 tetap diberlakukan kepada orang percaya yang
bukan berasal dari bangsa Yahudi yaitu: supaya menjauhkan diri dari makanan
yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang
yang mati dicekik dan dari darah. Artinya bahwa makanan yang telah dicemarkan
berhala-berhala, daging binatang yang mati dicekik dan darah adalah makanan
haram bagi orang percaya. Selain itu agar orang percaya menjauhkan diri dari
percabulan.
3.2. JAWAB KEPADA ANTIOKHIA
Mengenai Jawab kepada Antiokhia dapat
dilihat dalam kitab Kisah Para Rasul 15:22-34 sebagai berikut:
(22) Maka rasul-rasul dan
penatua-penatua beserta seluruh jemaat itu mengambil keputusan untuk memilih
dari antara mereka beberapa orang yang akan diutus ke Antiokhia bersama-sama
dengan Paulus dan Barnabas, yaitu Yudas yang disebut Barsabas dan Silas.
Keduanya adalah orang terpandang di antara saudara-saudara itu. (23) Kepada
mereka diserahkan surat yang bunyinya: "Salam dari rasul-rasul dan
penatua-penatua, dari saudara-saudaramu kepada saudara-saudara di Antiokhia,
Siria dan Kilikia yang berasal dari bangsa-bangsa lain. (24) Kami telah
mendengar, bahwa ada beberapa orang di antara kami, yang tiada mendapat pesan
dari kami, telah menggelisahkan dan menggoyangkan hatimu dengan ajaran mereka.
(25) Sebab itu dengan bulat hati kami telah memutuskan untuk memilih dan
mengutus beberapa orang kepada kamu bersama-sama dengan Barnabas dan Paulus
yang kami kasihi, (26) yaitu dua orang yang telah mempertaruhkan nyawanya
karena nama Tuhan kita Yesus Kristus. (27) Maka kami telah mengutus Yudas dan
Silas, yang dengan lisan akan menyampaikan pesan yang tertulis ini juga kepada
kamu. (28) Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada
kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: (29)
kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala,
dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau
kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah,
selamat."
(30) Setelah berpamitan, Yudas dan
Silas berangkat ke Antiokhia. Di situ mereka memanggil seluruh jemaat
berkumpul, lalu menyerahkan surat itu kepada mereka. (31) Setelah membaca surat
itu, jemaat bersukacita karena isinya yang menghiburkan. (32) Yudas dan Silas,
yang adalah juga nabi, lama menasihati saudara-saudara itu dan menguatkan hati
mereka. (33) Dan sesudah beberapa waktu keduanya tinggal di situ,
saudara-saudara itu melepas mereka dalam damai untuk kembali kepada mereka yang
mengutusnya. (34) (Tetapi Silas memutuskan untuk tinggal di situ.)
Nats di atas merupakan tindaklanjut
dari nats sebelumnya dimana hasil keputusan sidang di Yerusalem dituangkan
dalam bentuk surat dan disampaikan kepada jemaat di Antiokhia.
3.3. SURAT YAKOBUS
Pada umumnya, surat Yakobus menekankan pada perbuatan. Misalnya pada pasal
1:19-26, Yakobus menekankan bahwa tidak ada gunanya mendengar Firman tanpa
melakukannya. Bahkan pada ayat 26 jelas dikatakan bahwa “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak
mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya”.
Demikian juga pada pasal 2:8, “Akan
tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci:
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik”. Bahkan pada pasal 8:10 Yakobus menegaskan, “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum
itu, tetapi mengabaikan satu bagian daripadanya, ia bersalah terhadap
seluruhnya”
Walaupun demikian, bagian yang paling sering dibicarakan dalam surat
Yakobus mengenai sikap terhadap Hukum Taurat adalah sebagaimana tertulis dalam
kitab Yakobus 2:14-26 tentang “Iman tanpa Perbuatan pada hakekatnya adalah
Mati”, sebagai berikut:
(14) Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika
seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai
perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (15) Jika seorang saudara atau
saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, (16) dan
seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas
dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa
yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? (17) Demikian juga halnya dengan
iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya
adalah mati.
(18) Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu
ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia:
"Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan
menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (19) Engkau
percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga
percaya akan hal itu dan mereka gemetar. (20) Hai manusia yang bebal, maukah
engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?
(21) Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya,
ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? (22) Kamu lihat,
bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan
itu iman menjadi sempurna. (23) Dengan jalan demikian genaplah nas yang
mengatakan: "Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah
memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran." Karena itu Abraham
disebut: "Sahabat Allah." (24) Jadi kamu lihat, bahwa manusia
dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. (25) Dan
bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena
perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu
di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain? (26) Sebab
seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa
perbuatan-perbuatan adalah mati.
Dalam nats di atas, Yakobus menegaskan bahwa “jika iman itu tidak disertai perbuatan,
maka iman itu pada hakekatnya adalah mati”. Tidak mungkin menunjukkan iman
tanpa perbuatan, melainkan iman hanya dapat ditunjukkan melalui
perbuatan-perbuatan. Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong.
Nats berikutnya menjelaskan bahwa iman bekerjasama
dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi
sempurna sehingga manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan
hanya karena iman. Ibarat tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman
tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.
3.4. SURAT-SURAT PETRUS
3.4.1. Pengharapan, Iman dan Kasih
Mengenai ajaran Petrus tentang “Pengharapan, Iman, dan Kasih”, dapat
dilihat dalam kitab 1 Petrus 1:3-12, sebagai berikut:
(3) Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus
Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh
kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh
pengharapan, (4) untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang
tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.
(5) Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara
kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman
akhir. (6) Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika
harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. (7) Maksud semuanya itu ialah
untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada
emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh
puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan
diri-Nya. (8) Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu
mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak
melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak
terkatakan, (9) karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan
jiwamu. (10) Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi,
yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. (11) Dan
mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh
Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian
tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala
kemuliaan yang menyusul sesudah itu. (12) Kepada mereka telah dinyatakan, bahwa
mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi melayani kamu dengan segala
sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu dengan perantaraan mereka,
yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada
kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh malaikat-malaikat.
Dalam nats di atas Petrus menegaskan bahwa berbagai-bagai pencobaan yang
dialami adalah untuk membuktikan kemurnian iman dan tujuan iman adalah
keselamatan jiwa.
3.4.2. Melepaskan Diri dari Kecemaran Dunia
Mengenai ajaran Petrus tentang “Melepaskan Diri dari Kecemaran Dunia”,
dapat dilihat dalam kitab 2 Petrus 2:20-22, sebagai berikut:
(20) Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan
Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran
dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih
buruk dari pada yang semula. (21) Karena itu bagi mereka adalah lebih baik,
jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi
kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. (22) Bagi
mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali
lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya."
Nats di atas menegaskan bahwa orang yang telah melepaskan diri dari
kecemaran-kecemaran dunia tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka keadaan orang
itu akan lebih buruk daripada semula.
3.5. SURAT-SURAT YOHANES
3.5.1. Iman Mengalahkan Dunia
Mengenai ajaran Yohanes tentang “Iman Mengalahkan Dunia”, dapat dilihat
dalam kitab 1 Yohanes 5:1-5, sebagai berikut:
(1) Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus,
lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan,
mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya. (2) Inilah tandanya, bahwa kita
mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan
perintah-perintah-Nya. (3) Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita
menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, (4)
sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan
yang mengalahkan dunia: iman kita. (5) Siapakah yang mengalahkan dunia, selain
dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?
Tanda orang yang mengasihi anak-anak
Allah adalah mengasihi Allah dan melakukan perintah-perintah Allah. Iman
merupakan kemenangan yang mengalahkan dunia.
Dengarkan hal ini: “Saudara-saudaraku
yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari
Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.
Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.
Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa
Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup
oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah,
tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai
pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau
Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi” (1
Yohanes 4:7-11). “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1
Yohanes 4:19). Bukan kita yang telah mengasihi Allah – tetapi Allah yang
telah mengasihi kita! Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
3.5.2. Ajaran Kristus
Mengenai ajaran Yohanes tentang
“Ajaran Kristus”, dapat dilihat dalam kitab 2 Yohanes 1:4-11, sebagai berikut:
(4) Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa
separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang
telah kita terima dari Bapa. (5) Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu--bukan
seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang
sudah ada pada kita dari mulanya--supaya kita saling mengasihi. (6) Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut
perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam
kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya. (7) Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang
tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si
penyesat dan antikristus. (8) Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa
yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya. (9) Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang
melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam
ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak. (10) Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak
membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah
memberi salam kepadanya. (11) Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia
mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.
Ajaran Tuhan Yesus adalah saling
mengasihi, dan kasih itu adalah hidup menuruti perintahNya serta perintah itu
adalah hidup dalam kasih. Perintah ini yang merupakan sebuah
“persyaratan” yang tidak mungkin dilakukan jika dengan kekuatan diri sendiri
sebuah “mission impossible”. Tetapi
anugerah Allah sangat brilian! Dia sendiri yang menggenapi persyaratan itu di
dalam diri manusia dengan mencurahkan kasih-Nya ke dalam hati; Dia memberikan sebuah
sifat alami baru saat manusia berpindah dari maut kepada hidup. Sifat alami
yang baru ini mengasihi saudara-saudara. Karena itulah persyaratan tersebut
digenapi di dalam diri manusia.
Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa
murid Tuhan Yesus tidak pernah mengabaikan hukum Taurat. Sidang di Yerusalem menghasilkan
kesepakatan bahwa bagi orang percaya yang berasal dari bangsa yang bukan Yahudi
agar menjauhkan diri dari makanan haram dan percabulan. Makanan haram itu
adalah makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, daging binatang yang mati
dicekik dan darah.
Demikian juga surat Yakobus menekankan bahwa oleh perbuatanlah maka iman menjadi sempurna sehingga
manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.
Ibarat tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa
perbuatan-perbuatan adalah mati.
Berbagai-bagai pencobaan yang dialami
menurut Petrus adalah untuk membuktikan kemurnian iman dan tujuan iman adalah
keselamatan jiwa. Selain itu Petrus mengatakan bahwa orang yang telah
melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia tetapi terlibat lagi di
dalamnya, maka keadaan orang itu akan lebih buruk daripada semula.
Yohanes mengatakan bahwa tanda orang yang mengasihi anak-anak Allah adalah
mengasihi Allah dan melakukan perintah-perintah Allah. Iman merupakan
kemenangan yang mengalahkan dunia. Yohanes juga mengatakan bahwa ajaran Kristus adalah saling mengasihi, dan kasih itu adalah hidup
menuruti perintahNya serta perintah itu adalah hidup dalam kasih.
Dengan demikian, maka dapatlah disimpulkan
bahwa murid-murid Tuhan Yesus tetap menekankan arti pentingnya melakukan hukum
Taurat walaupun bukan merupakan dasar pembenaran tetapi merupakan “buah” atau
“wujud” daripada iman itu sendiri.
BAB IV
AJARAN PAULUS TENTANG HUKUM
TAURAT
4.1.
PENDAHULUAN
Tokoh yang paling berperan besar dalam Pekabaran Injil
kepada orang-orang non-Yahudi pada masa jemaat mula-mula adalah Rasul Paulus.
Dalam perjalanannya, Paulus tentu saja bertemu dengan berbagai konteks budaya,
bahasa, dan pola pikir masyarakat non-Yahudi kala itu sehingga kemungkinan
besar teologia Paulus mengenai hukum Taurat banyak dipengaruhi oleh konteks
budaya, bahasa dan pola pikir masyarakat non-Yahudi. Hal ini menjadi sangat
penting ketika kadang-kadang ada kesan ambivalensi (dualisme) perkataan Paulus
mengenai hukum Taurat. Di satu sisi, Paulus berkata-kata mengenai Hukum Taurat
secara positif, akan tetapi di sisi yang lain Paulus juga berkata-kata tentang
Hukum Taurat secara negatif.
Pemikiran Paulus tentang hukum Taurat sering menimbulkan
multitafsir, kadang-kadang ada kesan kontradiktif satu sama lainnya. Misalnya
dalam suratnya dalam kitab Roma 2:13, ia mengatakan bahwa mereka yang melakukan
hukum Taurat akan dibenarkan, mereka yang melakukan hukum Taurat akan beroleh
hidup melalui Taurat (Roma 10:15; Galatia 3:12). Di lain pihak ia mengatakan
bahwa tak seorangpun dibenarkan karena hukum Taurat (Roma 3:20), semua orang yang hidup dari
pekerjaan hukum Taurat berada di bawah kutuk (Galatia 3:10), manusia akan mengalami
kematian oleh hukum Taurat yang tertulis itu (2 Korintus 3:6), Taurat itu tidak
dapat menghidupkan (Galatia 3:21). Pernyataan yang berkesan kontradiktif yang
lain adalah bahwa ketaatannya kepada hukum Taurat ia tidak bercacat (Filipi
3:6), namun ia juga menyatakan bahwa tak seorang pun yang dapat melakukan
Taurat itu secara sempurna (Roma. 8:7). Di satu sisi Paulus berkata-kata positif tentang Hukum
Taurat, di sisi yang lain ada kesan bahwa
perkataan Paulus negatif tentang Hukum Taurat.
Hal ini semakin terjadi apabila surat-surat Paulus tersebut diambil secara
sepotong-sepotong kemudian menghubungkan satu sama lain. Inilah salah satu
dampak negatif dari pengambilan suatu ayat secara sepotong-sepotong kemudian
menggabungkannya sehingga memiliki arti gabungan yang kemungkinan sudah lari
dari makna yang sebenarnya.
Rasul Petrus sendiri telah memperingatkan mengenai hal
ini. “Anggaplah kesabaran
Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga
Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang
dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia
berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal
yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan
yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri,
sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain” (2 Petrus 3:15-16).
Oleh sebab itu, sebelum membicarakan Teologia Paulus
mengenai hukum Taurat, ada baiknya melihat terlebih dahulu sejarah sehingga
mempermudah untuk memahami pola pikir Paulus ketika ia berbicara tentang Hukum
Taurat.
Secara umum, perjalanan Paulus dapat dikelompokkan
dalam 3 (tiga) bagian, yaitu: Saul sebagai orang Farisi, peristiwa pertobatan
Paulus, dan perjalanan Paulus sebagai Rasul.
(1) Peristiwa Saul orang Farisi
Sejak bangsa Israel dibuang ke Babel, banyak sekali
orang Israel yang tidak kembali ke tanah air mereka dan tinggal menyebar di
luar Israel (Yahudi Diaspora). Keluarga Paulus diketahui merupakan salah satu
dari orang Yahudi Diaspora yang bermigrasi ke Asia Kecil dan tinggal di kota
Tarsus.
Paulus terlahir dan dididik dalam keluarga Yahudi yang
taat dari keturunan suku Benyamin dan termasuk ke dalam golongan Farisi, dengan
nama Saul. Tarsus sendiri merupakan sebuah kota yang memiliki sebuah Sekolah
Rethorika Yunani yang terkenal, namun Paulus kemungkinan tidak pernah menuntut
ilmu di tempat ini sebab ia mendapatkan ilmunya di Yerusalem, kota pusat
kehidupan orang Yahudi, di bawah bimbingan Rabi Gamaliel (bnd. Kisah Rasul
22:3). Hal inilah yang membuat Saul sangat akrab dengan budaya Yunani sekaligus
juga memahami budayanya sendiri yaitu Yahudi.
Golongan Farisi adalah salah satu “sekte” Yahudi yang
sangat menjunjung tinggi Hukum Taurat dan melaksanakannya secara mendetail.
Saul dalam sejarah hidupnya di masa itu penuh dengan semangat untuk mengancam
bahkan tidak segan untuk membunuh orang Kristen (Kisah Rasul 9:1). Semuanya
terjadi karena di masa Saul, orang Yahudi sangat menentang pemahaman Mesias
yang menderita, apalagi sampai mati di kayu salib (bnd. Ulangan 21:23).
(2) Pertobatan Paulus
Suatu hal yang tidak dapat disangkal bahwa peristiwa
Damaskus merupakan titik balik sejarah hidup Saul orang Farisi sebagai
penganiaya orang Kristen. Setelah perjumpaannya yang ajaib dengan Kristus di
Damaskus, kini ia menjadi Paulus sang Rasul Kristus.
Peristiwa Damaskus membawa perubahan dalam gaya
berpikir Paulus. Pertama, pemikiran Paulus tentang Yesus berubah total. Kedua,
pemikirannya tentang Hukum Taurat pun berubah total. Ketiga, pemikirannya
tentang keselamatan juga berubah. Keempat, pemikirannya tentang orang-orang
percaya pun berubah drastis. Dan pada akhirnya Paulus mempunyai sudut pandang
yang baru dalam melihat orang-orang Yunani sehingga ia di sebut sebagai Rasul
bagi orang tak bersunat (bnd. Kisah Rasul 26:16-18; 22:21).
(3)
Paulus sebagai Rasul
Pada pertama sekali Paulus menjalankan tugasnya
sebagai rasul, banyak orang yang takut kepadanya. “Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan barangsiapa yang
memanggil nama Yesus? Bukankah ia datang ke sini untuk menangkap dan membawa
mereka ke hadapan imam-imam kepala?” (Kisah Para rasul 9:21), demikianlah
ungkapan hati orang di Damsyik yang mendengar kesaksiannya tentang Yesus adalah
Mesias. Demikian juga ketika Paulus mencoba menggabungkan diri dengan murid-murid
Yesus di Yerusalem, semuanya takut kepadanya karena mereka tidak dapat percaya
bahwa Paulus juga seorang murid (Kisah Para Rasul 9:26). Dalam keadaan demikian
Barnabaslah yang menerima dia dan menceritakan kepada para murid bagaimana
Paulus bertobat.
Karena Paulus bersoal jawab dengan orang Yahudi
yang berbahasa Yunani di Yerusalem, maka mereka berusaha untuk membunuh dia.
Kenyataan inilah yang membawa Paulus ke Kaisarea yang dibantu oleh anggota
jemaat di Yerusalem dan selanjutnya dia menuju Tarsus. Dari Tarsus inilah
Barnabas membawa Paulus ke Antiokhia dimana murid-murid untuk pertama kalinya
disebut Kristen. Sejak itulah Paulus melanglangbuana memberitakan injil ke
Siprus, Pisidia, Ikonium, Listra, Derbe, bahkan sampai ke Roma.
Paulus adalah Rasul yang paling
banyak menulis surat yang menjadi kitab Perjanjian Baru. Paulus menulis surat
kepada jemaat di Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, dan
Tesalonika. Selain itu Paulus juga menulis surat kepada Timotius, Titus,
Filemon, dan ada sebagian yang mengatakan bahwa surat Ibrani juga merupakan
tulisan Paulus. Begitu banyaknya surat-surat Paulus tersebut menyebabkan ajaran
Paulus melalui surat-suratnya sangat berpengaruh dalam Teologia Kristen
termasuk Teologia Kristen tentang Hukum Taurat.
Ajaran Paulus mengenai hukum Taurat
sering dipertentangkan dengan ajaran Tuhan Yesus. Seakan-akan Tuhan Yesus tetap
mempertahankan hukum Taurat sementara Paulus mencampakkan hukum Taurat.
Pendapat ini terutama mereka yang bukan Kristen, faham Yudaisme, atau pengkaji
ilmu perbandingan agama. Oleh sebab itu marilah kita memperhatikan surat-surat
Paulus mengenai hukum Taurat itu sendiri.
4.2.
SURAT KEPADA JEMAAT DI ROMA
Surat Paulus kepada Jemaat di Roma dapatlah dikatakan
sebagai bangunan Teologia Paulus mengenai hukum Taurat Surat Paulus kepada
jemaat di Roma diawali dengan pernyataan bahwa semua orang telah berdosa dan
mendapat hukuman dari Allah. Selanjutnya Paulus berbicara mengenai hukum Taurat
dan keselamatan di dalam Kristus dan di bagian akhir kembali Paulus menegaskan
bahwa Kasih merupakan kegenapan Hukum Taurat.
4.2.1. Hukuman Allah atas
Semua Orang (Roma 2:1-16)
“Sebab semua orang yang
berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang
berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. Karena bukanlah
orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang
yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. Apabila bangsa-bangsa lain
yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang
dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat,
mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka
menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara
hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling
membela. Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil
yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati
manusia, oleh Kristus Yesus”.
Nats di atas menguraikan pendapat Paulus mengenai hukuman Allah bagi semua
orang, baik bangsa Yahudi yang diberi hukum Taurat maupun bangsa non Yahudi
semuanya akan binasa. Bangsa Yahudi akan binasa karena tidak melakukan hukum
Taurat dan bangsa non Yahudi akan binasa karena tidak menuruti ‘hukum taurat’
yang tertulis dalam hati dan suara hatinya. Artinya bahwa pada prinsipnya
bangsa non Yahudi, walaupun tidak menerima hukum Taurat tetapi memiliki suara
hati untuk melarang sesuatu perbuatan yang ‘salah’ sehingga karena tidak
menuruti suara hati itulah makanya bangsa non Yahudi juga akan binasa.
4.2.2. Hukum Taurat dan
Sunat tidak Menyelamatkan Orang Yahudi (Roma 2:17-29)
“Tetapi,
jika kamu menyebut dirimu orang Yahudi dan bersandar kepada hukum Taurat,
bermegah dalam Allah, dan tahu akan kehendak-Nya, dan oleh karena diajar dalam
hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak, dan yakin, bahwa
engkau adalah penuntun orang buta dan terang bagi mereka yang di dalam
kegelapan pendidik orang bodoh, dan pengajar orang yang belum dewasa, karena
dalam hukum Taurat engkau memiliki kegenapan segala kepandaian dan kebenaran.
Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar
dirimu sendiri? Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri," mengapa
engkau sendiri mencuri? Engkau yang berkata: "Jangan berzinah,"
mengapa engkau sendiri berzinah? Engkau yang jijik akan segala berhala, mengapa
engkau sendiri merampok rumah berhala? Engkau bermegah atas hukum Taurat,
mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu?
Seperti ada tertulis: "Sebab oleh karena kamulah nama Allah dihujat di
antara bangsa-bangsa lain." Sunat memang ada gunanya, jika engkau mentaati
hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada
lagi gunanya. Jadi jika orang yang tak bersunat memperhatikan tuntutan-tuntutan
hukum Taurat, tidakkah ia dianggap sama dengan orang yang telah disunat? Jika
demikian, maka orang yang tak bersunat, tetapi yang melakukan hukum Taurat,
akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum tertulis dan sunat, tetapi yang
melanggar hukum Taurat. Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah
Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara
lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya
dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka
pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah”.
Pertanyaan mendasarnya adalah, “mengapa Hukum Taurat dan
Sunat tidak menyelamatkan orang Yahudi?” Jawabannya adalah karena orang Yahudi
tidak menuruti hukum Taurat dan sunat baru berguna apabila menuruti hukum
Taurat. Makna mendasar dari sunat adalah sunat di dalam hati secara rohani.
Artinya bahwa membuang hal-hal yang tidak sesuai dengan hukum taurat di dalam
hati adalah makna hakiki daripada sunat dan mewujudnyatakan dalam kehidupan
sehari-hari adalah perbuatan menuruti hukum Taurat.
4.2.3. Semua Manusia
adalah Orang Berdosa (Roma 3:9-20)
“Jadi bagaimana? Adakah kita
mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas
telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada
di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar,
seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun
yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna,
tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. Kerongkongan mereka seperti
kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa.
Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan
darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan
damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang
itu." Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab
Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya
tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah. Sebab
tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan
hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa”.
Mengapa semua manusia adalah orang
berdosa ? Semua orang tidak ada yang benar. Semua orang telah menyeleweng,
tidak ada seorangpun yang berbuat baik sehingga tidak ada seorangpun yang dapat
dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat. Fungsi hukum Taurat
menjadi hanya seperti cermin yang menunjukkan kesalahan tetapi tidak mampu
merubah kesalahan itu menjadi kebaikan.
4.2.4. Manusia Dibenarkan
karena Iman (Roma 3:21-31)
Kalau demikian, bagaimanakah manusia
dibenarkan ?
“Tetapi sekarang, tanpa hukum
Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab
Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus
Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua
orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih
karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.
Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman,
dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia
telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya.
Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata,
bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus. Jika
demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa?
Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin,
bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum
Taurat. Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga
adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa
lain! Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang
bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman. Jika
demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak!
Sebaliknya, kami meneguhkannya”.
Dari nats tersebut di
atas, secara tegas Paulus mengatakan bahwa tanpa hukum Taurat kebenaran Allah
telah dinyatakan yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi
semua orang yang percaya. Karena semua manusia telah berbuat dosa dan telah
kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia Allah manusia telah
dibenarkan secara cuma-cuma. Oleh sebab itu tidak ada alasan manusia untuk
bermegah. Pembenaran manusia di hadapan Allah bukan karena usaha manusia, bukan
pula karena perbuatan, bukan pula karena melakukan hukum Taurat tetapi
semata-mata berdasarkan iman.
Dalam hal ini Paulus
menegaskan bahwa ia sama sekali tidak membatalkan hukum Taurat tetapi justru ia
meneguhkannya.
4.2.5. Abraham Dibenarkan
karena Iman (Roma 4:1-25)
“Jadi apakah akan kita katakan
tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena
perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan
Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? "Lalu percayalah Abraham
kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai
kebenaran." Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan
sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak
bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya
diperhitungkan menjadi kebenaran. Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang
yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya: Berbahagialah orang yang
diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya;
berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan
kepadanya." Adakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat
saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan, bahwa kepada
Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran. Dalam keadaan manakah hal itu
diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi
sebelumnya. Dan tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran
berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat
menjadi bapa semua orang percaya yang tak bersunat, supaya kebenaran
diperhitungkan kepada mereka, dan juga menjadi bapa orang-orang bersunat, yaitu
mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham,
bapa leluhur kita, pada masa ia belum disunat. Sebab bukan karena hukum Taurat
telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki
dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman. Sebab jika mereka yang
mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah, maka
sia-sialah iman dan batallah janji itu. Karena hukum Taurat membangkitkan
murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga
pelanggaran. Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih
karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya
bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup
dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, -- seperti ada
tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" --di
hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang
mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan
percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah
difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Imannya tidak
menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah,
karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah
tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan,
malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh
keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan
Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. Kata-kata ini,
yaitu "hal ini diperhitungkan kepadanya," tidak ditulis untuk Abraham
saja, tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah
memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan
Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang telah diserahkan
karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.”
Demikian juga dalam nats di atas, Paulus menegaskan bahwa Abraham
dibenarkan karena iman. "Lalu
percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya
sebagai kebenaran." Untuk manusia saat ini, percaya kepada Dia, yang
telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus,
yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena
pembenaran kita akan diperhitungkan sebagai kebenaran.
4.2.6. Hasil Pembenaran
(Roma 5:1-11)
“Sebab
itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan
Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan
masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita
berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan
bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena
kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan
menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan
tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh
Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Karena waktu kita masih lemah, Kristus
telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh
Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi
mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati--. Akan tetapi Allah
menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita,
ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih,
karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan
diselamatkan dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru,
diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang
sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! Dan bukan
hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita,
sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu”.
Hasil pembenaran adalah hidup yang kekal. Hasil pembenaran
adalah hidup damai sejahtera dengan Allah. Hasil pembenaran adalah beroleh
jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia. Hasil pembenaran adalah menerima
kemuliaan Allah. Bahkan hasil pembenaran bermegah dalam kesengsaraan yang
menuntut ketekunan sehingga tahan uji serta melahirkan pengharapan.
4.2.7. Arti Hukum Taurat
(Roma 7:1-12)
“Apakah kamu tidak tahu,
saudara-saudara, --sebab aku berbicara kepada mereka yang mengetahui
hukum--bahwa hukum berkuasa atas seseorang selama orang itu hidup? Sebab
seorang isteri terikat oleh hukum kepada suaminya selama suaminya itu hidup.
Akan tetapi apabila suaminya itu mati, bebaslah ia dari hukum yang mengikatnya
kepada suaminya itu. Jadi selama suaminya hidup ia dianggap berzinah, kalau ia
menjadi isteri laki-laki lain; tetapi jika suaminya telah mati, ia bebas dari
hukum, sehingga ia bukanlah berzinah, kalau ia menjadi isteri laki-laki lain.
Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh
Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah
dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah. Sebab waktu
kita masih hidup di dalam daging, hawa nafsu dosa, yang dirangsang oleh hukum
Taurat, bekerja dalam anggota-anggota tubuh kita, agar kita berbuah bagi maut.
Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati
bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan
baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat. Jika
demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa?
Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal
dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak
mengatakan: "Jangan mengingini!" Tetapi dalam perintah itu dosa
mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan;
sebab tanpa hukum Taurat dosa mati. Dahulu aku hidup tanpa hukum Taurat. Akan
tetapi sesudah datang perintah itu, dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati. Dan
perintah yang seharusnya membawa kepada hidup, ternyata bagiku justru membawa
kepada kematian. Sebab dalam perintah itu, dosa mendapat kesempatan untuk
menipu aku dan oleh perintah itu ia membunuh aku. Jadi hukum Taurat adalah
kudus, dan perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik”.
Jika demikian, lalu apa
arti hukum Taurat? Melalui hukum Taurat manusia mengetahui dan menyadari bahwa
ia seorang yang berdosa. Karena dosanya itulah manusia telah mati. Lalu manusia
telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus supaya menjadi milik Kristus
yang telah dibangkitkan dari antara orang mati agar manusia itu berbuah di
hadapan Allah. Manusia telah mati bagi hukum Taurat yang mengurungnya, sehingga
sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama
menurut huruf hukum Taurat.
Dalam hal ini Paulus
menegaskan bahwa Hukum Taurat adalah kudus dan perintah Tuhan juga adalah
kudus, benar dan baik.
4.2.8. Perjuangan Hukum
Taurat dan Dosa (Roma 7:13-26)
“Jika demikian, adakah yang
baik itu menjadi kematian bagiku? Sekali-kali tidak! Tetapi supaya nyata, bahwa
ia adalah dosa, maka dosa mempergunakan yang baik untuk mendatangkan kematian
bagiku, supaya oleh perintah itu dosa lebih nyata lagi keadaannya sebagai dosa.
Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging,
terjual di bawah kuasa dosa. Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena
bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci,
itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki,
aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang
memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di
dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik.
Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.
Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat,
melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.
Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang
memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum
ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.
Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam
anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal
budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam
anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku
dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi
dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku
melayani hukum dosa”.
Nats di atas menjelaskan bahwa hukum Taurat sebagai sesuatu yang baik
berperan dalam menyatakan dosa. Hukum Taurat adalah rohani, tetapi manusia
bersifat daging terjual di bawah kuasa dosa. Kehendak yang ada dalam diri
manusia pada hakekatnya adalah untuk berbuat baik. Walaupun manusia menghendaki
berbuat baik tetapi yang diperbuat adalah yang jahat. Sehingga perbuatan yang
jahat bukanlah yang dikehendaki manusia tetapi dosa yang ada di dalam diri
manusia itulah yang memperbuatnya. Di dalam hati manusia pada dasarnya suka
akan hukum Allah tetapi di dalam anggota-anggota tubuhnya ada hukum lain yang
berjuang melawan hukum akal budi dan membuatnya menjadi tawanan dosa. Jadi
dengan akal budi manusia melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh manusiawinya
manusia melayani hukum dosa.
4.2.9. Keselamatan
Bangsa-bangsa Lain dan Kesesatan Orang Israel (Roma 9:30-10:3)
“Jika demikian, apakah
yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar
kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa
Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah
sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak?
Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka
tersandung pada batu sandungan, seperti ada tertulis: "Sesungguhnya, Aku
meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa
yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." Saudara-saudara, keinginan
hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. Sebab aku
dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk
Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak
mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan
kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.”
Nats di atas menjelaskan bahwa keselamatan bangsa-bangsa non
Yahudi yang tidak mengejar kebenaran melalui hukum Taurat telah beroleh
kebenaran yaitu kebenaran karena iman. Sedangkan bangsa Israel sesat karena
walaupun mengejar hukum Taurat yang mendatangkan kebenaran tetapi mereka
sendiri tidak sampai kepada hukum Taurat sehingga mereka tidak dapat meraih
kebenaran. Tidak sampainya mereka kepada hukum Taurat karena bangsa Israel
mengejar hukum Taurat karena perbuatan dan bukan karena iman.
4.2.10.
Kebenaran karena Iman (Roma 10:4-15)
“Sebab
Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap
orang yang percaya. Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat:
"Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya." Tetapi kebenaran
karena iman berkata demikian: "Jangan katakan di dalam hatimu: Siapakah
akan naik ke sorga?", yaitu: untuk membawa Yesus turun, atau:
"Siapakah akan turun ke jurang maut?", yaitu: untuk membawa Kristus
naik dari antara orang mati. Tetapi apakah katanya? Ini: "Firman itu dekat
kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Itulah firman iman,
yang kami beritakan. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah
Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari
antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang
percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena
Kitab Suci berkata: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan
dipermalukan." Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang
Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi
semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada
nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru
kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat
percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka
mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana
mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis:
"Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"
Ada perbedaan antara kebenaran hukum Taurat dengan kebenaran
karena iman. Kebenaran hukum Taurat adalah orang yang melakukan hukum Taurat
akan hidup karena hukum Taurat, tetapi kebenaran karena iman adalah Firman itu
dekat dengan diri manusia yakni di dalam mulut dan di dalam hati.
Kebenaran iman adalah: barangsiapa yang mengaku dengan
mulutnya, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatinya, bahwa Allah telah
membangkitkan Dia dari antara orang mati, akan diselamatkan. Karena dengan hati
orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.
Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan
diselamatkan. Orang yang berseru kepada nama Tuhan adalah orang yang percaya
kepada Dia. Orang yang percaya kepada Dia adalah orang yang mendengar tentang
Dia. Orang mendengar tentang Dia karena ada yang memberitakanNya. Orang yang
memberitakanNya adalah orang yang diutus.
4.2.11.
Kasih adalah Kegenapan Hukum Taurat
(Roma 13:8-14)
“Janganlah
kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling
mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi
hukum Taurat. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri,
jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman
ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak
berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum
Taurat. Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu
sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur.
Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita
menjadi percaya. Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah
kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan
senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari,
jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu,
jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus
sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk
memuaskan keinginannya.”
Dalam bagian ini, Paulus kembali menegaskan bahwa Kasih merupakan kegenapan
hukum Taurat. “Janganlah
kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling
mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi
hukum Taurat. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan
mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam
firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih
tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan
hukum Taurat”. Orang yang mengasihi tidak melakukan perzinahan. Orang yang
mengasihi tidak berdusta. Orang yang mengasihi tidak membunuh. Orang yang
mengasihi telah memenuhi hukum Taurat.
Berdasarkan surat-surat Paulus kepada jemaat di Roma sebagaimana diuraikan
di atas, maka dapatlah dibuat suatu konstruksi Teologia Paulus mengenai hukum
Taurat sebagai berikut:
1.
Hukuman Allah bagi semua orang adalah
bahwa baik bangsa Yahudi yang diberi hukum Taurat maupun bangsa non Yahudi
semuanya akan binasa.
2.
Hukum Taurat dan sunat tidak
menyelamatkan orang Yahudi karena orang Yahudi tidak menuruti hukum Taurat dan
sunat baru berguna apabila menuruti hukum Taurat.
3.
Semua manusia adalah orang berdosa
sehingga tidak ada seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena
melakukan hukum Taurat.
4.
Tanpa hukum Taurat kebenaran
Allah telah dinyatakan yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus
bagi semua orang yang percaya. Pembenaran manusia di hadapan Allah bukan karena
usaha manusia, bukan pula karena perbuatan, bukan pula karena melakukan hukum
Taurat tetapi semata-mata berdasarkan iman.
5.
Paulus sama sekali tidak
membatalkan hukum Taurat tetapi justru meneguhkannya.
6.
Abraham dibenarkan karena
iman. Manusia dibenarkan apabila percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan
Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang telah diserahkan
karena pelanggaran kita dan dibangkitkan.
7.
Hasil pembenaran adalah hidup
yang kekal, hidup damai sejahtera dengan Allah, beroleh jalan masuk oleh iman
kepada kasih karunia, menerima kemuliaan Allah, bahkan bermegah dalam
kesengsaraan yang bermuara pada lahirnya pengharapan.
8.
Melalui hukum Taurat manusia
mengetahui dan menyadari bahwa ia seorang yang berdosa. Manusia telah mati bagi
hukum Taurat oleh tubuh Kristus supaya menjadi milik Kristus yang telah
dibangkitkan dari antara orang mati agar manusia itu berbuah di hadapan Allah.
9.
Hukum Taurat adalah kudus dan
perintah Tuhan juga adalah kudus, benar dan baik.
10. Hukum Taurat berperan dalam menyatakan dosa. Akal budi manusia melayani
hukum Allah, tetapi dengan tubuh manusiawinya manusia melayani hukum dosa.
11. Keselamatan bangsa-bangsa non Yahudi adalah memperoleh kebenaran karena
iman, sedangka bangsa Israel sesat karena walaupun mengejar hukum Taurat yang
mendatangkan kebenaran tetapi mereka sendiri tidak sampai kepada hukum Taurat
karena bangsa Israel mengejar hukum Taurat karena perbuatan dan bukan karena
iman.
12. Kebenaran iman ialah barangsiapa yang mengaku dengan mulutnya, bahwa Yesus
adalah Tuhan, dan percaya dalam hatinya, bahwa Allah telah membangkitkan Dia
dari antara orang mati, akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan
dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.
13. Kasih merupakan
kegenapan hukum Taurat. Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia
sehingga kasih adalah kegenapan hukum Taurat.
4.3.
SURAT KEPADA JEMAAT DI KORINTUS
4.3.1. Taurat Bukan
berasal dari Pikiran Manusia (I Korintus 9:8)
“Apa yang kukatakan ini bukanlah hanya pikiran manusia saja. Bukankah hukum
Taurat juga berkata-kata demikian?”
Dalam nats di atas, Paulus secara tegas mengatakan bahwa hukum Taurat
bukan berasal dari pikiran manusia.
4.3.2. Hukum Taurat
berlaku juga dalam Pertemuan Jemaat (I Korintus 14:34)
“Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan
harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak
diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang
dikatakan juga oleh hukum Taurat”.
Nats di atas merupakan salah satu
indikator bahwa ajaran Paulus tidak bertentangan dengan hukum Taurat.
4.4.
SURAT KEPADA JEMAAT DI GALATIA
4.4.1. Hal yang Utama (Galatia
2:15-21)
“Menurut kelahiran kami adalah
orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain. Kamu tahu, bahwa
tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi
hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya
kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan
bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun
yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat. Tetapi jika kami
sendiri, sementara kami berusaha untuk dibenarkan dalam Kristus ternyata adalah
orang-orang berdosa, apakah hal itu berarti, bahwa Kristus adalah pelayan dosa?
Sekali-kali tidak. Karena, jikalau aku membangun kembali apa yang telah
kurombak, aku menyatakan diriku sebagai pelanggar hukum Taurat. Sebab aku telah
mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku
telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri
yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang
kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang
telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Aku tidak menolak kasih
karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah
kematian Kristus”.
Nats di atas menegaskan bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena
melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Yesus Kristus.
Paulus sendiri menyatakan bahwa ia telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum
Taurat, supaya ia hidup untuk Allah. Selain itu Paulus menyatakan bahwa ia
tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum
Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.
4.4.2. Dibenarkan oleh
karena Iman (Galatia 3:1-14)
“Hai orang-orang Galatia yang
bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang
disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? Hanya ini yang hendak
kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum
Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil? Adakah kamu sebodoh itu?
Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam
daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!
Jadi bagaimana sekarang, apakah Ia yang menganugerahkan Roh kepada kamu dengan
berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian
karena kamu melakukan hukum Taurat atau karena kamu percaya kepada pemberitaan
Injil? Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah
memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari
iman, mereka itulah anak-anak Abraham. Dan Kitab Suci, yang sebelumnya
mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman,
telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: "Olehmu segala
bangsa akan diberkati." Jadi mereka
yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang
beriman itu. Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada
di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia
melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat." Dan
bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan hukum
Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh iman."
Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya,
akan hidup karenanya. Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan
jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang
yang digantung pada kayu salib!" Yesus Kristus telah membuat ini, supaya
di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh
iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu”.
Nats di atas menegaskan
bahwa jemaat Galatia menerima Roh bukan karena hukum Taurat tetapi karena
percaya kepada pemberitaan injil. Hal ini sejalan dengan pernyataan Paulus
selanjutnya bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena
melakukan hukum Taurat, karena: "Orang yang benar akan hidup oleh
iman."
Paulus juga menegaskan
bahwa dasar hukum Taurat bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan
hidup karenanya. Kristus telah menebus orang yang percaya dari kutuk hukum
Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena manusia, sebab ada tertulis:
"Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!". Menebus orang
percaya dari kutuk hukum Taurat tidaklah sama maknanya dengan Menebus
orang percaya dari hukum Taurat. Yang dilakukan Tuhan Yesus adalah menebus
dari “kutuk” karena tidak seorangpun yang mampu mentaati hukum Taurat secara
penuh sehingga semua manusia berada di bawah hukum Taurat.
4.4.3. Hukum Taurat atau
Janji (Galatia 3:15-29)
“Saudara-saudara, baiklah kupergunakan
suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan,
sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh
seorangpun. Adapun kepada Abraham
diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan
"kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang,
tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus.
Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat
dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun
kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya. Sebab, jikalau apa yang
ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji; tetapi
justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham. Kalau demikian, apakah maksudnya hukum
Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran--sampai datang
keturunan yang dimaksud oleh janji itu--dan ia disampaikan dengan perantaraan
malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara. Seorang pengantara bukan
hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu. Kalau demikian,
bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab
andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka
memang kebenaran berasal dari hukum Taurat. Tetapi Kitab Suci telah mengurung
segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus
Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. Sebelum iman itu datang
kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu
telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus
datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang,
karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. Sebab kamu
semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu
semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini
tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka,
tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam
Kristus Yesus. Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah
keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah”.
Nats di atas secara kronologis Paulus menjelaskan mengenai
janji Allah kepada Abraham dengan hukum Taurat. Yang dimaksud janji Allah
kepada Abraham “kepada keturunanmu” adalah Yesus Kristus. Janji Allah ini jauh
lebih duluan daripada hukum Taurat sehingga hukum Taurat tidak dapat
membatalkan janji Allah kepada Abraham.
Lalu, apa peranan hukum Taurat menurut Paulus dalam
suratnya ini ? Hukum Taurat merupakan tambahan terhadap “janji Allah dengan
Abraham” yaitu Yesus Kristus sendiri. Hukum Taurat diberikan karena
pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh orang Yahudi.
Menurut Paulus Kristus sebagai “janji Allah dengan
Abraham” tidak bertentangan dengan hukum Taurat. Sebab
hukum Taurat diberikan bukan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, sehingga
pembenaran bukan berasal dari hukum Taurat. Hukum Taurat merupakan pengawal manusia yang telah dikurung
di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu
diberikan kepada mereka yang percaya.
4.4.4. Penerimaan menjadi
Anak (Galatia 4:4-5)
“Tetapi setelah genap
waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan
takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada
hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak”.
Paulus mengingatkan bahwa Tuhan Yesus
Kristus lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Tuhan
Yesus Kristus diutus untuk menebus orang percaya sehingga tidak lagi berada di
bawah kutukan hukum Taurat tetapi diterima menjadi anak dalam kerajaan Sorga.
4.4.5. Kemerdekaan Kristen
(Galatia 5:1-15)
“Supaya kita sungguh-sungguh
merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan
jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.
Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan
dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. Sekali lagi aku katakan
kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh
hukum Taurat. Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh
hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia. Sebab oleh Roh, dan karena
iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. Sebab bagi orang-orang yang
ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai
sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih. Dahulu kamu berlomba dengan
baik. Siapakah yang menghalang-halangi kamu, sehingga kamu tidak menuruti
kebenaran lagi? Ajakan untuk tidak menurutinya lagi bukan datang dari Dia, yang
memanggil kamu. Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan. Dalam Tuhan
aku yakin tentang kamu, bahwa kamu tidak mempunyai pendirian lain dari pada
pendirian ini. Tetapi barangsiapa yang mengacaukan kamu, ia akan menanggung
hukumannya, siapapun juga dia. Dan lagi aku ini, saudara-saudara, jikalau aku
masih memberitakan sunat, mengapakah aku masih dianiaya juga? Sebab kalau
demikian, salib bukan batu sandungan lagi. Baiklah mereka yang menghasut kamu
itu mengebirikan saja dirinya! Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil
untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai
kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang
lain oleh kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini,
yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" Tetapi
jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu
saling membinasakan”.
Salah satu poin penting dari pernyataan Paulus pada nats di atas adalah
tentang sunat sebagaimana diamanatkan dalam hukum Taurat. Menurut Paulus,
barangsiapa yang menyunatkan diri harus melakukan seluruh hukum Taurat. Di lain
pihak tidak ada seorangpun yang mampu melakukan seluruh hukum Taurat tanpa
bercacat. Artinya bahwa apabila sunat dituruti sebagai salah satu syarat
“pembenaran” maka usaha itu adalah sia-sia belaka. Mengapa ? Karena pembenaran
hanya dapat diperoleh karena kasih karunia Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus,
sehingga Paulus mengatakan bahwa “jikalau
kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu”.
Apakah hal ini menunjukkan bahwa orang percaya dilarang untuk disunat ? Sama
sekali tidak. Tetapi maksud Paulus di sini adalah bahwa sunat bukanlah salah
satu dasar pembenaran, tetapi hanya oleh iman. “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat
atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh
kasih” Bahkan di akhir suratnya Paulus kembali mengingatkan bahwa seluruh
hukum Taurat tercakup dalam satu firman yaitu: “Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu:
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”.
Semoga nats ini meluruskan pola pikir yang menuduh bahwa Paulus telah
membatalkan hukum Taurat termasuk sunat sehingga ajarannya bertentangan dengan
ajaran yang disampaikan Tuhan Yesus Kristus. Dalam konteks ini Paulus
menegaskan bahwa pembenaran bukan diperoleh karena melakukan hukum Taurat
termasuk sunat, tetapi hanya oleh karena kasih karunia Allah melalui Tuhan
Yesus Kristus. Mentaati hukum Taurat termasuk sunat sama sekali tidak dilarang
apalagi dibatalkan. Tetapi Paulus mengingatkan agar orang percaya tidak
terjerumus ke dalam pola pikir para ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi
bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh melalui ketaatan terhadap hukum Taurat.
Secara bahasa sederhana, dapat dikatakan bahwa hukum Taurat tetap diperlukan
sebagai acuan perilaku yang baik tetapi jangan sekali-kali berharap bahwa
keselamatan diperoleh dengan melakukan hukum Taurat, sebab tidak ada seorangpun
yang dapat dibenarkan karena melakukan hukum Taurat (semua manusia tidak akan
mampu melaksanakan hukum Taurat secara penuh). Dalam hal inilah jemaat Galatia
diingatkan bahwa pembenaran di hadapan Allah hanyalah dapat diperoleh melalui
iman kepada Tuhan Yesus Kristus.
4.4.6. Hidup menurut
Daging atau Roh (Galatia 5:16-26)
“Maksudku ialah: hiduplah oleh
Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging
berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan
daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan
apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh
Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Perbuatan daging telah nyata,
yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir,
perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri,
percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya.
Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat
dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan
mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita,
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa
menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa
nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga
dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling
menantang dan saling mendengki”.
Dalam nats di atas, Paulus menegaskan bahwa manusia yang memberi dirinya
dipimpin oleh Roh tidak hidup di bawah hukum Taurat. Artinya bahwa mentaati
hukum Taurat bukan lagi dianggap sebagai ‘kewajiban yang memaksa’ sehingga
menjadi beban. Justru apabila dipimpin oleh Roh maka hukum Kristuslah yang
berlaku, yaitu Hukum Kasih. Mewujudnyatakan kasih dalam kehidupan sehari-hari
justru mengandung arti mentaati hukum Taurat. Perbuatan kasih tidak
bertentangan dengan hukum Taurat, karena esensi hakiki dari hukum Taurat adalah
mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Perbuatan yang dipimpin oleh Roh
akan menghasilkan buah Roh. Buah Roh adalah kasih, sukacita, damai sejahtera,
kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Tidak ada hukum yang menentang buah Roh tersebut termasuk hukum Taurat.
Lalu, bagaimana merumuskan hubungan Kasih dengan Hukum Taurat dalam
perilaku orang percaya. Manusia harus menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang
memperoleh pembenaran di hadapan Allah karena melakukan hukum Taurat. Dalam
kondisi demikianlah Allah melalui Tuhan Yesus Kristus telah menganugerahkan
keselamatan bagi orang yang percaya kepadaNya. Bagi orang yang percaya
kepadaNya berlaku hukum kasih. Hukum kasih tidak bertentangan dengan hukum
Taurat bahkan merupakan inti daripada hukum Taurat itu sendiri. Jadi, orang
percaya (yang telah memperoleh pembenaran) dalam melakukan hukum Taurat yang
dalam hal ini adalah hukum kasih bukan lagi untuk memperoleh pembenaran
melainkan merupakan “buah” atau perwujudan dari orang yang telah memperoleh
pembenaran.
Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa menerapkan hukum Kasih sebagai
inti daripada hukum Taurat bukan untuk memperoleh pembenaran tetapi merupakan
buah dari pembenaran itu sendiri. Jangan terbalik! Kita mengasihi Allah
bukan agar Allah mengasihi kita, tetapi kita mengasihi Allah karena Allah
telah terlebih dahulu mengasihi kita. Kita mengasihi sesama manusia bukan
agar Allah juga mengasihi kita atau agar sesama mengasihi kita. Tetapi kita
mengasihi sesama manusia karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita.
Inilah esensi hukum Kasih bagi orang yang telah dibenarkan melalui darah Tuhan
Yesus Kristus.
4.5.
SURAT KEPADA JEMAAT DI EFESUS
4.5.1. Semuanya adalah
Kasih Karunia (Efesus 2:1-10)
“Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.
Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu
mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di
antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di
antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti
kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah
orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah
yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya
kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun
kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu
diselamatkan-- dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan
memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan
datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang
melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus.
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu,
tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang
memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus
untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau,
supaya kita hidup di dalamnya”.
Nats di atas secara gamblang Paulus menjelaskan bahwa
pada prinsipnya semua manusia telah jatuh ke dalam dosa dan tidak ada
seorangpun yang dapat memperoleh keselamatan. Tetapi oleh kasih karunia Allah
maka orang percaya telah diselamatkan. Artinya bahwa keselamatan oleh iman
diperoleh semata-mata hanya karena kasih karunia Allah dan bukan karena
usaha-usaha manusia itu sendiri.
4.5.2. Dipersatukan di
dalam Kristus (Efesus 2:11-22)
“Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu--sebagai orang-orang bukan Yahudi
menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang
menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh
tangan manusia, bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan
Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan,
tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam
Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat"
oleh darah Kristus. Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah
mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu
perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum
Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya
menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai
sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah
oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan
memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai
sejahtera kepada mereka yang "dekat", karena oleh Dia kita kedua
pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan
lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus
dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan
para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh
seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam
Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah,
di dalam Roh”.
Dalam nats di atas Paulus menegaskan bahwa seluruh
orang yang percaya – baik orang Yahudi maupun orang yang bukan Yahudi – telah
dipersatukan oleh Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada lagi tembok pemisah antara
orang Yahudi dan orang yang bukan Yahudi. Melalui kematianNya di kayu salib,
hukum Taurat sebagai dasar pembenaran orang Yahudi (menurut pola pikir orang
Yahudi) dinyatakan tidak berlaku lagi sebagai dasar pembenaran baik bagi orang
Yahudi apalagi terhadap orang bukan Yahudi. Seluruh orang percaya telah menjadi
manusia baru di dalam diriNya.
Kata ‘membatalkan hukum Taurat’ pada nats di atas
sering ditafsirkan sebagai pernyataan Paulus membatalkan hukum Taurat. Dalam
konteks ini Paulus bermaksud bahwa tidak ada lagi perbedaan orang Yahudi dan
orang yang bukan Yahudi dalam memperoleh pembenaran di hadapan Allah. Kalau
hukum Taurat hanya diberikan kepada orang Yahudi bukan berarti bahwa hanya
orang Yahudilah yang punya kesempatan untuk memperoleh pembenaran di hadapan
Allah. Parameter perbuatan orang Yahudi yaitu Hukum Taurat telah ditiadakan
sebagai dasar pembenaran sehingga orang yang bukan Yahudi memperoleh kesempatan
yang sama dengan orang Yahudi untuk memperoleh pembenaran di hadapan Allah.
Jadi, Paulus sama sekali tidak membatalkan hukum Taurat.
4.6.
SURAT KEPADA JEMAAT DI FILIPI
4.6.1. Kebenaran yang
Sejati (Filipi 3:1-16)
“Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. Menuliskan hal
ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu. Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja
yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu, karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan
bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.
Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku
lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari
bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian
terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang
kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi
karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus
Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah
melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh
Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati
hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus,
yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan
persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam
kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna,
melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena
akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa
aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah
di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan
sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir
demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan
dinyatakan Allah juga kepadamu. Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita
capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh”.
Nats ini juga sering dikutip sebagai
dasar tuduhan bahwa Paulus telah meniadakan hukum Taurat. Tetapi kalau kita
cermati, Paulus mengungkapkan kekecewaannya terhadap apa yang dilakukannya
sebelum “ditangkap” Tuhan Yesus Kristus. Paulus menganggap bahwa dengan
mentaati hukum Taurat maka dia dapat memperoleh keselamatan. Ternyata apa yang
dilakukannya sebelum mengenal Tuhan Yesus Kristus yaitu berusaha mentaati
seluruh hukum Taurat ternyata sia-sia. Paulus berkata, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi
karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus
Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah
melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh
Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati
hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus,
yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan”.
Nats di atas tentu
ditujukan kepada orang percaya yang ada Filipi agar tidak lagi terjerumus dalam
lobang yang sama yang dialami oleh Paulus. Sekali lagi dalam nats ini Paulus
bukan membatalkan atau meniadakan hukum Taurat. Tetapi Paulus menegaskan bahwa
bukan dengan melakukan hukum Tauratlah dia memperoleh keselamatan tetapi
melalui pengenalan akan Tuhan Yesus Kristuslah dia memperoleh keselamatan.
4.7.
SURAT KEPADA JEMAAT DI KOLOSE
4.7.1. Kepenuhan Hidup
dalam Kristus (Kolose 2:6-15)
“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah
hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu
berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh
dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan
syukur. Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya
yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi
tidak menurut Kristus. Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh
kepenuhan ke-Allahan, dan kamu telah dipenuhi di dalam Dia. Dialah kepala
semua pemerintah dan penguasa. Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang
dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari
penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan
di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa
Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. Kamu juga, meskipun dahulu mati
oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah
dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala
pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh
ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya
dengan memakukannya pada kayu salib: Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan
penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas
mereka”.
Dalam nats di atas Paulus menegaskan makna sunat yang sebenarnya yaitu sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan
tubuh yang berdosa.
4.8.
SURAT KEPADA TIMOTIUS
4.8.1. Mengenai Ajaran
Sesat (1 Timoteus 1:3-11)
“Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah
mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang
tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain. Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul
dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus
ikhlas. Tetapi ada orang yang tidak sampai pada tujuan itu dan yang sesat dalam
omongan yang sia-sia. Mereka itu hendak menjadi pengajar hukum Taurat tanpa
mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka
kemukakan. Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan, yakni
dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar,
melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang
berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan
pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya, bagi orang cabul dan pemburit, bagi
penculik, bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu
yang bertentangan dengan ajaran sehat
yang berdasarkan Injil dari Allah yang mulia dan maha bahagia, seperti
yang telah dipercayakan kepadaku.”
Dalam nats di atas, Paulus menasehati Timotius agar
menasihatkan orang-orang tertentu yang mengajarkan ajaran lain. Apa ajaran
sesat itu? Apakah ajaran hukum Taurat merupakan ajaran sesat? Ajaran sesat itu
adalah mengajarkan hukum Taurat tanpa memahami perkataan mereka sendiri dan
pokok-pokok yang secara mutlak dikemukakan.
Dalam surat-suratnya kepada jemaat lain, Paulus
selalu mengemukakan bahwa hukum Taurat bukanlah dasar pembenaran, inti daripada
hukum Taurat adalah kasih. Kemungkinan Paulus mengetahui bahwa ajaran hukum
Taurat yang diajarkan itu telah melenceng. Beberapa ahli mengemukakan bahwa
ajaran yang diajarkan pada waktu itu adalah ajaran Yudaisme yaitu suatu ajaran
untuk kembali ke hukum Taurat seperti pola pikir ahli-ahli Taurat dan
orang-orang Farisi sehingga Paulus secara tegas mengatakan bahwa ajaran itu
adalah sesat. Paulus menegaskan bahwa ‘kesesatan’ ajaran tersebut bukan dari
esensi hukum Taurat itu sendiri. Tetapi kesesatan tersebut adalah karena
pengajar hukum Taurat itu “tidak memahami perkataan mereka sendiri dan
pokok-pokok yang secara mutlak dikemukakan”. Mengenai esensi hukum Taurat,
Paulus mengatakan bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan, yaitu
keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi
orang yang jahat. Sehingga dengan demikian Paulus mengingatkan Timotius bahwa
tujuan keberadaannya di Efesus adalah untuk menasihati para pengajar sesat
tersebut.
4.9.
SURAT KEPADA TITUS
4.9.1. Pesan Pesan Penutup
(Titus 3:1-14)
Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang
yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik.
Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka
selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang. Karena dahulu kita
juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai
nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling
membenci. Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya
kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena
perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh
permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh
Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat
kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak
menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita. Perkataan ini benar
dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah
percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik.
Itulah yang baik dan berguna bagi manusia. Tetapi hindarilah persoalan yang
dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran
mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka. Seorang bidat yang sudah satu dua kali
kaunasihati, hendaklah engkau jauhi. Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu
benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri. Segera sesudah
kukirim Artemas atau Tikhikus kepadamu, berusahalah datang kepadaku di
Nikopolis, karena sudah kuputuskan untuk tinggal di tempat itu selama musim
dingin ini. Tolonglah sebaik-baiknya Zenas, ahli Taurat itu, dan Apolos, dalam
perjalanan mereka, agar mereka jangan kekurangan sesuatu apa. Dan biarlah
orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat
memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah.
Dalam
pesan penutupnya kepada Titus, Paulus menegaskan bahwa Tuhan telah
menyelamatkan manusia, bukan karena perbuatan baik yang telah dilakukan, tetapi
karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang
dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya oleh Yesus Kristus,
Juruselamat. Selanjutnya orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak
menerima hidup yang kekal.
Selain
itu, Paulus mengingatkan agar Titus menghindari persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan
silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu
tidak berguna dan sia-sia belaka.
4.10.
AJARAN PAULUS TENTANG HUKUM TAURAT
Dari uaraian di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa Paulus sama sekali
tidak membatalkan hukum Taurat. Apabila ditelaah lebih jauh pola berpikir
Paulus mengenai hukum Taurat, maka jelaslah bahwa Paulus mengatakan bahwa semua
manusia sebenarnya binasa. Bangsa Yahudi binasa karena tidak melakukan hukum
Taurat dan bangsa non Yahudi akan binasa karena tidak menuruti ‘hukum taurat’
yang tertulis dalam hati dan suara hatinya. Jadi, tidak ada seorangpun yang
berbuat baik sehingga tidak ada seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan
Allah termasuk karena melakukan hukum Taurat.
Keselamatan bangsa-bangsa non Yahudi yang tidak mengejar
kebenaran melalui hukum Taurat telah beroleh kebenaran yaitu kebenaran karena
iman. Sedangkan bangsa Israel sesat karena walaupun mengejar hukum Taurat yang
mendatangkan kebenaran tetapi mereka sendiri tidak sampai kepada hukum Taurat
sehingga mereka tidak dapat meraih kebenaran, karena bangsa Israel mengejar
hukum Taurat karena perbuatan dan bukan karena iman. Sehingga hukum Taurat
tidak dapat menyelamatkan orang Yahudi.
Hal ini bukan berarti
hukum Taurat tidak diperlukan. Justru melalui hukum Taurat manusia mengetahui
dan menyadari bahwa ia seorang yang berdosa. Di dalam hati manusia pada
dasarnya suka akan hukum Allah tetapi di dalam anggota-anggota tubuhnya ada
hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budi dan membuatnya menjadi tawanan
dosa.
Kemudian, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan yaitu
kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang
percaya. Pembenaran manusia di hadapan
Allah adalah semata-mata berdasarkan iman. Tidak seorangpun yang dibenarkan
oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Yesus
Kristus.
Ada perbedaan antara kebenaran hukum Taurat dengan kebenaran
karena iman. Kebenaran hukum Taurat adalah orang yang melakukan hukum Taurat
akan hidup karena hukum Taurat, tetapi kebenaran karena iman adalah Firman itu
dekat dengan diri manusia yakni di dalam mulut dan di dalam hati. Kebenaran
iman adalah: barangsiapa yang mengaku dengan mulutnya, bahwa Yesus adalah
Tuhan, dan percaya dalam hatinya, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari
antara orang mati, akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan
dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.
Hasil pembenaran adalah hidup yang kekal, hidup damai
sejahtera dengan Allah, beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia,
menerima kemuliaan Allah, bahkan bermegah dalam kesengsaraan yang menuntut
ketekunan sehingga tahan uji serta melahirkan pengharapan.
Paulus menegaskan bahwa hukum Taurat bukan
berasal dari pikiran manusia. Paulus sama sekali tidak
membatalkan hukum Taurat tetapi justru ia meneguhkannya. Menurut Paulus hukum
Taurat adalah kudus dan perintah Tuhan juga adalah kudus, benar dan baik.
Ajaran Paulus tidaklah bertentangan dengan hukum Taurat.
Kasih merupakan kegenapan hukum Taurat. Kasih tidak berbuat jahat terhadap
sesama manusia sehingga kasih adalah kegenapan hukum Taurat. Menerapkan hukum Kasih sebagai inti daripada hukum Taurat bukan untuk
memperoleh pembenaran tetapi merupakan buah dari pembenaran itu sendiri. Jangan
terbalik! Kita mengasihi Allah bukan agar Allah mengasihi kita, tetapi
kita mengasihi Allah karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita.
Kita mengasihi sesama manusia bukan agar Allah juga mengasihi kita atau agar
sesama mengasihi kita. Tetapi kita mengasihi sesama manusia karena Allah
telah terlebih dahulu mengasihi kita. Inilah esensi hukum Kasih bagi orang
yang telah dibenarkan melalui darah Tuhan Yesus Kristus.
Selanjutnya Paulus menegaskan bahwa seluruh orang
yang percaya – baik orang Yahudi maupun orang yang bukan Yahudi – telah
dipersatukan oleh Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada lagi tembok pemisah antara
orang Yahudi dan orang yang bukan Yahudi. Melalui kematianNya di kayu salib,
hukum Taurat sebagai dasar pembenaran orang Yahudi (menurut pola pikir orang
Yahudi) dinyatakan tidak berlaku lagi sebagai dasar pembenaran baik bagi orang
Yahudi apalagi terhadap orang bukan Yahudi. Seluruh orang percaya telah menjadi
manusia baru di dalam diriNya.
Dalam surat Paulus kepada jemaat di Galatia, ia menegaskan
bahwa: janji Allah secara historis mendahului pemberian Taurat. Janji yang
sebelumnya telah disahkan Allah tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat yang
baru ada 430 tahun kemudian sehingga janji itu hilang kekuatannya (Galatia
3:17). Ia melihat dengan jelas konsekwensi hal tersebut. Ia yakin sekali janji
itu diberikan tidak ada yang dapat mengubahnya. Karena janji itu menuntut
tanggapan iman, maka ia berpendapat bahwa Taurat tidak dapat membatalkannya.
Taurat tak dapat menuntut suatu pendekatan terhadap kebenaran yang lain
daripada pendekatan yang dituntut oleh janji Allah kepada Abraham, yaitu
melalui iman. Begitupun ini tidak berarti bahwa janji dan Taurat bertentangan
satu sama lain (Galatia 3:21). Paulus melihat di dalam Taurat suatu ungkapan
anugerah Allah. Memang Taurat itu sendiri didasarkan kepada janji. Jika Taurat
dilaksanakan, keselamatan pasti terjamin: inilah janji Taurat. Tetapi Paulus
mengetahui sepenuhnya bahwa tidak seorangpun yang pernah melaksanakan seluruh
hukum Taurat, kecuali Yesus Kristus. Kelemahan utama Taurat adalah, ia hanya
dapat memperlihatkan bahwa orang sudah melakukan pelanggaran, ia tidak dapat
menghidupkan (Galatia 3:21). Oleh sebab itu, Paulus mengatakan bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan
oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh iman dalam Kristus Yesus,
sebab tidak ada seorangpun dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat
(Galatia 2:16).
Untuk memperluas wawasan mengenai Teologia Paulus tentang Hukum Taurat, ada
beberapa ahli yang mengatakan bahwa Paulus melawan Hukum Taurat di antaranya
adalah Alain Badiou. Menurut Badiou peristiwa pembebasan di dalam Yesus Kristus
sebagai sesuatu yang menentukan, sehingga untuk memahami perkataan Paulus
tentang Hukum Taurat tidaklah boleh lepas dari peristiwa Kristus ini. Badiou
sendiri melihat empat konsep yang sangat berhubungan dengan pilihan fundamental
manusia sebagai subjek, yaitu: pistis (iman) dan ergon (kerja); kharis
(anugerah) dan nomos (Hukum Taurat). Menurut Badiou, Paulus menghubungkan apa
yang ia sebut sebagai "Jalan Kedagingan" (sarx) dengan Hukum Taurat
dan kerja bagi Hukum Taurat, dan membedakan dengan apa yang dinamakan sebagai
"Jalan - Manusia - Roh (Pneuma) yang dihubungkan dengan iman dan anugerah.
Menurut Badiou, Paulus menolak Hukum Taurat sebab hal itulah yang membawa
kepada jalan kematian atau kedagingan. Karena secara partikular, menurut
Badiou, Paulus melihat bahwa kerja di bawah Hukum Taurat telah menghalangi
anugerah yang universal melalui iman. Menurut Badiou, Paulus melihat secara
struktur ontologis bahwa tidak ada peristiwa tentang Yang Esa secara
partikular. Sebab universalitas merupakan satu-satunya cara yang mungkin untuk
memahami Yang Esa itu. Sedangkan alat untuk menyingkapkan Kebenaran itu tidak
lain adalah Yang Esa (realitas ilahi yang transenden dan monoteis),
universalitas (kemanusiaan) dan yang singular (peristiwa Kristus). Sedangkan
yang partikular, yaitu budaya, Hukum Taurat tidak dapat dikaitkan dengan hal
itu.
Jadi bagi Paulus, apa yang dapat membawa manusia kepada yang universal itu? Paulus menurut Badiou mengatakan: bukanlah sesuatu yang berkenaan soal Hukum Taurat yang bersifat partikular dan parsial. Paulus menyadari bahwa Hukum Taurat membawa kepada pembentukan karakter manusia secara statis dan dikontrol. Namun, jika Kebenaran telah menyatakan diri dalam peristiwa Kristus, maka seharusnya Kebenaran adalah sesuatu yang nondenumerable, impredicable dan uncontrollable. Hal inilah yang dinamakan Paulus sebagai anugerah yang bersifat translegal, yang dapat menjumpai siapa saja. Menurut Badiou, dalam hal ini Paulus menempatkan anugerah sebagai lawan dari Hukum Taurat.
Pendapat Badiou tentang Paulus yang melawan Hukum Taurat akan terlihat ketika ia mengatakan bahwa tesis fundamental Paulus dalam memahami Hukum Taurat adalah bahwa Hukum Taurat membawa keinginan untuk otonomi subjek, dan dari sini kemudian membawa subjek kepada jalan kematian. Hal ini akan terlihat jelas ketika salah satu theorema Badiou mengatakan begini: “But the path of sin is theat of death. Consequently, it becomes possible to day (and this lies at the heart of Paul's discourse) with the law, the path of the death, which was itself dead, becomes alive once more. The law gives life to death, and the subject as life according to the spirit falls onto the side of death. The law distributes life on the side or the path of death, and death on the side of the path of life”. Dengan demikian, berdasarkan pandangan Badiou pada umumnya pandangan Kristen kepada Hukum Taurat sangatlah negatif.
Sejalan dengan pandangan umum yang berlaku ini, David Stern di dalam
bukunya Restroring The Jewishness of The
Gospel mengatakan bahwa pemahaman yang umum dipakai oleh orang-orang
Kristen mengenai perkataan-perkataan Paulus tentang Hukum Taurat adalah bahwa
Taurat tidak lagi mempunyai kekuatan apa-apa. Hal ini sangat disayangkan oleh
Stern, karena dengan begitu teologi Kekristenan dan teologi Yahudi tidak akan
dapat "berjalan bersama". Memang pada kenyataannya topik tentang Hukum
Taurat tidaklah menjadi pusat perhatian teologi Kristen, namun justru menjadi
salah satu titik sentral bagi Yudaisme dalam memandang teologi mereka. Bahkan
menurut Stern ada suatu prasangka anti-Yahudi di dalam membaca Perjanjian Baru
itu yang telah terjadi sejak Gereja mula-mula berdiri. Martin Luther dalam
bukunya On The Jews and Their Lies
memperlihatkan dirinya memiliki prasangka anti-Yahudi dengan menyalahkan orang
Yahudi saat kisah penyaliban Yesus, sehingga menganjurkan kepada orang-orang
Kristen untuk membakar Sinagoge Yahudi, menghancurkan tempat kediaman mereka
dan memusnahkan kitab Talmud Yahudi, dan lain-lain. Stern dengan tegas
mengatakan bahwa dalam hal ini: "I
believe that christianity has gone far astray in its dealings with the subject
adn that the most urgent task of theology today is get right its view of the
Law". Menurut Stern, Perjanjian Baru itu sendiri sebenarnya tidaklah
mengandung muatan-muatan anti-Yahudi. Stern mengingatkan bahwa kitab Perjanjian
Baru adalah Kitab Yahudi. Mulai dari Yesus dan murid-murid-Nya sampai pada
Paulus, mereka adalah sama-sama orang Yahudi dan berbicara dengan bertolak dari
latar belakang pemahaman Yahudi.
Lalu di mana letak permasalahannya ketika Stern menyebutkan adanya kecenderungan anti Yahudi di dalam Perjanjian Baru Kristen? Permasalahannya terletak pada penerjemahan Perjanjian Baru itu sendiri yang kemudian memunculkan terjemahan yang terkesan anti Yahudi, sehingga pembaca diajak untuk membangun pemahaman teologi anti Yahudi. Demikian juga adanya dengan perkataan-perkataan Paulus mengenai Hukum Taurat, tidak terlepas dari segi penerjemahan dan penafsiran yang seakan-akan diarahkan menuju pemahaman yang menilai bahwa Hukum Taurat itu tidak lagi mempunyai kekuatan apa-apa dalam kekristenan.
David Stern membawa pemahaman baru ketika orang Kristen memandang Hukum
Taurat di dalam Perjanjian Baru. Oleh sebab itu Stern memberikan beberapa
contoh perkataan Paulus untuk menunjukkan pandangannya atas perkataan Paulus
tentang Hukum Taurat:
1. Roma 10:4. Dikatakan bahwa "Sebab Kristus adalah kegenapan Hukum
Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang percaya".
Persoalannya terletak pada penafsiran kata "menggenapi" (end;
mengakhiri) Hukum Taurat. Apakah Mesias membuat Hukum Taurat pada kesudahannya,
perhentiannya? Kata menggenapi sebenarnya adalah terjemahan dari kata Yunani
"telos" yang artinya: tujuan, perwujudan, penyempurnaan, tetapi
bukanlah kesudahan ataupun perhentian. Kedatangan Mesias tidak mengakhiri
keberadaan Hukum Taurat itu sendiri, melainkan melalui Mesias itulah Hukum
Taurat menjadi sempurna di dalam-Nya.
2. Teologi Kristen mengenai Hukum
Taurat banyak sekali mendasari dirinya pada kesalahpahaman penafsiran dua
bentuk ekspresi kalimat bahasa Yunani yang Paulus gunakan. Kalimat upo nomon,
yang diterjemahkan menjadi "di bawah Hukum Taurat" (muncul 10 kali
dalam Roma, I Korintus dan Galatia) dan kalimat "ergou nomou", yang
diterjemahkan sebagai "melakukan Hukum Taurat" (muncul 10 kali di
Roma dan Galatia). Memang kesan pertama yang terlihat adalah Paulus menganggap
jelek dan negatif Hukum Taurat: "berada
di bawah Hukum Taurat itu buruk dan melakukan Hukum Taurat juga buruk."
Akan tetapi ternyata kedua terjemahan ini membawa kita pada pemahaman yang
salah. Menurut Stern, Paulus tidak menganggap bahwa hidup dalam kerangka
mematuhi dan mentaati Hukum Taurat itu adalah sesuatu yang buruk; Sebab di lain
pihak kita juga menemukan kata-kata yang lebih positif dari Paulus saat
berbicara mengenai Hukum Taurat, seperti di Roma 7:12 "Jadi Hukum Taurat adalah kudus dan perintah
itu juga adalah kudus, benar dan baik".
Jadi menurut Stern "dalam tata bahasa Yunani di masa Paulus tidak terdapat kata-kata yang sesuai dengan kata di masa kini yang mengacu pada "legalisme", "legalist" dan "legalistik". Artinya, Paulus kekurangan ungkapan kata yang sesuai untuk mengatakan suatu perbedaan yang penting yang mengakibatkan adanya penghambatan upaya untuk memperjelas posisi kekristenan dalam hal memandang Hukum Taurat. Maka kita harus mempertimbangkan kemungkinan yang lain yang mungkin muncul, meski sekilas pernyataan Paulus itu terkesan meremehkan dan merendahkan Hukum Taurat, tetapi sebenarnya kalimat itu bukan ditulis dengan tujuan melawan Hukum Taurat itu, melainkan melawan kesalahpahaman dan penyalahgunaan dari Hukum Taurat.
Sejalan dengan hal ini, maka menarik sekali untuk menyimak pendapat dari Calvin ketika memandang Hukum Taurat dari segi bahasa asli Ibrani: "Torah" dan dari bahasa Yunani: "Nomos". Menurut Roetzel, Torah dalam pemahaman bangsa Yahudi dimengerti sebagai "peraturan" (to direct) atau "perintah" (to instruct). Sehingga makna Torah dalam pengertian asalinya adalah seperti sebuah perintah yang diberikan guru kepada murid-muridnya. Torah adalah suatu perintah dan peraturan yang diberikan Tuhan kepada Israel, melalui para nabi yang menyampaikan Firman Allah itu, sekaligus perintah dan peraturan yang hadir bersamaan dengan kekayaan perjalanan sejarah iman Israel ketika mengalami Tuhan dalam hidup sehari-hari mereka.
Menarik untuk dilihat transliterasi Yunani-nya, kata Nomos yang digunakan untuk merujuk kepada Torah memiliki perbedaan makna yang menentukan maksud dari perkataan Paulus mengenai Hukum Taurat. Biasanya kata Nomos digunakan untuk menunjuk kepada tata peraturan yang berlaku dalam kehidupan suatu komunitas yang kemudian berpengaruh kepada tingkah laku tiap-tiap individu di dalamnya. Menurut Roetzel, Paulus sadar akan makna asali dari Torah dalam bahasa Ibrani, namun Paulus menggunakan kata Nomos dalam bahasa Yunani untuk menyampaikan maksud corak perbedaan dari Hukum (Law) yang sedang dibicarakan oleh Paulus kepada jemaat.
Secara lebih jelas Roetzel menyebutkan contohnya dalam Roma 8:2 ketika Paulus mengatakan: " ... memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut". Menurut Roetzel, kita seharusnya membaca teks ini dengan "memerdekakan kamu dalam Kristus dari prinsip keberdosaan (yang membawa) kepada kematian". Hal ini akan membuat kita melihat jelas bahwa Paulus tidak menyamakan begitu saja Hukum Taurat dengan kematian dan keberdosaan.
Begitu pula ketika kita membaca Roma 7:23, ketika Paulus berbicara tentang "hukum lain yang berjuang melawan hukum
akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam
anggota-anggota tubuhku" dan dalam ayat 3:27, ketika Paulus
mempertentangkan antara hukum yang berdasarkan perbuatan (law of works) dengan
hukum yang berdasarkan iman (law of faith), sebenarnya Paulus sedang menunjuk
kepada arti hukum secara prinsipil.
Oleh sebab itulah, menurut Roetzel, kita harus memahami kalimat erga nomou
bukan dalam artian "melakukan Hukum Taurat" melainkan "melakukan
pemahaman yang legalistik terhadap perintah-perintah Hukum Taurat". Kita
pun harus memahami pernyataan "di bawah Hukum Taurat" dengan pengertian
"berada di bawah sistem yang menghasilkan penyelewengan Hukum Taurat
kepada Legalisme". Jika hal ini mendapatkan perhatian dari teologi
Kristen, maka hal ini akan membawa pemahaman yang lebih baik dan positif
terhadap Taurat.
Selanjutnya, Galatia 3:10-13 mengatakan bahwa "karena semua orang yang hidup dari pekerjaan Hukum Taurat berada di bawah kutuk". Paulus mengatakan bahwa kutuk itu jatuh pada orang yang mencoba mentaati Taurat secara legalistik. Bagi Paulus, pendekatan yang legalistik itu artinya adalah juga sikap ketidaktaatan, sedangkan bagi Tanakh diperlukan ketaatan yang sejati yang datang dari iman.
Paulus memahami bahwa dari sisi teologis, Hukum Taurat adalah anugerah bagi
Israel, namun dari sisi antrophologis, Hukum Taurat tetap merupakan kultur yang
partikular. Sehingga Hukum Taurat tidak dapat dijadikan sebagai filter iman
dalam menerima Kristus sang Juruselamat itu. Tujuan Paulus berkata tentang
Hukum Taurat bagi orang-orangYahudi bukanlah agar orang Kristen Yahudi pada
waktu itu mengabaikan Hukum Taurat, melainkan untuk memahaminya dalam terang
Kristus yang membebaskan dari pemaknaan legalistik terhadap Hukum Taurat.
Sekaligus Paulus mengkritik pemahaman orang Kristen Yahudi yang menggunakan
filter iman dalam budaya Yahudi mereka kepada orang Kristen non-Yahudi. Sedangkan
bagi orang Kristen non-Yahudi, Paulus berkata tentang Hukum Taurat agar mereka
memahami bahwa Keselamatan itu memang berasal dari Yahudi (Yesus), namun
pemilihan Israel sebagai umat pilihan Allah bukanlah sesuatu yang bersifat
eksklusif. Paulus menginginkan suatu revolusi sosio-kultural-teologis dalam
memahami anugerah keselamatan Kritus yang universal itu ketika ia memandang
Hukum Taurat sebagai bagian dari budaya Yaudi dan diperhadapkan dengan budaya
non-Yahudi (Yunani) di dalamnya. Paulus ingin menerobos batasan pemahaman
Kristen Yahudi dan juga orang Kristen non-Yahudi, bahwa dalam memahami anugerah
keselamatan Allah dalam Kristus yang universal dam tidak terkurung dalam satu
budaya yang partikular dan terbatas.
Jadi perjanjian yang baru itu diberikan sebagai Taurat yang menyatakan secara tidak langsung bahwa Taurat tetap eksis dan dijalankan di masa kini. Memang cukup sulit bagi kita untuk dapat menyetujui secara langsung pendapat para ahli mengenai posisi Hukum Taurat dalam Perjanjian Baru, hanya dengan mengatakan bahwa tidak ada ekspresi kata dalam bahasa Yunani kala itu untuk merujuk kepada suatu tindakan yang legalistik dalam melakukan Hukum Taurat. Setidaknya, mereka telah berhasil menjembatani kebingungan banyak orang dalam memahami perkataan-perkataan Paulus mengenai Hukum Taurat, karena Paulus seakan-akan kadang kala menyebut Taurat adalah kudus, benar dan baik dalam Roma 7:12, di lain pihak, Paulus juga mengatakan bahwa sengat maut adalah dosa dan kuasa dosa ialah Hukum Taurat dalam I Korintus 15:56. Di satu sisi Paulus 'membaik-baikkan' Taurat dan di sisi lain 'meremehkan' Taurat.
Yang jelas adalah perkataan Paulus tentang Hukum Taurat bukanlah tujuan utama misi Paulus kepada orang-orang non-Yahudi, melainkan Paulus hendak memberitakan karya keselamatan yang sudah dilakukan Allah dalam Yesus Kristus yang mencakup seluruh umat manusia (universal). Ketika Paulus hendak menjelaskan pentingnya peristiwa Yesus kepada orang non-Yahudi, di sinilah letak permasalah sikap Paulus tentang Hukum Taurat itu yang seakan-akan ambivalen dan dualisme itu.
Paulus sama sekali tidak bermaksud meremehkan atau merendahkan atau berkata
negatif tentang Hukum Taurat. Kritikan Paulus bukanlah Hukum Taurat-nya,
melainkan pemahaman legalistik terhadap Hukum Taurat, di mana kemudian
menghasilkan pemahaman bahwa untuk dapat menjadi seorang Kristen itu haruslah
melewati filter iman budaya Yahudi. Paulus menginginkan adanya suatu revolusi
sosio-kultural-teologis dalam memahami karya penyelamatan Allah dalam Kristus yang
berlaku bagi seluruh umat manusia (universal), baik bagi orang-orang Yahudi,
maupun orang Yunani, bahkan bagi kita sekalian di msa kini yang juga telah
menerima Kristus Yesus sebagai Juruselamat yang sejati itu.
Tentu saja di masa kini orang-orang Kristen harus tetap menghargai dan menghormati (hukum) Taurat, sebab Taurat adalah anugerah pernyataan Allah atas apa yang Ia kehendaki untuk manusia lakukan dalam hidup ini. Yan perlu diperhatikan dalam rangka melakukan perintah Hukum Taurat adalah kita harus melihat Hukum Taurat itu dalam kerangka yang sudah diberikan oleh Yesus sendiri, pemahaman yang membebaskan diri dari legalisme. Matius 22:35-40 hendak mengatakan bagaimana sebenarnya cara pemahaman yang benar dalam memandang Hukum Taurat itu begini:
"Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
Walaupun bagi Paulus Taurat tetap merupakan pengungkapan
yang benar dan kudus tentang kehendak Allah, namun Taurat itu telah gagal
membuat manusia benar dihadapan Allah. Mustahil bagi manusia untuk dibenarkan
dengan melakukan hukum Taurat (Galatia 2:16).
Penegasan ini dilakukan Paulus karena dalam pola pikir
orang Yahudi pada waktu itu, hukum Taurat merupakan solusi untuk pembenaran.
Padahal hukum Taurat sebenarnya sama sekali tidak menolong dan menyelamatkan
manusia keluar dari hukuman dosa. Hukum Taurat tidak membuat manusia terhindar
dari murka Allah atas dosa manusia. Alasan yang paling kuat untuk ini adalah
karena hukum Taurat tidak diberikan kepada manusia supaya menyelamatkan manusia
tersebut. Hukum Taurat diberikan pada manusia untuk menyatakan, memperlihatkan
dan mengkarakteristikan dosa pada manusia.
Sebagaimana perkataan Paulus dalam Roma 2:17, terlihat
bahwa jemaat-jemaat Yahudi di Roma masih bersandar pada hukum Taurat. Jemaat
yang merupakan orang Yahudi ini bukan merupakan orang yang tidak beriman kepada
Kristus ataupun hanya mengandalkan hukum Taurat. Melalui ucapan syukur Paulus
dalam Roma 1:8 nampak bahwa jemaat Roma secara umum yang terdiri dari orang
Yahudi dan non-Yahudi tersebut adalah jemaat yang sungguh-sungguh beriman
kepada Kristus. Namun dalam iman mereka kepada Kristus tersebut, jemaat Yahudi
mengganggap bahwa hukum Taurat juga dibutuhkan untuk mencapai keselamatan
tersebut. Hukum Taurat sebagai pemberian Allah yang nyata membuat mereka merasa
berbeda dari bangsa-bangsa lain oleh karena bangsa Yahudi “tahu” kehendak Allah
dari hukum Taurat yang mereka miliki tersebut. Oleh sebab itu orang Kristen
Yahudi merasa bangga dengan pengetahuan yang mereka miliki melalui hukum Taurat
yang secara langsung berhubungan juga dengan bangga terhadap hukum Taurat dan
usaha mereka menegakkan hukum Taurat tersebut.
Akan tetapi hukum Taurat tidak menyelamatkan. Hal ini yang
berulangkali ditegaskan oleh Paulus dalam Roma 3:20. Hukum Taurat bahkan
berakibat kepada bertambahnya pelanggaran (Roma 5:20). Hal ini disebabkan oleh
karena fungsi hukum Taurat itu memang pada dasarnya bukan untuk menyelamatkan
ataupun membenarkan manusia, melainkan untuk mendefinisikan dosa. Orang Yahudi
mengklaim hukum Taurat sebagai sarana pendidikan dan keselamatan dalam sejarah
umat manusia.
Dalam realitanya, memang sesudah hukum Taurat diberikan,
pelanggaran tidak menjadi berkurang, tapi makin bertambah karena hukum Taurat
menyediakan kesempatan untuk pelanggaran atas berbagai perintah yang spesifik.
Kesalahannya bukan terletak pada hukum Taurat, namun pada kejahatan hati
manusia yang membuatnya berespons memberontak terhadap hukum yang diberikan.
Ketidakmampuan manusia untuk melakukan hukum Taurat dengan cermat dan
kecondongan hatinya untuk melanggar hukum yang diberikan menunjukkan bahwa
tidak ada kemungkinan untuk mendapat pemulihan hubungan dari seteru Allah
kepada sebuah perdamaian dengan Allah melalui hukum Taurat itu. Hukum Taurat tidak menyelamatkan melainkan
hanya membuat manusia sadar akan dosanya.
4.11.
KONSEP ANUGERAH
MENURUT PAULUS
Anugerah merupakan sebuah pokok pembahasan yang penting
dalam surat-surat Paulus. Lebih lanjut, di sepanjang surat Roma misalnya,
Paulus juga berulang-ulang menyebut dan mengajarkan tentang anugerah Allah,
baik dalam hubungan dengan panggilan kerasulannya oleh Kristus (Roma 1:5)
maupun dalam hubungan dengan keselamatan. Secara khusus kita akan melihat
konsep anugerah Paulus yang terdapat dalam tulisannya kepada jemaat Roma.
Anugerah diungkapkan oleh Paulus dalam tulisan-tulisannya
dengan menggunakan kata “carij” (kharis). Menurut arti katanya, kharis
berarti “kemurahan,” “kebaikan hati Allah,” “rencana yang penuh kemurahan,”
atau “pemberian gratis yang dimanifestasikan oleh Allah terhadap manusia yang
dinyatakan dalam injil-Nya.” Dalam penggunaan kata kharis oleh Paulus,
anugerah tidak hanya memiliki arti yang terkandung dalam kata Ibrani hen,
melainkan gabungan dengan makna yang terkandung juga dalam kata Ibrani lainnya
untuk anugerah yaitu hesed.
Anugerah yang dibahas oleh Paulus dalam surat Roma ini
tidak berdiri sendiri tanpa hubungan dengan karya-karya Allah yang lainnya.
Sebaliknya, anugerah merupakan suatu kesatuan dari rentetan karya Allah dalam
diri manusia yang akan dibahas pada bagian berikut ini.
4.11.1.
Anugerah Merupakan
Inisiatif Allah
Anugerah
artinya suatu pemberian gratis dan lebih mengacu kepada tindakan kebaikan hati
dari Allah kepada manusia yang tidak disebabkan oleh sesuatu apa pun dalam diri
manusia.
Anugerah secara faktual merupakan tindakan penyelamatan hasil keputusan Allah
sendiri di dalam Yesus Kristus. Paulus, baik melalui salam pembuka surat maupun
dalam isi suratnya, memperlihatkan bahwa sumber anugerah itu datang dari Allah
Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Keselamatan yang diteruskan dengan panggilan
kerasulannya datang dari Allah. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa inisiatif
pemberian anugerah adalah bukan dari manusia melainkan sepenuhnya dari Allah.
4.11.2.
Anugerah Merupakan
Lawan dari Dosa
Anugerah dan dosa adalah dua kekuatan yang saling bertentangan. Anugerah tidak mendorong perbuatan dosa dengan lebih besar dan banyak lagi, demikian juga dosa yang bertambah-tambah bukan jalan mendapatkan anugerah yang lebih besar lagi. Jika Paulus dalam Roma 5:2-21 berkata “dosa bertambah banyak” yang dilanjutkan dengan frasa “kasih karunia menjadi berkelimpahan,” maksud Paulus adalah untuk menyatakan suatu kategori keadaan anugerah yang berlimpah-limpah yang melampaui kelimpahan dosa. Kalimat Paulus tidak dimaksudkan untuk membicarakan tentang penambahan dosa secara kualitas maupun kuantitas. Namun Paulus sedang menggambarkan kekuatan anugerah yang melebihi kekuatan dosa di mana anugerah menang mengatasi dosa.
4.11.3.
Anugerah Berlanjut
kepada Pengudusan
Anugerah tidak berhenti pada pembenaran oleh iman, namun berlanjut kepada pengudusan orang percaya yang menerima anugerah. Pengudusan ini bukan merupakan pengudusan terhadap status dan relasi manusia secara rohani di hadapan Allah, akan tetapi mengacu kepada tindakan luar manusia di hadapan tuntutan kebenaran dan standar kekudusan Allah sendiri. Jika pada tahap penganugerahan pembenaran peran manusia tidak dilibatkan di dalamnya, maka pada tahap ini manusia terlibat untuk bertanggung jawab atas hidupnya sesuai dengan statusnya yang baru dengan kekuatan dari Roh Kudus yang diberikan kepadanya.
Setelah manusia dibenarkan Allah, ia tidak lagi memilih
hidup di bawah dosa. Hidupnya telah mati terhadap dosa, saat itu adalah akhir
dari kehidupan yang lama yang ada di bawah pemerintahan dosa. Paulus menegaskan
bahwa pembenaran itu membawa manusia kepada pembaharuan hidup yang di dalamnya
mengandung makna pertumbuhan pada diri manusia baru tersebut. Dalam hidup yang
baru, manusia lama telah disalibkan bersama Kristus dan bersamaan dengan itu
kuasa dosa hilang. Namun hilangnya kuasa dosa terhadap diri orang yang
mengalami anugerah bukan berarti dosa yang dilenyapkan sama sekali. Dosa tetap
ada dan mungkin dilakukan oleh manusia, bedanya adalah jika dalam manusia lama natur
yang dimiliki oleh orang tersebut adalah natur berdosa dan selalu dikontrol
oleh dosa sehingga perbuatan dan pikirannya selalu kepada dosa, maka dalam diri
manusia yang baru ia menyerahkan diri pada Allah untuk dikontrol oleh-Nya.
Manusia yang baru menyandarkan pengetahuan dan keputusannya kepada Tuhan.
Sesuai dengan naturnya yang baru, maka keputusan-keputusan, tindakan,
pemikiran, dan kehendak manusia baru disandarkan pada pimpinan Tuhan. Manusia
baru berusaha bertanggung jawab atas hidupnya dalam pimpinan Roh Kudus dengan
kehendak untuk mengambil keputusan dan pilihan yang benar sesuai dengan
statusnya yang baru di hadapan Allah.
Di dalam kehidupan yang sudah diperbaharui seseorang tidak
mungkin untuk berada di bawah kuasa dosa dan berada di bawah kuasa kebenaran
secara bergantian dan bergiliran terus-menerus. Selain itu juga tidak ada jalan
tengah di antara keduanya. Kejatuhan manusia dalam dosa dalam hidup baru bukan
sesuatu yang disengaja dan dilakukan berulang-ulang. Dengan menyebutkan bahwa manusia
baru sudah dibaptiskan (bersatu) dengan Kristus, dalam konsep yang diajarkan
Paulus jelas bahwa orang yang sudah menerima anugerah memiliki kehendak sesuai
dengan Kristus. Kondisi ini yang tidak memungkinkan manusia baru dengan sengaja
menghendaki untuk melakukan dosa.
Manusia baru bisa sesekali gagal dalam pergumulannya antara
menuruti keinginan dosa dan melakukan kehendak Allah sehingga ia gagal pula
dalam tanggung jawab pribadinya untuk mengambil keputusan yang benar. Hal ini
sangat mungkin terjadi di dalam proses pengudusan, namun orang yang hidup dalam
anugerah akan kembali kepada kehendak Allah dalam suatu penyesalan akan
dosa-dosanya dan tidak berkehendak untuk melakukan mengulangi apalagi menambah
dosanya.
Ketika hidup manusia berakhir di dunia (mengalami kematian
fisik) maka proses pengudusan pun berakhir. Pada akhir dari proses pengudusan
tersebut manusia baru menerima pemberian hidup yang sudah dimulai sejak ia
dibenarkan oleh Allah. Hidup kekal maupun pembenaran oleh iman adalah bentuk pemberian
anugerah oleh Allah kepada manusia secara gratis.
BAB V
TEOLOGIA MARTIN LUTHER TENTANG HUKUM TAURAT DAN
INJIL
5.1. MARTIN LUTHER (1483-1546)
5.1.1. Biografi
Martin Luther merupakan salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam
bidang historiografi pada abad ke-16 khususnya di Eropa. Martin Luther adalah
seorang reformator di Jerman dari gereja Katolik yang pengaruh pemikirannya
masih dapat dirasakan hingga saat ini, di antaranya adalah dengan lahirnya
geraja Kristen Protestan di berbagai belahan penjuru dunia.
Martin Luther lahir pada tanggal 10 November 1483 di Eisleben, dan dibabtis pada
keesekoan harinya bertepatan dengan hari Santo Martin. Ia adalah anak dari seorang
penambang yang bernama Hans Luder dan ibunya Margaretha seorang pedagang. Martin Luther juga mempunyai
beberapa saudara laki-laki dan perempuan, dan yang paling dekat dengan Martin
Luther adalah saudaranya yang bernama Jacob.
Ayahnya berkeinginan menjadikan Martin sebagai seorang pengacara handal.
Untuk mewujudkan keinginannya itu, pada awalnya ayahnya mengirimkan Martin
Luther untuk belajar di sekolah latin di Mansfeld. Pelajaran yang paling
difokuskan dalam sekolah tersebut adalah Trivium,
yaitu menyangkut tentang tata bahasa, retorikan serta logika dari ilmu
pengetahuan. Pada tahun 1501 atau tepatnya pada usia ke-17 tahun, Martin Luther
melanjutkan sekolahnya di Universitas Erfurt untuk belajar hukum. Setahun
kemudian ia lulus dengan gelar sarjana filsafat dan melanjutkan sekolahnya untuk
mengambil gelar magisternya di sekolah hukum pada tahun 1505.
Namun, semuanya itu berubah ketika pada suatu hari di musim panas pada usia 21
tahun (tahun 1505), terjadilah serangan badai, dimana petir menyambar di dekatnya ketika ia
sedang berjalan pulang dari kuliah. Dalam ketakutan, ia berseru,
"Tolonglah, Santa Anna! Saya akan menjadi biarawan!". Karena nyawanya
selamat, Martin Luther meninggalkan sekolah hukumnya dan masuk ke biara
Augustinian di Erfurt. Martin Luther memasuki biara Serikat Eremit Agustinus
yang terkenal keras. Bisa dibayangkan betapa kecewanya ayahnya kepada Martin Luther, karena
ayahnya menginginkan ia menyelesaikan studi hukumnya.
Di dalam biara, Martin Luther berusaha mematuhi segala peraturan
biara melebihi biarawan lainnya. Martin Luther berusaha menjadi yang paling
saleh dan yang paling rajin di antara para biarawan. Ia juga seorang yang
serius, tekun dan pandai, karena itulah ia ditugasi belajar Teologi. Selama belajar teologi, Martin Luther
mempergumulkan tentang keselamatan. Ia
masuk biara dengan tujuan untuk memperoleh kepastian keselamatan atas dirinya.
Ia mencari jawaban atas pergumulannya dengan melakukan semua peraturan gereja
yang berlaku pada saat itu. Martin Luther selalu berusaha mengabdikan dirinya
sepenuhnya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia pun melakukan berbagai
perbuatan baik, seperti puasa, berdoa selama berjam-jam, menolong orang,
menyiksa dirinya, mengakui semua dosa-dosanya dan mengunjungi makam para santo.
Semakin ia berusaha dekat dengan Tuhannya, maka ia merasa semakin mengetahui
akan keberadaannya yang penuh dosa sehingga ia semakin putus asa
dan takut bertemu dengan TUHAN, Sang hakim yang penuh murka.
Tugas utama Marrtin Luther sebagai biarawan adalah menafsirkan
Alkitab. Ia kemudian menterjemahkan Alkitab dalam bahasa Jerman, agar sebanyak
mungkin orang Jerman dapat membaca Alkitab, mengingat pada waktu itu warga
gereja tidak dapat membaca Alkitab dalam bahasa mereka sendiri sebab hanya
tersedia Alkitab dalam bahasa Latin yang disebut Vulgata dan hanya boleh dibaca oleh kaum Klerus
atau rohaniawan. Kemudian, Martin Luther
ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1507 dan pada tahun 1508 ia mulai mengajar Teologi di
Universitas Wittenberg.
Martin Luther mendapatkan gelar sarjananya dalam Studi Alkitab pada 9 Maret
1508, yang disusul meraih gelar sarjananya dalam Sentences karya Petrus
Lombardus pada 1509. Pada 9 Oktober 1512, Martin Luther menerima gelar Doktor
Teologi. Kemudian pada 21 Oktober 1521 Martin Luther diterima menjadi “anggota
senat dosen teologi" dan diangkat menjadi Doktor dalam Kitab Suci .
Pada sekitar tahun 1514 Luther menemukan jawaban yang
dicarinya selama ini. Dari Roma 1:16-17, Luther menemukan kebenaran Allah dan bahwa
Firman Tuhanlah yang dapat membebaskan dia. Kebenaran yang dimaksudkan adalah
rahmat Tuhan yang menerima orang-orang berdosa. Ia menemukan dirinya sebagai
orang berdosa yang patut dihukum namun karena rahmat-Nya, Allah menerimanya dan
membenarkannya. Kebenaran itu bukan untuk menghakimi melainkan pembenaran oleh
iman. Injil tidak menunjukkan penghukuman atau murka Allah tetapi penyelamatan
dan pembenaran. Dengan menemukan makna ayat-ayat itu, Luther merasa dilahirkan
kembali. Bagi Luther, ayat-ayat itu merupakan kunci untuk memahami Alkitab dengan
cara yang baru. Ternyata Allah yang ditemukan dalam Alkitab itu berbeda sekali
dari Allah yang dikenalnya dalam ajaran gereja.
Melalui pengalaman dan pemahaman baru itu, Luther
menghayati hubungan antara Allah dan manusia dengan cara yang baru.
Pemahaman dan penghayatan Luther yang baru ini tersiar di lingkungan
Universitas Wittenberg melalui khotbah dan pengajarannya serta menjadi titik
tolak dari pusat gerakan reformasi.
Disiplin yang sangat ketat untuk mendapatkan gelar-gelar akademik dan
mempersiapkan kuliah-kuliah, mendorong Martin Luther untuk mempelajari Kitab
Suci secara mendalam. Karena terpengaruh oleh seruan Humanisme ad fontes
("kembali ke sumbernya"), Martin Luther menenggelamkan dirinya dalam
mempelajari Alkitab dan Gereja perdana. Dengan segera istilah-istilah seperti
penyesalan dan pembenaran mendapatkan makna yang baru bagi Martin Luther. Ia
menjadi yakin bahwa Gereja telah keliru dalam beberapa kebenaran sentral dari
Kekristenan yang diajarkan dalam Kitab Suci, yang terpenting di antaranya
adalah doktrin tentang pembenaran oleh iman semata. Martin Luther mulai
mengajarkan bahwa keselamatan sepenuhnya adalah pemberian dari anugerah Allah
melalui Kristus yang diterima oleh iman.
Belakangan, Martin Luther mendefinisikan dan memperkenalkan kembali prinsip
tentang pembedaan yang semestinya antara Hukum Taurat dan Injil yang mendasari
teologinya tentang anugerah. Secara keseluruhan, Martin Luther percaya bahwa
prinsip penafsiran ini merupakan titik awal yang penting dalam mempelajari
Kitab Suci. Martin Luther melihat kegagalan untuk membedakan Hukum Taurat dan
Injil yang semestinya sebagai sumber penghalang Injil Yesus Kristus di Gereja
pada masanya, yang pada gilirannya menyebabkan munculnya berbagai kesalahan
teologis yang dogmatis.
Selanjutnya Luther memimpin gerakan reformasi gereja.
Munculnya gerakan reformasi ini dilatarbelakangi adanya perbedaan antara ajaran
atau teologi dan praktek gereja dengan ajaran Alkitab. Peristiwa reformasi
dipicu oleh adanya penjualan surat penghapusan siksa (aflat) di Jerman oleh
Johann Tetzel. Sebenarnya tujuan penjualan surat-surat aflat itu adalah untuk
mengumpulkan dana bagi pembangunan gedung gereja (basilika) Santo Petrus di
Roma, tetapi tujuan itu dibungkus dengan “bahasa rohani” yang berisi janji
palsu sekaligus ancaman, seakan-akan dengan membeli surat itu manusia akan
lebih terjamin keselamatannya.
Di lain pihak juga, pernikahan Martin Luther dengan Katharina von Bora
menimbulkan gerakan pernikahan imam di kalangan banyak tradisi Kristen. Martin Luther
menikah dengan Katharina von Bora, seorang mantan biarawati, pada 13 Juni 1525.
Pasangan ini mendapatkan enam orang anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan:
·
Hans, lahir pada 7 Juni 1526, belajar hukum, menjadi
pejabat hukum dan meninggal pada 1575.
·
Elizabeth, lahir pada 10 Desember 1527 dan meninggal
pada usia sangat muda pada 3 Agustus 1528.
·
Magdalena, lahir 5 Mei 1529, meninggal di dalam pelukan ayahnya pada 20 September
1542. Kematiannya merupakan pukulan yang sangat hebat bagi
Luther dan Katharina.
·
Martin, Jr., lahir 9 November 1531, belajar teologi
tetapi tidak pernah dipanggil menjadi pendeta hingga ia meninggal pada 1565.
·
Paul, lahir 28 Januari 1533, menjadi dokter. Ia
mempunyai enam orang anak hingga ia meninggal pada 1593. Garis keturunan
laki-laki keluarga Luther berlanjut melalui dia kepada John Ernest, yang
berakhir pada 1759.
·
Margaretha, lahir 17 Desember 1534, menikah dengan
George von Kunheim, keturunan keluarga bangsawan Persia yang kaya, tetapi
meninggal pada 1570 pada usia 36 tahun. Keturunannya berlanjut hingga sekarang.
5.1.2. Pertikaian Indulgesia
Selain tugas-tugasnya sebagai seorang profesor, Martin Luther melayani
sebagai pengkhotbah dan penerima pengakuan dosa di Gereja Kastil. Gereja ini
berfungsi sebagai biara Augustinian dan universitas. Dalam melakukan
tugas-tugas inilah pastor muda itu diperhadapkan dengan berbagai akibat yang
timbul ketika orang biasa harus mendapatkan indulgensia. Indulgensia adalah
penghapusan dari hukuman sementara yang masih ada bagi dosa-dosa setelah
kesalahan seseorang dihapuskan melalui absolusi. Saat itu terjadi
penyalahgunaan indulgensia oleh oknum-oknum Gereja, yaitu sebuah indulgensia
dapat dibeli seseorang untuk dirinya sendiri ataupun untuk salah seorang sanak
keluarga yang sedang berada di api penyucian. Johann Tetzel, seorang imam
Dominikan, ditugasi berkeliling di seluruh wilayah keuskupan Uskup Agung Albert
dari Mainz untuk mempromosikan dan menjual indulgensia untuk merenovasi
Basilika St. Petrus di Roma. Tetzel sangat berhasil dalam hal ini. Ia
menganjurkan: "Begitu mata uang
bergemerincing di dalam kotak, jiwa yang sedang menanti di api penyucian pun
akan terlepas".
Martin Luther menganggap penjualan indulgensia ini sebagai penyelewengan
yang dapat menyesatkan umat sehingga mereka hanya mengandalkan indulgensia itu
saja dan mengabaikan pengakuan dosa dan pertobatan sejati. Martin Luther
menyampaikan tiga khotbah menentang indulgensia ini pada 1516 dan 1517.
Selanjutnya, untuk
menentang propaganda Tetzel, Luther menyusun 95 dalil, lalu
ditempel pada pintu gerbang gereja di Wittenberg pada tanggal 31 Oktober 1517
(tanggal inilah yang kita peringati sebagai hari Reformasi ). Dalil- dalil itu
merupakan ungkapan pengalaman dan pergumulan Luther sendiri, jadi tidak
bersifat teoritis. Di dalam dalil-dalilnya, Luther menentang perkataan Tetzel.
Luther tidak menyetujui adanya surat penghapusan siksa yang menyatakan
perdamaian dan pengampunan dosa dapat dibeli dengan uang, tanpa penyesalan dan
pertobatan, bahkan tanpa sakramen. Martin Luther sekaligus menegaskan bahwa
penyesalan sejati bukanlah perkara yang dapat seseorang bereskan setelah
memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh imam setelah pengakuan dosa,
seperti misalnya mengucapkan doa Bapa kami sekian banyak kali. Bagi Martin Luther,
penyesalan dan pertobatan itu berlangsung seumur hidup. Martin Luther mengeluarkan bantahan
teologis tentang apa yang dapat dihasilkan oleh indulgensia itu. Martin Luther tidak menantang wewenang Paus
untuk mengeluarkan indulgensia dalam dalil-dalilnya itu. Ke-95 dalil itu ditulis
dalam bahasa Latin namun segera diterjemahkan oleh para mahasiswanya ke dalam
bahasa Jerman dan dalam waktu singkat sudah tersebar ke seluruh Eropa. Ini adalah salah satu peristiwa
pertama dalam sejarah yang dipengaruhi secara mendalam oleh mesin cetak, yang
membuat distribusi dokumen lebih mudah dan meluas. Para pemimpin gereja
mendakwa Martin Luther sebagai penyesat. Paus menuntut Martin Luther untuk
mencabut ajarannya. Martin Luther diminta bertobat. Martin Luther harus diadili.
5.1.3. Jawaban Paus
Setelah meremehkan Martin Luther sebagai "seorang Jerman mabuk yang
menulis dalil-dalil itu" yang "bila ia kembali sadar, ia akan berubah
pikiran," Paus Leo X memerintahkan Sylvester Mazzolini, seorang profesor Teologi
Dominikan, yang juga dinamai Prierias, sesuai dengan nama tempat kelahirannya
Priero, pada 1518, untuk menyelidiki masalahnya. Prierias mengenali perlawanan Martin Luther yang tersirat terhadap
kewibawaan paus. Karena itu ia menyatakan Martin Luther sebagai penyesat, dan
menulis bantahan ilmiah terhadap dalil-dalilnya. Bantahan ini menegaskan
kewibawaan Paus terhadap Gereja dan menolak setiap penyimpangan yang dianggap
sebagai ajaran sesat. Martin Luther menjawab dalam cara yang sama, sehingga berkembanglah
suatu polemik.
Sementara itu, Martin Luther ikut serta dalam sebuah pertemuan biarawan
Augustinian di Heidelberg. Di sana ia menyajikan tesisnya tentang perbudakan
manusia di dalam dosa dan tentang anugerah Allah. Dalam pertikaian mengenai indulgensia,
muncullah pertanyaan tentang kekuasaan dan wewenang mutlak Paus, karena doktrin
tentang "Khazanah Gereja," "Khazanah Jasa," yang mendasari
doktrin dan praktik indulgensia, didasarkan pada Bula Unigenitus (1343)
dari Paus Clemens VI. Karena perlawanannya terhadap doktrin itu, Martin Luther dicap sesat, dan Paus, yang
telah bertekad untuk menekan pandangan-pandangannya, memanggilnya ke Roma.
Namun karena mengalah kepada Frederick sang Pemilih, yang diharapkan oleh
Paus akan menjadi Kaisar Romawi Suci berikutnya dan yang tidak rela berpisah
dengan teolognya, Paus tidak menekan masalahnya lebih jauh. Kardinal Kayetanus
diutus Paus untuk menerima janji ketaatan Martin Luther di Augsburg (Oktober 1518).
Martin Luther, meskipun secara tersirat mengaku taat kepada
Gereja, kini dengan berani menyangkal kewibawaan Paus, dan naik banding
pertama-tama "dari Paus yang kurang pengetahuan kepada Paus yang mestinya
lebih tahu" dan kemudian (28 November) kepada konsili umum. Martin Luther kini menyatakan bahwa lembaga
kepausan bukanlah bagian dari hakikat Gereja yang asli dan yang tidak dapat
berubah.
Karena ingin tetap memelihara hubungan baik dengan Martin Luther, Paus membuat upaya terakhir
untuk menyelesaikan konfliknya dengan Martin Luther secara damai. Sebuah
konferensi dengan pejabat tinggi kepausan, Karl von Miltitz di Altenburg pada
Januari 1519 membuat Martin Luther sepakat untuk berdiam diri dan lawan-lawannya
pun demikian, menulis sebuah surat yang rendah hati kepada Paus, dan menyusun
sebuah risalah yang membuktikan rasa hormatnya kepada Gereja Katolik. Surat itu
ditulis, namun tidak pernah dikirim, karena tidak mengandung pernyataan bahwa Martin Luther menarik ajaran-ajarannya.
Dalam risalah bahasa Jerman yang ditulisnya belakangan, Martin Luther, meskipun mengakui api
penyucian, indulgensia, dan pemanggilan kepada orang-orang kudus, menolak
seluruh manfaat indulgensia terhadap api penyucian.
Ketika Johann Eck menantang rekan Martin Luther, Carlstadt, untuk berdebat
di Leipzig, Martin Luther bergabung di situ (27
Juni–18 Juli 1519). Sementara debat berlangsung Martin Luther menyangkal hak ilahi jabatan
dan wewenang kepausan, dan berpendapat bahwa "kuasa atas kunci-kunci
itu" telah diserahkan kepada Gereja (yaitu, jemaat yang setia). Ia
menyangkal bahwa keanggotaan dalam Gereja Katolik di bawah Paus merupakan
prasyarat bagi keselamatan, dan berpegang pada keabsahan Gereja (Ortodoks)
Yunani. Setelah perdebatan itu, Johann Eck mengklaim bahwa ia telah memaksa Martin Luther untuk mengakui bahwa
doktrinnya sama dengan doktrin Jan Hus yang telah dihukum mati dengan dibakar.
Eck menganggap bahwa hal ini membuktikan klaimnya sendiri bahwa Martin Luther adalah "si Hus dari
Saxon" dan gembong penyesat.
Luther memberi judul (dalam bahasa Inggris) The Disputation of Doctor
Martin Luther on the Power and Efficacy of Indulgences, dan mengkritik
dalamnya ajaran Gereja mengenai asas menghapuskan dosa, kuasa Paus dan lain
sebagainya.
Kajian mengenai Surat Paulus, terutamanya surat kepada jemaat di Roma
memberikan kesan kepada Martin Luther akan asas sola fide (hanya karena
iman). Hanya imanlah yang dapat menyelamatkan manusia yang diberikan Tuhan
berdasarkan anugerahnya (sola gratia) kepada manusia seperti yang
dijelaskan menurut Alkitab (sola scriptura). Martin Luther sangat menentang ajaran
gereja pada saat itu yang dianggapnya menawarkan keselamatan dengan murah
dengan cara menjual surat-surat penghapusan dosa (indulgensia).
Pada mulanya Martin Luther percaya bahwa dia akan dapat
memperbarui Gereja Roma dari dalam dengan dalil-dalilnya tetapi Paus menganggap
pendapatnya sesat dan mengucilkannya. Pada bulan Oktober Martin Luther membakar ijazahnya di tempat
umum dan menunjukkan kesungguhannya bahwa dia tidak akan taat kepada Gereja
kecuali mereka menurut kata-katanya.
Pada tanggal 22 Januari 1521 Kaisar Charles V meresmikan persidangan
imperial Diet of Worms. Dalam sidang ini merupakan peluang terakhir Luther
untuk mengakui bahwa apa yang diajarkannya adalah salah. Namun Luther tetap
bersikukuh untuk mempertahankan ajarannya. Selepas persidangan Diet, Luther
dinyatakan sebagai orang buangan oleh Diet, sehingga orang-orang Jerman
dilarang untuk memberinya makanan atau tempat tinggal dan membolehkan siapa
saja untuk membunuh Martin Luther tanpa diberikan hukuman bagi orang yang
membunuhnya. Dengan bantuan rekannya, Martin Luther akhirnya dibawa secara
diam-diam oleh penunggang kuda bertopeng, dan iapun dibawa ketempat tinggal
yang baru, yaitu kastil Wartburg, berdekatan dengan Erfurt.
Selama berada dalam kastil tersebut, pada tahun 1529, Martin
Luther mengajukan kanon Palestina yang menetapkan 39 kitab dalam bahasa Ibrani
sebagai kanon Perjanjian Lama. Martin Luther mencari pembenaran dari keputusan
konsili Jamnia (yang adalah konsili imam Yahudi, jadi bukan sebuah konsili
Gereja Kristen!) bahwa tujuh kitab yang dikeluarkan dari Perjanjian Lama tidak
memiliki kitab-kitab aslinya dalam bahasa Ibrani. Luther melakukan hal tersebut
sebenarnya karena sejumlah ayat-ayat yang terdapat pada kitab-kitab tersebut
justru mengokohkan doktrin-doktrin Gereja Katolik dan bertentangan dengan
doktrin-doktrin baru yang dikembangkan oleh Martin Luther sendiri.
Oleh karena alasan yang serupa, Martin Luther juga nyaris
membuang beberapa kitab-kitab lainnya: surat Yakobus, surat Ibrani, kitab Ester
dan kitab Wahyu. Hanya karena bujukan kuat oleh para pendukung kaum reformasi
Protestan yang lebih konservatif maka kitab-kitab tersebut tetap dipertahankan
dalam Alkitab kaum Protestan. Namun demikian, tidak kurang Martin Luther
menghujat bahwa surat Yakobus tidak pantas dimasukkan dalam Alkitab.
Setelah rangkaian perdebatan dan pengadilan, sejak 1520 Martin
Luther lebih banyak memusatkan perhatian pada penulisan buku ataupun diktat,
yang memuat serangkaian pandangan dan gagasan baru. Sasaran utama
reformasi atau pembaharuan yang dicanangkan Martin Luther adalah pembaharuan ajaran. Martin Luther memberikan dasar-dasar ajarannya
sendiri dengan rekannya Philip Melanchton. Selama tahun 1531 hingga 1546
kesehatan Martin Luther semakin memburuk, hal ini disebabkan kelelahan yang
dideritanya akibat perlawanannya terhadap gereja Katolik Roma. Akhirnya pada
tanggal 18 Februari 1546 Martin Luther menghembuskan nafasnya yang terakhir.
5.1.4. Pokok-pokok Ajaran Martin Luther
Untuk mendapatkan gelar-gelar akademik dan bahan-bahan yang diajarkan untuk
kuliah, mengharuskan Martin Luther mengkaji alkitab lebih mendalam. Karena
terpengaruh seruan humanisme ad fontes “kembali kepada sumbernya”, maka Martin
Luther kembali mempelajari lebih mendalam Alkitab dan birokrasi gereja.
Sehingga kata kebenaran dan penyesalan tidak lagi asing dalam benaknya, selain
itu kedua kata tersebut mendapatkan makna baru bagi Martin Luther, sehingga iapun menjadi
yakin bahwa selama ini gereja telah keliru tentang doktrin pembenaran hanya
melalui iman semata. Luther akhirnya mulai mengajarkan bahwa keselamatan ialah
anugerah dari Tuhan semata, yang diberikan melalui perantara kristus yang
akhirnya diterima melalui iman. Dalam artikelnya ia juga menjelaskan bahwa
konsep keadilan ialah sebagai berikut:
Jesus Christ, our God and Lord, died for our sins and
was raised again for our justification (Romans 3:24-25). He alone is the Lamb
of God who takes away the sins of the world (John 1:29), and God has laid on
Him the iniquity of us all (Isaiah 53:6). All have sinned and are justified
freely, without their own works and merits, by His grace, through the
redemption that is in Christ Jesus, in His blood (Romans 3:23-25). This is
necessary to believe. This cannot be otherwise acquired or grasped by any work,
law or merit. Therefore, it is clear and certain that this faith alone
justifies us ... Nothing of this article can be yielded or surrendered, even
though heaven and earth and everything else falls (Mark 13:31)
Selain itu Martin Luther juga mendefinisikan dan
memperkenalkan kembali prinsip tentang pembedaan yang semestinya antara Hukum
Taurat dan Injil yang mendasari teologinya tentang anugerah. Secara
keseluruhan, Martin Luther percaya bahwa prinsip
penafsiran ini merupakan titik awal yang penting dalam mempelajari Kitab Suci.
Ketidakpuasan dan keluhan-keluhan Martin Luther terhadap Gereja Katolik Roma
timbul secara bertahap. Di tahun 1510 Martin Luther melakukan lawatan ke Roma
yang membuatnya terbengong-bengong kaget bukan kepalang menyaksikan pemborosan
dan kemewahan duniawi para pastor gereja Katolik. Titik ketidakpuasan tersebut
akhirnya mencapai puncaknya ketika pada
tahun 1516 sampai dengan tahun 1517, ketika Johann Tetzel seorang imam
Dominikan, ditugasi berkeliling di seluruh wilayah keuskupan Uskup Agung Albert
dari Mainz, untuk mempromosikan dan menjual indulgensia untuk merenovasi
Basilika St. Petrus di Roma.
Untuk mendukung salah satu doktrinnya yang terkenal yaitu Sola Fide (bahwa kita dibenarkan
hanya oleh iman saja), dalam Alkitab terjemahan bahasa Jerman, Martin Luther
menambahkan kata 'saja' pada surat Roma 3:28.
Sehingga ayat tersebut berbunyi: "Karena kami yakin, bahwa manusia
dibenarkan karena iman saja, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat".
Tidak heran kalau Martin Luther menghujat surat Rasul Yakobus dan berusaha
untuk membuangnya dari Perjanjian Baru, karena justru dalam surat Yakobus ada
banyak ayat yang menjatuhkan doktrin Sola Fide yang diciptakan oleh
Martin Luther tersebut. Antara lain, dalam Yakobus 2:14-15 tertulis:
"Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia
mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu
menyelamatkan dia?" dan Yakobus 2:17
"Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan,
maka iman itu pada hakekatnya adalah mati" dan Yakobus 2:24 "Jadi
kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan
hanya karena iman."
Beberapa pokok ajaran yang dikembangkan
Luther adalah:
a.
Sola Scriptura, Sola Gratia, Sola Fide
Dalam ajaran Luther ada tiga semboyan “sola scriptura” (hanya
Alkitab), Firman menjadi dasar kehidupan sehari-hari. ”sola gratia” (hanya
anugerah), dan “sola fide”
(hanya iman). Pengampunan dosa disediakan oleh Allah karena anugerah-Nya
melalui pengorbanan Kristus dan diterima dengan iman, bukan karena usaha
manusia.
b.
Sakramen
Luther hanya mengakui dua sakramen yaitu
baptisan kudus dan perjamuan kudus. Kedua sakramen itu mempunyai dasar Alkitab
yang ditetapkan oleh Kristus sendiri.
c.
Jabatan dan
Tata Gereja
Semua orang percaya memiliki jabatan
imamat am. Jabatan imam itu diterima berdasarkan kematian dan kebangkitan Kristus.
Jabatan imam dalam Perjanjian Lama telah disempurnakan, digenapi sekaligus
diakhiri oleh Tuhan Yesus Kristus. Untuk datang kepada Tuhan, seseorang tidak
memerlukan lagi perantara (imam), baik untuk memanjatkan doa maupun untuk
mempersembahkan korban. Yesus Kristus telah menjadi imam sekaligus korban yang
sempurna sekali untuk selama-lamanya. Jadi imam adalah fungsi pelayan yang
meneladan Kristus, bukan jabatan.
d.
Tata Ibadah
Ibadah berpusat pada kotbah, bukan pada
perjamuan kudus (ekaristi). Dalam setiap Minggu harus ada pemberitaan Firman
yang murni (hanya dari Alkitab), sedangkan perjamuan kudus tidak selalu
diadakan pada setiap ibadah Minggu melainkan tergantung gereja masing-masing
sesuai dengan situasinya.
Beberapa tulisan yang menjelaskan ajaran
yang dikembangkan Martin Luther dihimpun dalam Kitab Konkord. Ajaran Luther menjadi acuan
pokok dalam perumusan ajaran dan tata gereja Lutheran. Setelah beberapa dasa
warsa, gereja-gereja Lutheran, khususnya di Jerman, telah menjadi gereja yang
mapan, ajarannya terumus lengkap, organisasinya mantap dan mendapat dukungan
penuh dari negara.
Peristiwa reformasi yang dipimpin oleh
Martin Luther mengingatkan bahwa pembaharuan gereja harus terus menerus
dilakukan. Kesadaran inilah yang melahirkan semboyan reformasi: “ecclesia reformata sed semper
reformanda” (gereja yang dibaharui harus terus menerus dibaharui ).
5.2. PERBEDAAN ANTARA HUKUM TAURAT DAN
INJIL
Menurut Martin Luther, seorang teolog sejati harus
mampu membedakan fungsi Hukum Taurat dengan Injil. Dalam tafsirannya terhadap
Surat Galatia (tahun 1531), Luther mengatakan, “Barangsiapa yang dapat dengan
jelas membedakan antara Injil dan Hukum Taurat harus bersyukur kepada Tuhan dan
dia adalah seorang theolog yang sejati.”
Seperti yang kita ketahui, Luther menempatkan doktrin pembenaran hanya oleh iman sebagai prinsip dasar dari sistem theologinya. Ia memandang bahwa perbedaan fungsi Hukum Taurat dengan Injil adalah keharmonisan yang paling dekat dengan doktrin pembenaran oleh iman. Meskipun Luther telah membahas doktrin pembenaran hanya oleh iman, namun doktrin ini akan berkembang dengan benar dan baik jika didasarkan pada pemahaman perbedaan fungsi antara Hukum Taurat dan Injil. Berdasarkan alasan inilah maka pandangan Luther mengenai Hukum Taurat dan Injil telah menjadi masalah yang utama dalam sistem theologi Luther, meskipun Luther bukan seorang theolog sistematika seperti John Calvin dalam tulisannya.
Mengapa memahami perbedaan fungsi Hukum Taurat dengan Injil begitu penting
bagi Martin Luther? Apakah hubungan Hukum Taurat dan Injil? Apakah Hukum Taurat
berkontradiksi dengan Injil? Bagaimana Martin Luther menyelesaikan permasalahan
antara Hukum Taurat dengan Injil?
Pembahasan tulisan ini hanya berfokus kepada relasi fungsi Hukum Taurat
dengan Injil, walaupun diskusi mengenai natur dan fungsi Hukum Taurat sangat
dekat sekali hubungannya dengan doktrin pembenaran oleh iman. Manusia berdosa
gagal memelihara dan menaati isi Hukum Taurat sehingga mereka berada dalam
murka Tuhan.
Beriman kepada Kristus, berdasarkan jasa dan kebenaran Kristus, adalah inti
pembenaran hanya oleh iman. Sebab itu kedua doktrin ini sangat erat
hubungannya, tetapi di sini tidak didiskusikan doktrin pembenaran hanya oleh
iman. Masalah ini adalah topik diskusi yang lain dalam theologinya. Kebenaran
mengenai fungsi Hukum Taurat dengan Injil adalah kebenaran yang melampaui ruang
dan waktu.
Pemahaman yang benar pada doktrin ini akan membawa seseorang pada suatu
kekaguman yang mendalam terhadap kasih karunia Tuhan yang dinyatakan dalam
Injil. Kebenaran ini berdampak tidak hanya pada kehidupan orang percaya
sekarang, tetapi juga secara eskatologis.
Kata ‘perbedaan’ yang dimaksud di sini bukan dimaksudkan sebagai suatu
pemisahan atau pertentangan. Bagi Luther, Hukum Taurat tidak dapat
dipertentangkan dengan Injil. Luther dalam tulisannya juga tidak bermaksud
menawarkan suatu pilihan atau alternatif antara Hukum Taurat atau Injil. Ia
tidak sependapat dengan kaum Antinomianisme. Yang salah mengerti bahwa orang
percaya hanya membutuhkan Injil dan tidak membutuhkan hukum Taurat, sebab hukum
Taurat dan Injil tidak ada hubungannya. Di samping itu, Luther juga menentang
pendapat kaum Legalisme. Yang menekankan sisi hukum sebagai dasar pembenaran di
hadapan Tuhan atau menambahkan hukum ke dalam Injil. Luther berpendapat bahwa
demi kemurnian Injil, Hukum Taurat harus dipertahankan.
Baik Hukum Taurat maupun Injil keduanya tidak boleh ditiadakan. Di antara
keduanya tidak ada yang lebih utama dari yang lain, sebab kedua hal itu saling
melengkapi dan harus dibicarakan sebagai satu kesatuan pada waktu yang
bersamaan. Menurut Luther, tidak seperti Agustinus, memahami perbedaan antara
Hukum Taurat dengan Injil tidak hanya sekadar bahwa Hukum Taurat mendahului
Injil, melainkan lebih dalam suatu pola dialektik.
Pola ini secara dinamis bergerak dari pemahaman yang baru melalui perbedaan
Hukum Taurat dan Injil kepada suatu hal yang darinya dapat ditarik pemahaman
lain yang baru lagi. Pemahaman ini dinamis bukan statis, yang berarti bahwa
perbedaan antara Hukum Taurat dan Injil dapat dipisahkan satu dengan yang lain
kemudian dapat dipersatukan kembali.
Perbedaan antara Hukum Taurat dan Injil bukan hanya membedakannya dari segi
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru atau satu bagian hanya ditujukan kepada
Hukum Taurat (Perjanjian Lama) dan bagian lain hanya ditujukan kepada Injil
(Perjanjian Baru). Sering kali Injil juga memiliki bagian hukum di dalamnya dan
sebaliknya bagian teks Alkitab yang disebut sebagai hukum juga memiliki Injil
di dalamnya, seperti sepuluh perintah Allah juga terdapat Injil.
Sepuluh perintah Allah dimulai dengan kalimat, “Akulah Tuhan Allahmu yang
membawa kamu keluar dari tanah perbudakan” (Keluaran 20:1-3). Ini adalah berita
anugerah keselamatan dari Tuhan yang mendasari seluruh perintah dan memberi
semangat kepada orang Israel untuk hidup selaras dengan Hukum Tuhan.
Di samping itu Luther juga membedakan antara Hukum Taurat dan Injil melalui
konteks proklamasi. Tetapi jangan disalah mengerti bahwa tujuan dari proklamasi
adalah untuk membedakan antara Hukum Taurat dan Injil, ini bukanlah sesuatu
yang utama, walaupun ada kemungkinan hal ini terjadi. Apakah dasar pemahaman
Luther dalam meninjau perbedaan antara Hukum Taurat dan Injil dari sudut
proklamasi?
Injil adalah berita baik yang menawarkan kasih karunia Tuhan melalui
pengampunan dosa di dalam Yesus Kristus. Tetapi realitasnya adalah manusia
hidup di bawah Hukum Taurat dan diperbudak olehnya. Karena itu, tanpa
pengertian yang mendalam tentang kondisi manusia yang hidup di bawah Hukum
Taurat, maka sulit sekali bagi manusia untuk mengerti intisari karya
keselamatan Kristus.
Selain anugerah Tuhan yang dinyatakan dalam kematian dan kebangkitan
Kristus, terdapat juga kenyataan bahwa di luar Hukum Taurat, manusia akan sulit
mengerti kebesaran dari karya Kristus bagi orang berdosa.
Sebab itu proklamasi tentang Hukum Taurat yang memaparkan kondisi
keberdosaan, ketidakberdayaan, dan keterkutukan manusia tidak dapat
menyelamatkan manusia berdosa tanpa sekaligus mengaitkannya atau bersamaan
dengan proklamasi Injil dan anugerah Tuhan di dalam Yesus Kristus. Hukum Taurat telah menempatkan manusia di
bawah kutuk dan penghakiman Tuhan, namun pengenalan pada kondisi tersebut akan
memberikan pengharapan untuk datang kepada Injil. Perbedaan antara Hukum Taurat
dan Injil dapat diidentikkan dengan perbedaan yang harus ditarik dari apa yang
membuat manusia menjadi benar dan sungguh diselamatkan. Jika diperhatikan
sungguh-sungguh, memang pada kenyataannya ada perbuatan manusia secara umum
yang bisa disebut kebenaran, tapi semua perbuatan itu bukanlah kebenaran yang
mendatangkan damai sejahtera dalam hati nurani dan kepastian keselamatan.
Kebenaran yang diajarkan oleh Alkitab, baik ditinjau secara mendasar atau
hanya penampakan, sangat berbeda dengan kebenaran secara umum. Kebenaran dalam
ajaran Alkitab adalah kebenaran pasif, melalui pembenaran hanya oleh iman,
bukan kebenaran yang aktif, melalui segala usaha manusia untuk menjadi benar.
Kebenaran yang pasif artinya kebenaran yang dikaruniakan oleh Tuhan atau
kebenaran yang berada di luar diri manusia sendiri, yaitu kebenaran Kristus
yang dikaruniakan kepada manusia berdosa hanya melalui iman kepada Dia.
Kebenaran ini didasarkan pada apa yang Allah kerjakan melalui Yesus Kristus
bukan apa yang manusia usahakan. Dari sudut pandang ini, manusia harus
mengabaikan sisi kebenaran aktif dan memusatkan diri kepada Injil.
5.3. HUKUM ALAMIAH DAN HUKUM TAURAT
Hukum alamiah yang dimaksudkan di sini bukanlah hukum alam yang mengatur
keteraturan universal, melainkan Hukum Allah yang secara alamiah berada dalam
diri manusia sejak penciptaan. Manusia mengenal Hukum Allah sejak penciptaan
atau sebelum Hukum Taurat dikaruniakan oleh Tuhan kepada Musa, sebab Allah
telah menempatkan Hukum-Nya di dalam hati manusia, dan hukum ini disebut hukum
alamiah. Luther mengajarkan doktrin ini menurut Roma 2:14-16, di mana Paulus
mengatakan bahwa orang bukan Yahudi yang tidak mempunyai Hukum Allah secara
tertulis dapat mengenal Hukum itu di dalam hatinya. Sebab itu semua manusia
tidak dapat menolak keberadaan Hukum Allah.
Hukum alamiah dasar kewajibannya ditinjau dari dua hal, yang pertama
kewajiban kepada Tuhan. Karena hukum alamiah ini, maka semua manusia baik sadar
atau tidak sadar memiliki rasa keagungan kepada Pribadi yang dianggap lebih
tinggi daripadanya sehingga rasa hormat itu menuntunnya untuk beribadah kepada
illah atau Allah. Kedua kewajiban kepada sesama.
Dari sudut keberadaan Hukum Allah secara alamiah ini, maka ada dua
kewajiban manusia sebagai ciptaan-Nya untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi
sesama seperti diri sendiri. Sebab itu, di sini terdapat keserasian esensi
antara hukum alamiah dengan Hukum Taurat Musa yang diberikan Allah di Gunung
Sinai (bdk. Keluaran 6:1-5).
Kalau memang Tuhan telah menaruh Hukum-Nya ke dalam hati manusia sejak
penciptaan, mengapa Ia perlu mewahyukan Hukum Taurat? Apakah fungsi dari Hukum
Taurat yang tertulis itu? Apakah relasi Hukum Taurat yang tertulis dengan yang
tidak tertulis?
Hukum Allah diberikan melalui tiga tahap, yaitu tahap pertama, Hukum Allah
secara alamiah. Hukum ini dimiliki oleh semua manusia baik Yahudi maupun bukan
Yahudi. Tahap kedua, Tuhan memberikan Hukum Taurat kepada Musa atau kepada
bangsa Yahudi sebagai suatu tindakan wahyu khusus. Dan tahap terakhir, Kristus
sendiri mewahyukan Hukum-Nya.
Hukum Taurat yang diberikan kepada Musa mengungkapkan kehendak Tuhan.
Karena itu, pada dasarnya Hukum Taurat dikaruniakan bukan untuk menghancurkan
manusia, tetapi agar melaluinya manusia dimungkinkan untuk mengenal diri
sendiri dan mengenal kehendak Tuhan, sebab pencemaran dosa mengakibatkan
kekaburan Hukum Allah yang tidak tertulis secara objektif tetapi ada di dalam
hati manusia. Luther percaya bahwa Hukum Tuhan itu bersifat kudus, baik dan
rohani.
Paul Althaus mengatakan bahwa seluruh isi Hukum Taurat adalah kehendak
Tuhan yang kekal dan keselamatan manusia terletak pada pengenapan Hukum itu.
Berdasarkan Roma 7:10, Luther berkomentar bahwa Hukum Allah diberikan untuk
‘kebaikan’ dan ‘kehidupan’. Setiap Hukum Allah terdiri dari dua hal yang
berguna, yaitu janji dan penuntun perilaku. Tuntutan Hukum Taurat adalah
kesucian hidup, sebab itu Hukum mengajarkan apa yang harus diperbuat oleh
manusia dan bukan melakukan Hukum itu supaya selamat. Hukum Allah mengungkapkan
apa yang harus diberikan dan dilakukan untuk memuliakan Dia.
Melalui tuntutan Hukum Taurat ini, sebenarnya tidak ada seorang pun yang
telah memenuhi dan menaati Hukum itu dengan sempurna menurut pandangan Tuhan.
Rasul Paulus mengatakan tentang kondisi manusia sebagai berikut, “Tidak ada
yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada yang berakal budi, tidak ada seorangpun
yang mencari Tuhan. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna,
tidak ada orang telah berbuat baik, seorangpun tidak” (Roma 3:11-12).
Menurut Luther, Hukum Taurat itu dikaruniakan kepada umat Allah yang telah
berada dalam perjanjian anugerah dengan Tuhan. Esensi dan fungsi Hukum Taurat
harus ditinjau atau dimengerti dalam konteks perjanjian anugerah antara Allah
dengan umat-Nya, bukan antara Allah dengan manusia yang berada di luar
perjanjian Tuhan. Sebab itu tujuan utama dari Hukum itu adalah untuk menjaga
kesucian umat Tuhan yang telah diteguhkan kehendaknya dengan anugerah Tuhan
untuk menaati Hukum tersebut. Peraturan Hukum Taurat adalah suatu tuntutan
kesucian bagi umat Tuhan, sedangkan bagi mereka yang hidup di luar perjanjian
Tuhan, Hukum-Nya mendatangkan penghakiman.
5.4. DWIFUNGSI HUKUM TAURAT
Sebelum menjelaskan lebih jauh tentang fungsi Hukum Taurat, kita perlu
mempresentasikan pemahaman Luther tentang kondisi manusia setelah kejatuhan.
Sebab bagi Luther tanpa pemahaman yang benar tentang kondisi kejatuhan manusia,
kita mungkin bisa mengarah kepada pemahaman yang keliru tentang fungsi utama
Hukum Taurat dan sifat dasar Injil.
Luther berkeyakinan penuh bahwa pencemaran dosa mencakup berbagai aspek,
seperti rasio, kehendak, emosi, dan perbuatan. Semua manusia telah berdosa di
hadapan Tuhan. Fakta kejatuhan Adam dan akibat kejatuhan itu bagi keturunannya
telah menimbulkan kerusakan total yaitu pencemaran baik internal maupun
eksternal. Persoalannya adalah bagaimana manusia bisa mengenal diri sendiri
sesuai dengan kondisinya, atau sebagai ciptaan Tuhan yang telah terasing dengan
Tuhan dan sesamanya.
Perbedaan antara Hukum Taurat dan Injil terletak pada Hukum itu sendiri,
bukan terletak pada Injil, sebab Injil hanya mempunyai fungsi tunggal,
sedangkan Hukum Taurat itu mempunyai lebih dari satu fungsi. Injil diwahyukan
oleh Tuhan untuk menggenapi Hukum Taurat, bukan Hukum itu ditambahkan kepada
Injil. Karena itu, tanpa Hukum Taurat, maka Injil akan mengalami kehilangan
makna. Meskipun demikian, baik Injil maupun Hukum Taurat adalah firman Tuhan.
Luther berargumentasi bahwa Hukum Taurat mempunyai dwifungsi, yaitu
politis/sipil dan theologis/rohani. Fungsi hukum politis atau sipil adalah
untuk mencegah penyebaran dosa dan kejahatan yang dikontrol oleh Iblis di dalam
masyarakat. Fungsi Hukum Taurat mengatur kesejahteraan sosial, pendidikan, dan
bahkan keteraturan pemberitaan Injil. Hukum ini terwujud dalam bentuk institusi
Tuhan seperti pejabat pemerintah, guru, orangtua dan juga hukum sipil. Manusia
pada dasarnya bisa mengenapi fungsi Hukum Taurat ini, dan sebab itu Hukum Tuhan
dalam pengertian politis bisa menghasilkan kebenaran sipil.
Tetapi penggenapan kebenaran ini tidak dapat membuat seseorang
diperhitungkan sebagai orang yang benar di hadapan Allah, karena manusia dalam
segala kapasitasnya tidak mampu mengenal Tuhan yang benar.
Fungsi kedua Hukum Taurat adalah rohani. Fungsi ini sangat berbeda secara
mendasar dengan fungsi Hukum Taurat dari segi politis. Fungsi Taurat secara
rohani adalah fungsi yang sejati, paling tinggi, dan mendasar dalam relasi
dengan pemahaman Injil. Hukum Taurat menuntut kemurnian hati, ketaatan yang
sempurna, ketakutan dan kasih kepada Tuhan. Penggenapan Hukum Taurat ini
bersifat internal. Hal ini harus digenapi sebelum kejatuhan, namun manusia
telah gagal, sebab itu Hukum Taurat tidak mampu menolong manusia untuk menjadi
benar melalui ketaatan. Hukum Taurat merefleksikan kenyataan keberdosaan. Sebab
itu tujuan Hukum Taurat adalah untuk memampukan manusia memandang dirinya
sendiri, kondisi kejatuhannya, dan ketidakmampuan naturnya. Luther dalam
khotbahnya secara jelas mengatakan bahwa keberadaan Hukum Taurat secara terus
menerus mengungkapkan diri kita sebagai manusia berdosa yang telah melanggar
Hukum-Nya dan harus menghadapi kematian dan neraka.
Tatkala manusia menyadari ketidakmampuannya dalam menggenapi atau menjaga
Hukum Allah, maka mereka senantiasa dituntut oleh Hukum itu untuk menebus
kesalahan, di samping itu mereka berhadapan dengan suatu kenyataan, yaitu
kemarahan dan penghukuman Tuhan. Sebab itu manusia menjadi tidak berdaya dengan
dosanya.
Luther menggunakan tiga alegori untuk menjelaskan tiga sikap manusia
terhadap Hukum Allah yang melampaui kapasitasnya untuk taat, dan tiga sikap
tersebut tertuang dalam gambaran dari tindakan Musa:
a) Musa menghancurkan 10 perintah Tuhan
tatkala bangsa Israel menyembah lembu emas (Keluaran 32:19).
Hal ini menggambarkan sikap manusia yang tidak mau
menerima Hukum Tuhan sama sekali dan berusaha menghancurkannya.
b) Musa membawa 10 perintah Tuhan yang
baru dan diterima oleh orang Yahudi, namun kulit muka Musa bersinar, sehingga
Harun dan seluruh bangsa Israel tidak berani mendekat dan memandang wajah Musa.
Hal ini menggambarkan sikap kedua dari manusia yang
menerima Hukum Tuhan namun hanya mengamati segi luar Hukum-Nya. Hal ini
disebabkan kemunafikan telah menutupi kemuliaan Hukum Allah.
c) Yosua menjadi penerus Musa untuk
menjadi peminpin bangsa Israel. Ia meminpin bangsa Israel melewati sungai
Yordan menuju tanah Perjanjian yaitu tanah Kanaan. Karena itu Yosua adalah tipe
Kristus yang akan datang untuk memimpin bangsa Israel melalui iman menggenapi
seluruh Taurat Tuhan.
Karena tuntutan Hukum Taurat maka seluruh umat manusia berada dalam kutukan
dan penghakiman Tuhan. Sebab itu Luther mengatakan bahwa segala sesuatu tanpa
iman adalah berada di bawah kutukan. Hukum Allah tidak mampu menyelamatkan
manusia dari kutukan karena Hukum Allah tidak memberikan kuasa kepada manusia.
Hukum Taurat hanya akan efektif bila digenapi oleh manusia sebelum
kejatuhan, bukan setelah kejatuhan. Setelah kejatuhan, Hukum Taurat tidak
digenapi oleh manusia dan melaluinya mereka dibenarkan oleh Allah. Kebenaran
ini adalah fungsi Hukum Taurat, melalui Hukum Taurat, dosa dan penghakiman
Tuhan semakin jelas dinyatakan.
Mengapa Tuhan mewahyukan Hukum Taurat? Mengapa Allah membebankan Hukum
Taurat ke atas bahu manusia jikalau Hukum Allah tidak mengaruniakan hidup? Sebagaimana
telah dibahas di atas bahwa pembenaran di hadapan Tuhan atas orang berdosa
tidak dapat dicapai melalui ketaatan kepada Hukum Taurat, lalu apakah kegunaan
Hukum Taurat? Luther menekankan bahwa
esensi Hukum Taurat itu benar, baik, dan rohani. Dilihat dari sudut sifat dasar
Hukum Taurat, maka persoalan utama bukanlah terletak pada Hukum Allah itu
sendiri, melainkan pada ketidakmampuan manusia dalam memenuhi tuntutan Hukum
Allah. Sebab itu jika ditinjau dari sudut negatif, maka fungsi Hukum Taurat
adalah memaparkan kondisi keberdosaan dan murka Allah. Tetapi ditinjau dari
sudut positif, Hukum Taurat mengarahkan atau meminpin kepada pengharapan
keselamatan melalui pembenaran hanya oleh iman dalam Kristus. Hukum Taurat
diberikan supaya manusia memiliki kesungguhan hati menantikan benih janji
Tuhan.
Kristus adalah Allah dan manusia sejati. Sebagai manusia yang sempurna, Ia
telah menggenapi seluruh Hukum Taurat melalui ketaatan-Nya yang sempurna di
atas kayu salib. Berita sentral dari
Injil adalah pribadi dan karya Kristus. Di dalam Kristus, Allah mengampuni dosa
dan mengaruniakan hidup yang kekal baik saat ini maupun di masa yang akan
datang. Sebab itu Kristus telah menyelamatkan manusia dari kutukan Hukum
Taurat. Ia sendiri telah menjadi kutuk bagi mereka yang hidup di bawah Taurat,
dosa, dan kejahatan.
Pada kenyataannya dalam Alkitab, Hukum Taurat mendahului Injil. Sebab itu Hukum
Taurat memimpin manusia untuk percaya kepada Injil. Di satu pihak Hukum Taurat
telah membawa seluruh umat berada dalam kutukan dan penghakiman Tuhan, namun di
lain pihak. Taurat Tuhan itu juga telah memimpin manusia untuk menerima
anugerah Tuhan melalui iman saja. Sebab itu barangsiapa yang percaya pada
Kristus, mereka tidak berada di bawah Hukum Taurat lagi, tetapi berada di dalam
anugerah Tuhan.
Anugerah Tuhan telah membuat manusia hidup harmonis dengan Hukum-Nya,
karena Kristus telah menggenapi seluruh Hukum Taurat, sehingga Hukum Taurat
tidak bertentangan lagi dengan manusia, karena dalam Kristus Hukum Allah berada
di sisi manusia.
Di dalam dwifungsi Hukum Taurat sering terjadi 3 salah pengertian, yaitu
pertama, memahami dwifungsi Hukum Taurat dalam dua kelompok manusia yang
berbeda, yaitu fungsi Hukum Allah atas kelompok kafir dan atas kelompok umat
yang telah diselamatkan.
Perlu diketahui bahwa manusia yang berada dalam Kristus adalah sekaligus
orang berdosa dan orang benar pada saat yang bersamaan. Sebab itu dwifungsi
Hukum Taurat tidak boleh dimengerti sebagai suatu aplikasi kepada dua kelompok
manusia yang berbeda, tetapi seharusnya kepada manusia secara umum karena sama
fungsinya.
Kedua, memisahkan Hukum Taurat menjadi dua bagian, yaitu hukum sipil dan
rohani. Bagian yang rohani dianggap lebih tinggi daripada hukum sipil.
Ketiga, dwifungsi Hukum Taurat itu berjalan paralel satu dengan yang lain
dan tidak saling berhubungan.
5.5. KESATUAN HUKUM TAURAT DAN INJIL
Luther telah membuat suatu perbedaan yang tajam namun tetap menekankan
kesatuan dwifungsi Hukum Taurat, yaitu fungsi Hukum Taurat dari segi sipil yang
menuntut kebenaran dalam masyarakat dan memberi kesadaran pada dosa dan tujuan
Injil, serta fungsi Hukum Taurat dari segi rohani yang menggenapi tuntutan
Hukum Taurat. Tapi Luther tetap melihat ada suatu perbedaan yang jelas antara
kedudukan Hukum Taurat dengan Injil seperti yang ia katakan, “Hukum Taurat
harus lebih rendah kedudukannya”
Dibandingkan dengan Injil. Argumentasi Luther adalah karena Hukum Taurat
diwahyukan melalui malaikat dan nabi, namun Injil diwahyukan melalui Tuhan
sendiri. Injil mengajarkan mengenai
sumber kuasa manusia untuk menaati Hukum Taurat, tetapi Hukum Taurat
mengajarkan apa yang harus dilakukan untuk diperkenan Tuhan. Injil menjanjikan keselamatan dalam Yesus
Kristus, tetapi Hukum Taurat menuntut ketaatan sempurna untuk memperoleh keselamatan.
Injil berisi Kristus yang telah mati
bagi dosa, Hukum Taurat berisi kehendak Tuhan yang sempurna dan penghukuman
bagi mereka yang melawan Hukum itu. Hukum menuntut kesucian hati namun Injil
memproklamasikan penerimaan Allah atas manusia berdosa berdasarkan jasa
Kristus.
Hukum Taurat tidak pernah memberikan Roh Kudus, tapi Injil menjanjikan Roh
Kudus bagi mereka yang percaya. Sebab itu Hukum Taurat tidak memberikan kuasa
untuk taat seperti yang dinyatakan dalam Injil.
Hukum Taurat memperhitungkan kebenaran bagi mereka yang taat, tetapi
Injil bergantung pada jasa Kristus sebagai Sumber kebenaran dan Orang benar di
hadapan Allah. Melalui Hukum Taurat,
manusia mengenal dosanya sendiri dengan sempurna sedangkan melalui Injil
manusia mengenal pengampunan dosa melalui kuasa darah Kristus. Sebab itu tanpa
Kristus dan Roh Kudus, manusia tidak mungkin menaati Hukum Taurat.
Kebenaran Allah yang diungkapkan dalam Injil tidak sama seperti kebenaran
yang diungkapkan dalam Hukum Taurat. Hukum
Taurat tidak hanya ditinjau dari sudut perbedaannya dengan Injil namun juga
hubungannya dengan Injil sebagai satu kesatuan. Tidak dapat dielakkan bahwa
Hukum Taurat mempunyai perbedaan yang sangat tajam dengan Injil, namun keduanya
tidak dapat dipisahkan.
Perbedaan dan kesatuan ini merupakan suatu rahasia seperti apa yang
dikatakan Luther, “Di dalam dunia ini tidak ada seorang pun yang mengetahui
perbedaan Hukum Taurat dan Injil.” Namun kita akan mengerti perbedaan itu
tatkala firman Tuhan diproklamasikan melalui khotbah, karena melalui khotbah
terjadi pemberitaan Hukum Tuhan dan sekaligus Injil Kristus, dan di dalam
khotbah, Roh Kudus akan bekerja membedakan dan menyatukan keduanya.
Perbedaan antara Hukum dan Injil itu harus tetap dipegang, tetapi sulit
sekali memisahkan atau mengantitesis keduanya karena ada keharmonisan di antara
keduanya. Pertanyaannya adalah, “Apakah kesatuan antara Hukum Taurat dan Injil
itu?” Sekarang akan didiskusikan kesatuan antara Hukum Taurat dan Injil dalam
dua area, yaitu relasi Hukum Taurat dan janji Allah, dan Hukum Taurat dan Injil
sebagai firman Allah.
Luther mengatakan bahwa seluruh Alkitab dibagi menjadi dua bagian, yaitu
perintah dan janji Tuhan. Perintah Tuhan menyatakan apa yang harus dilakukan
namun tidak memberikan kuasa untuk melakukannya. Perintah itu hanya menunjukkan
ketidakmampuan dan keberdosaan manusia. Tetapi di bagian kedua, Hukum Allah
menekankan janji Allah. Janji Allah memberikan apa yang dituntut dalam
perintah-Nya dan menggenapi apa yang ditulis di dalamnya.
Dari pemahaman ini dapat disimpulkan bahwa hanya Allah yang dapat melakukan
baik tuntutan perintah-Nya maupun penggenapan perintah-Nya. Hukum tidak melawan
janji Allah, sebab janji itu tidak bergantung pada Hukum Taurat. Perintah Tuhan
dan janji mengarah kepada penggenapan dalam diri Sang Mediator, yaitu Kristus.
Sebab itu Luther mengatakan bahwa seluruh bapabapa dan para nabi dalam
Perjanjian Lama memiliki isi dan objek iman yang sama, yaitu Kristus, dan
demikian juga dengan Injil seperti yang dinyatakan oleh Paulus. Janji Allah
kepada Abraham adalah janji berkat surgawi.
Seluruh bangsa Israel akan diberkati melalui Abraham jika mereka mempunyai
iman dan memegang janji Allah. Janji ini mendahului Hukum Taurat yang muncul
setelah 400 tahun lamanya. Allah tidak memberikan Hukum yang berkontradiksi
dengan janji terdahulu melalui kesetiaan yang telah mengikat diri-Nya dengan
Abraham.
Jika janji adalah untuk umat Allah yang hidup oleh iman kepada Allah, maka
Hukum Taurat adalah untuk mengontrol tingkah laku umat percaya untuk
berkomitmen hidup bersama Tuhan saja. Baik Hukum Taurat maupun Injil adalah
firman Tuhan. Firman Tuhan datang kepada manusia dalam dua bentuk, yaitu Hukum
dan Injil, dan kedua bentuk itu tidak terpisahkan. Keduanya harus dikhotbahkan secara bersamaan
dan tidak dapat dicampuradukkan. Seorang theolog yang mampu membedakan keduanya
dengan benar adalah theolog yang sejati. Hukum Taurat adalah milik Injil,
sehingga Hukum Taurat melayani tujuan Injil, yaitu menjanjikan dan membawa
keselamatan Allah kepada manusia berdosa melalui pembenaran oleh iman saja di
dalam Kristus.
Hukum itu sendiri mengekspresikan kehendak Tuhan. Sifat Hukum itu baik,
benar dan rohani, namun Hukum itu tidak mampu membenarkan orang berdosa.
Berdasarkan pemahaman ini, secara esensi Hukum Taurat sama dengan Injil. Inti
Hukum Taurat mengajarkan untuk mengasihi Tuhan dan sesama, Injil pun menekankan
hal yang sama, yaitu mengasihi Tuhan dan musuh seperti diri sendiri. Dengan
kata lain, baik Hukum Taurat maupun Injil adalah satu kesatuan sebagai firman
Tuhan yang mengekpresikan kasih yang sempurna dari Tuhan.
Injil adalah penggenapan Hukum Taurat. Proklamasi Injil juga adalah
proklamasi Hukum Tuhan. Berdasarkan sudut proklamasi Injil dan Hukum sebagai
satu kesatuan, Luther memberikan argumentasi dari dua segi:
1) Proklamasi Kristus adalah teladan
bagi orang percaya, dan hal ini telah mewarnai karakteristik khusus proklamasi
Hukum yang menyatakan kehendak Tuhan yang harus digenapi. Segala sesuatu yang
menunjukkan dosa-dosa kita adalah Hukum.
Kalimat tersebut yang menjadikan nyata bahwa Kristus
adalah Juruselamat sekaligus membawa pemahaman dosa. Sebab itu proklamasi Injil
juga menjadi proklamasi Hukum.
2) Injil menyaksikan anugerah Allah dan
jasa-jasa Kristus. Hal ini secara mendasar telah mengarahkan manusia untuk
mengenal dosa-dosanya yang telah melawan kasih karunia Tuhan. Dalam pengertian
ini, Injil adalah Hukum Tuhan. Sebab itu, Hukum Tuhan termasuk Injil, dan Injil
menghasilkan Hukum Tuhan. Ketegangan Hukum dan Injil adalah pada pandangan
terhadap orang berdosa. Sebab itu pengajaran Hukum Taurat dan Injil harus
berjalan secara bersamaan.
Luther selalu menekankan jalan tengah antara kedua ekstrim legalisme dan
antinomianisme, sebab pemberita Injil harus menekankan baik Hukum Tuhan dan
Injil sebagai satu kesatuan seperti pertobatan dan kepercayaan kepada Tuhan
yang hidup. Luther dalam Table Talk menekankan keseimbangan Injil dan Hukum,
tetapi ia juga mengatakan bagaimana patokan keseimbangan tersebut bukanlah
suatu hal yang pasti. Kristus sendiri mengkhotbahkan Hukum Tuhan dan Injil
menurut konteksnya, sebab itulah kita harus menggunakan Hukum Tuhan dan Injil
karena kita mempunyai keduanya. Tidak benar jika segala sesuatu ditarik hanya
ke dalam Injil atau ke dalam Hukum saja.
Tentu kita tidak boleh berpikir bahwa Luther mempercayai ketidakbergunaan
Hukum Tuhan bagi mereka yang telah dibenarkan dalam Kristus. Apakah alasan
Luther yang mendukung bahwa Hukum Taurat masih berfungsi dalam kehidupan orang
Kristen? Luther memberikan dua alasan, pertama, Luther percaya bahwa Hukum
Taurat selalu terus-menerus mengingatkan manusia pada ketidakmampuannya untuk
menyenangkan hati Allah melalui ketaatannya kecuali bagi mereka yang beriman
kepada Kristus. Kedua, dari segi edukasi
Hukum Taurat diberikan bukan untuk tujuan pembenaran. Allah membenarkan
barangsiapa yang percaya dalam Injil Yesus Kristus. Iman berperan sebagai
saluran untuk menerima anugerah Tuhan. Beriman kepada Yesus Kristus berarti
menerima janji Tuhan. Melalui iman, manusia percaya bahwa semua tuntutan Hukum
Taurat telah digenapi oleh Yesus Kristus, karena itu mereka yang beriman telah
bebas dari Hukum Tuhan. Suatu hubungan yang baru antara manusia berdosa
sekaligus orang benar dengan Tuhan, mereka telah dibebaskan dari perbudakan
Hukum Taurat yang memimpin kepada penghukuman Allah. Kristus sebagai Allah dan
Manusia yang sejati telah menggantikan posisi penghukuman Allah atas dosa
manusia, dan ini berefek pada pendamaian dengan Allah dan Allah mengaruniakan
kebenaran-Nya.
Pembenaran hanya melalui iman telah mendatangkan kehadiran Roh Kudus dalam
kehidupan orang percaya. Secara eksternal melalui pemberitaan firman dan
kesaksian Roh Kudus, Allah menaruh iman ke dalam hati umat-Nya untuk percaya
kepada janji Allah. Luther mengatakan, “Kristus masuk ke dalam hati melalui
Injil dari telinga manusia dan Ia berdiam di sana ; kehadiran-Nya bukan dengan
tangan kosong, melainkan Ia membawa diri-Nya, Roh Kudus dan segala
kepenuhan-Nya.”Hidup yang baru ini disertai dengan Kuasa Allah dalam hati orang
percaya menjadikannya suatu potensi untuk menaati Hukum-Nya. Roh Kudus adalah
terang Allah yang mengiluminasi hati yang gelap dan meneguhkan hati orang
percaya untuk menjaga Hukum Tuhan.
Ini sesuai dengan apa yang dikatakan Luther bahwa orang percaya memiliki
Roh Kudus, sehingga beban berat dari Hukum Taurat dan kuk Kristus menjadi
ringan.38 Melalui kuasa Roh Kudus, orang percaya mempunyai kemungkinan untuk
menggenapi Hukum Taurat.
5.6. PENUTUP
Sifat dasar Hukum Taurat adalah rohani, baik, dan benar. Sedangkan kondisi
manusia setelah kejatuhan adalah rusak, lemah dan diperbudak oleh dosa dan
Iblis. Ketidak-mampuan manusia untuk menaati Hukum Taurat bukan terletak kepada
Hukum itu sendiri, tetapi terletak kepada kondisi setelah kejatuhan. Intensi
Allah yang sebenarnya ketika memberikan Hukum Taurat adalah untuk mengatur
kehidupan moral dan rohani supaya diperkenan oleh Tuhan, hal ini dimungkinkan
jika manusia belum jatuh ke dalam dosa. Memang Hukum Taurat yang tertulis
diberikan setelah kejatuhan, tetapi Hukum yang tidak tertulis telah berada di
dalam diri manusia sejak penciptaan.
Hukum Taurat memiliki dua fungsi, ditinjau dari segi sipil dan rohani.
Fungsi Hukum Taurat dari segi sipil adalah pemeliharaan tata tertib hidup,
pengaturan keadilan sosial dan keteraturan masyarakat. Fungsi Hukum dari segi
sipil ini memungkinkan adanya lembaga pemerintahan seperti pejabat dan pendidik
masyarakat untuk menaati panggilan dari perintah Hukum Taurat dalam hati
nurani. Fungsi Hukum Taurat dari segi rohani adalah untuk mengungkapkan kondisi
keberdosaan dan kemurkaan Allah. Di lain pihak, Hukum Taurat juga memimpin
manusia berdosa kepada Injil Yesus Kristus, karena hanya di dalam Dia terdapat
pembenaran karena iman.
Memang keberadaan Hukum Taurat dan Injil berbeda satu dengan yang lain jika
ditinjau dari fungsi Hukum Taurat dan sifat dasar Injil, tetapi kedua hal ini
adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Di antara keduanya terdapat
perbedaan dan persamaan. Kesatuan Hukum Taurat dengan Injil dapat dilihat dari
dua segi yaitu relasi Hukum Taurat dengan janji Injil dan sifat dasar Hukum
Taurat dan Injil sebagai firman Allah.
Selain itu, Taurat masih berfungsi dalam kehidupan orang beriman untuk
membawanya pada ketaatan kepada Kristus. Dan ini adalah trifungsi Hukum Taurat
yang telah dijelaskan di atas. Ini terjadi dengan kehadiran Roh Kudus dalam
hati orang percaya dan kekuatan baru dalam kuasa kebangkitan Kristus yang telah
memungkinkan orang percaya untuk menaati Hukum Taurat. Ketaatan itu menghasilkan
pengudusan dalam diri orang yang telah dilahirkembalikan. Jadi, Luther menarik
suatu kesinambungan antara pembenaran hanya oleh iman dengan doktrin pengudusan
yaitu diperhitungkan menjadi orang benar berdasarkan jasa Kristus melalui iman,
disertai dengan karunia pembenaran Allah (making righteous) untuk mampu
memenuhi tuntutan Hukum Taurat.
BAB VI
MAKNA
MENGGENAPI DAN MEMBATALKAN HUKUM TAURAT
6.1. PENGERTIAN
Akhir-akhir ini sebagian orang memberikan tuduhan seakan-akan ada
pertentangan antara ajaran Tuhan Yesus Kristus dengan ajaran rasul Paulus.
Ajaran Tuhan Yesus Kristus dipertentangkan dengan ajaran dari Rasul Paulus.
Pendapat ini mengatakan bahwa Yesus sama sekali tidak menghilangkan hukum
Taurat berdasarkan pada Matius 5:17-20 sedangkan rasul Paulus telah membatalkan
hukum Taurat berdasarkan pada Efesus 2:15. Untuk itu marilah kita mencoba
mengkaji pendapat ini.
Dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi (Filipi 2:5-11) dikatakan
sebagai berikut: “Hendaklah kamu dalam
hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga
dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap
kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus
dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil
rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai
manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati
di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan
mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama
Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan
yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ''Yesus Kristus adalah
Tuhan,'' bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Dalam Matius 5:17 terdapat dua kata yang saling bertolak belakang, tentu
saja bertolak belakang karena kedua kata tersebut digunakan sebagai pembanding.
Kedua kata tersebut adalah ‘meniadakan’ dan ‘menggenapi’ yang sedang
membicarakan sebuah objek yaitu ‘Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi’. Secara umum
Hukum Taurat meliputi lima kitab Musa dan kitab para Nabi adalah kitab-kitab
Nabi-Nabi besar dan Nabi-Nabi kecil yang dikenal oleh Kristen sebagai
“Perjanjian Lama”
Kata ‘meniadakan’ ini diterjemahkan dari kata ‘κατα λῦσαι –katalysai’ dan
kata ‘menggenapi’ diterjemahkan dari kata ‘πληρῶσαι – plērōsai. Secara literal
kata ‘καταλῦσαι –katalysai’ berarti “I
loosen thoroughly (sama sekali melepaskan” atau” tidak digunakan lagi)”
namun dapat juga diartikan sebagai (1) I break up (memutuskan); (2) overthrow (meruntuhkan/merobohkan); (3) destroy (menghancurkan/membinasakan),
Sedangkan Kata ‘πληρῶσαι – plērōsai’ memiliki arti (1) I fill (mengisi); (2) fulfill
(memenuhi); (3) complete
(menyelesaikan).
Sebelum mengerti makna kata “Fulfill”
atau “Menggenapi” dalam Matius 5:17, ada baiknya dimengerti terlebih dahulu
definisi-definisi mengenai kata-kata tersebut dalam Kamus. Dalam Kamus Webster Online memberikan definisi sebagai
berikut: untuk kata ‘Destroy’, yaitu,
“To put an end to the existence,
prosperity, or beauty of; to kill (untuk menghilangkan suatu keberadaan,
kesejahteraan, atau kecantikan dari [sesuatu]; untuk membunuh)”.
Untuk kata ‘Fulfill’, yaitu, “To accomplish or carry into effect, as an
intention, promise, or prophecy, a desire, prayer, or requirement, etc.; to
complete by performance; to answer the requisitions of; to bring to pass, as a
purpose or design; to effectuate. (untuk menyelesaikan atau melaksanakan,
sebagai sebuah perhatian, janji,, nubuat, keinginan, doa, atau kebutuhan, dan
lain-lain; untuk menyelesaikan berdasarkan perbuatan; untuk menjawab permintaan
resmi dari; untuk mendatangkan, sebagai tujuan atau maksud, untuk mengadakan)”.
Untuk kata ‘Complete’, yaitu, “To bring to a state in which there is no
deficiency; to perfect; to consummate; to accomplish; to fulfill; to finish;
as, to complete a task, or a poem; to complete a course of education (untuk
mewujudkan keadaan dimana tidak ada kekurangan, untuk sempurna, untuk mencapai,
untuk memenuhi/menggenapi, untuk menyelesaikan, seperti, untuk menyelesaikan
tugas, atau puisi, untuk menyelesaikan program pendidikan)”
Dalam kitab Matius 5:17, dikatakan bahwa “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum
Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk
menggenapinya”. Ayat tersebut sering sekali disalahartikan seakan-akan
hukum Taurat sudah ditiadakan. Di lain pihak ada juga pendapat yang mengatakan
bahwa hukum Taurat berlaku selamanya termasuk perintah-perintah di dalamnya,
pemahaman ini tidaklah salah sepenuhnya. Pemahaman yang salah adalah menganggap
bahwa Yesus Kristus telah membatalkan Hukum Taurat dan kitab para Nabi, Yesus
Kristus tidak menghilangkan Hukum Taurat dan kitab para Nabi tapi Yesus
menggenapi/menyelesaikan/menyempurnakan. Yesus Kristus sebagai Tuhan tidak akan
membatalkan hukum-hukum yang telah dikatakanNya karena Ia sendiri yang
menyatakan demikian.
Tuhan Yesus Kristus tidak pernah membatalkan Hukum Taurat dan kitab para
Nabi. Yesus mempelajari Perjanjian Lama (Lukas 2:46), Yesus menggunakan
Perjanjian Lama untuk melawan pencobaan / godaan setan (Matius 4:4,7,10), dan
Ia mengutip Perjanjian Lama pada waktu mengajar, Yesus menyuruh orang mentaati
Perjanjian Lama (Matius 8:4), Yesus sendiri mentaati Perjanjian Lama, misalnya:
ikut merayakan hari raya Perjanjian Lama, dan lain sebagainya. Jadi jelas bahwa
Yesus Kristus sama sekali tidak membatalkan Hukum taurat dan Kitab para Nabi.
Dengan berdasarkan beberapa definisi di atas, kata yang dalam bahasa Indonesia
diterjemahkan menjadi kata “menggenapi” lebih memiliki arti bahwa Yesus Kristus
telah menyelesaikan perintah-perintah Hukum Taurat dan Kitab para Nabi. Ia
tunduk di bawah hukum Taurat (Galatia 4:4) yang artinya bahwa, Ia, dalam segala
hal mengenai tuntutan Hukum Taurat telah ditaatiNya dengan sempurna (Roma
8:3-4), hal ini tidak dapat dilakukan oleh bangsa Israel sebelum Ia datang.
“Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi”. (Matius 5:18)
Artinya bahwa frasa “sebelum semuanya terjadi” untuk mempertegas frasa
“untuk menggenapinya”, meskipun langit dan bumi lenyap jika Hukum Taurat belum
digenapi, maka satu iota atau satu titik tidak akan ditiadakan dari Hukum
Taurat.
Dengan demikian, makna menggenapi Hukum Taurat adalah menggenapi semua nubuat mengenai diri Tuhan
Yesus Kristus, menggenapi hukum Taurat yang melambangkan pekerjaan penebusan
yang dilakukan oleh Kristus, menggenapi hukum Taurat yaitu melakukannya dengan
sempurna, dan menggenapi ketidakmampuan hukum Taurat sebagai dasar pembenaran
manusia di hadapan Allah.
6.2. PENGGENAPAN HUKUM TAURAT
6.2.1.
Menggenapi semua nubuat
mengenai diriNya
Ø Lukas
24:44, “Ia berkata
kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika
Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada
tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab
Mazmur."
Ø Matius 1:
22-23, “Hal itu
terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Sesungguhnya,
anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka
akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita.
Merupakan penggenapan Kitab Yesaya 7 : 14
Ø Matius
2:14-15, “Maka Yusufpun
bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke
Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah
yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."
Merupakan Penggenapa kitab Hosea 11:1
Ø Matius
2:17:18, “Dengan
demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: "Terdengarlah
suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya
dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."
Merupakan penggenapan kitab Yeremia 31: 15
Ø Matius 4:
13-16, “Ia
meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon
dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:
"Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai
Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, -- bangsa yang diam dalam
kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri
yang dinaungi maut, telah terbit Terang."
Merupakan penggenapan kitab Yesaya 8: 23 - 9:1
Ø Matius
8:17, “Hal itu
terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah
yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."
Merupakan penggenapan kitab Yesaya 53:4
Ø Matius 12:
16-21, “Ia dengan
keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya genaplah firman yang
disampaikan oleh nabi Yesaya: "Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang
Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke
atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan
berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di
jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu
yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu
menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap."
Merupakan penggenapan kitab Yesaya 42 : 1-4
Ø Matius 21:
4-5, “Hal itu
terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: "Katakanlah
kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan
mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda."
Merupakan penggenapan kitab Zakharia 9:9
Ø Kisah Para
Rasul 13:35, “telah
digenapi Allah kepada kita, keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus,
seperti yang ada tertulis dalam mazmur kedua: Anak-Ku Engkau! Aku telah
memperanakkan Engkau pada hari ini. Allah telah membangkitkan Dia dari antara
orang mati dan Ia tidak akan diserahkan kembali kepada kebinasaan. Hal itu
dinyatakan oleh Tuhan dalam firman ini: Aku akan menggenapi kepadamu
janji-janji yang kudus yang dapat dipercayai, yang telah Kuberikan kepada
Daud.
Ø Yohanes
13:18. “Bukan
tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi
haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya
terhadap Aku.
Merupakan penggenapan kitab Mazmur 41: 10
Ø Yohanes
18:32, “Demikian
hendaknya supaya genaplah firman Yesus, yang dikatakan-Nya untuk menyatakan
bagaimana caranya Ia akan mati.
Ø Yohanes
19:24, “Karena
itu mereka berkata seorang kepada yang lain: "Janganlah kita membaginya
menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan
siapa yang mendapatnya." Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada
tertulis dalam Kitab Suci: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara
mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku." Hal itu telah dilakukan
prajurit-prajurit itu.
Merupakan penggenapan kitab Mazmur 22:19
Ø Yohanes
19:28, “Sesudah
itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia --supaya
genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci-- :"Aku haus!"
Merupakan penggenapan kitab Mazmur 22: 16, 69: 22
Ø Yohanes:
19:36, “Sebab hal
itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: "Tidak ada
tulang-Nya yang akan dipatahkan."
Merupakan penggenapan kitab Keluaran 12:46, Bilangan 9:12 dan Mazmur
34:21
Ø Yohanes
19:37, “Dan ada
pula nas yang mengatakan: "Mereka akan memandang kepada Dia yang telah
mereka tikam."
Merupakan penggenapan kitab Zakharia 12: 10
6.2.2.
Menggenapi hukum Taurat yang
melambangkan pekerjaan penebusan
Ø Efesus
5:2, “dan hiduplah
di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah
menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi
Allah”.
Ø Efesus 1:7, “Sebab di dalam Dia dan oleh
darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan
kasih karunia-Nya,"
Ø Ibrani 9:22, "Dan hampir segala sesuatu
disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak
ada pengampunan."
Ø 1 Yohanes
1:7,
"Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam
terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan 'darah'
Yesus, Anak-Nya itu, 'menyucikan' kita dari pada segala 'dosa'."
Ø Kolose
2:13-14, ”Kamu juga, meskipun dahulu
mati oleh pelanggaranmu telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah
Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang
oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu
ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib”.
6.2.3. Menggenapi
hukum Taurat yaitu melakukannya dengan sempurna
Ø Roma
8:1-4, “Demikianlah sekarang
tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang
memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum
maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya
oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri
dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia
telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum
Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut
Roh.
Ø Roma
8:12-13, “Jadi,
saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging,
supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan
mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu
akan hidup”.
Ø Matius
3:15, “Lalu Yesus
menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah
sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun
menuruti-Nya.
Ø Roma 13:10, “Kasih tidak berbuat jahat
terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.
Ø Yohanes 1:17 sebab hukum Taurat
diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus
Kristus.
6.2.4.
Menggenapi Kelemahan Hukum
Taurat sebagai Alat Pembenaran
Ø Roma 10:4,
“Sebab
Kristus adalah kegenapan hukum
Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”.
Interpretasi ayat ini harus lah selaras dengan bagian lebih awal dari tulisan
Paulus dalam surat yang sama kepada jemaat Roma (Roma 3 : 31), yaitu :
"Adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sekali-kali tidak!
Sebaliknya, kami meneguhkannya."
Ø Roma 10:4 “Sebab
Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap
orang yang percaya”.
Ø Galatia 2:16 “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh
karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam
Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya
kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan
hukum Taurat.
Ø Galatia
2:21 “Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh
hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus”.
Ø Galatia
3:11, “Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan Allah karena
melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: “Orang yang benar akan hidup oleh
iman.”
Ø Roma 10:4 “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran
diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”
BAB VII
KASIH ADALAH INTI HUKUM
TAURAT
7.1. HUKUM YANG
TERUTAMA
Perhatikan nats Alkitab berikut ini:
·
Ketika orang-orang Farisi mendengar,
bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka,
dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat? Jawab Yesus kepadanya:
"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu
dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia
seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat
dan kitab para nabi." (Matius 22:34-40).
·
Lalu seorang ahli Taurat, yang
mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus
memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan
bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum
yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu
esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu
dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang
kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum
lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini." Lalu kata ahli Taurat
itu kepada Yesus: "Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa,
dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap
hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga
mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada
semua korban bakaran dan korban sembelihan." Yesus melihat, bagaimana
bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: "Engkau tidak jauh
dari Kerajaan Allah!" Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada
Yesus. (Markus
12:28-34).
·
Pada suatu kali berdirilah seorang
ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat
untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang
tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah
Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu
manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu
benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." (Lukas 10:25-28)
Dari nats tersebut di atas, secara tegas Tuhan Yesus
mengatakan bahwa Hukum Yang Terutama adalah: Mengasihi Tuhan (dengan segenap
hati, segenap jiwa, segenap kekuatan, dan segenap akal budi) dan Mengasihi
Sesama Manusia (seperti mengasihi diri sendiri); Itulah Hukum Terutama dalam
Hukum Taurat dan Kitab para nabi.
Selanjutnya, Paulus dalam suratnya tentang KASIH kepada jemaat di Korintus
mengatakan:
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan
semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai
kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala
rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang
sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku
sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu
yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku
tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih itu sabar;
kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak
sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri
sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak
bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala
sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung
segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan
berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan
nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak
sempurna itu akan lenyap. Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti
kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak.
Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar,
tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal
dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti
aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman,
pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (I Korintus 13:1-3).
Dari nats tersebut di atas, jelaslah bahwa:
·
Tanpa mempunyai kasih:
o Sama dengan gong yang berkumandang
dan canang yang gemerincing, sekalipun seseorang dapat berkata-kata dengan
semua bahasa manusia dan malaikat.
o Semua karunia untuk bernubuat,
pengetahuan segala rahasia, memiliki seluruh pengetahuan; dan memiliki iman
yang sempurna untuk memindahkan gunung, sama sekali tidak berguna.
o Tindakan seseorang membagi-bagikan
segala sesuatu yang ada padanya, bahkan menyerahkan tubuhnya untuk dibakar,
sama sekali tidak ada faedahnya bagi dia.
Artinya bahwa segala sesuatu yang
dilakukan manusia tidak akan berarti apabila tidak memiliki kasih.
·
Unsur kasih adalah sabar, murah hati, tidak
cemburu, tidak memegahkan diri, tidak
sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri
sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak
bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran, menutupi segala
sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar
menanggung segala sesuatu.
Kalau manusia memiliki seluruh unsur kasih tersebut,
maka sama halnya dengan tidak melanggar hukum taurat. Seseorang yang
mewujudnyatakan unsur-unsur kasih tersebut dalam kehidupannya sehari-hari pasti
tidak ada hukum taurat yang dilanggar. “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia,
karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.” (Roma 13: 10). Oleh karena itu inti hukum taurat itu sendiri adalah kasih, baik kasih
kepada Tuhan maupun kasih kepada sesama manusia.
·
Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa
roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Kasih bersifat kekal. Kasih berlaku
sepanjang zaman. Kasih bukan hanya bersifat temporer dan tidak akan pernah
tergilas zaman. Inilah hukum kekekalan kasih.
·
Kasih merupakan yang terbesar yang tinggal dalam diri
manusia. Ketika nubuat telah berakhir, bahasa roh berhenti dan pengetahuan
lenyap, sehingga yang tinggal dalam diri manusia hanya 3 (tiga), yaitu iman,
pengharapan, dan kasih, maka yang paling besar di antaranya adalah kasih.
Bila sedemikian besarnya makna dan kekekalan kasih sehingga menjadi inti dari Hukum
Taurat, siapakah yang percaya bahwa makna dan kekekalan kasih ini bukan berasal
dari Tuhan? Malaikat, nabi, dan manusia manakah yang tidak menyetujui ayat
tersebut? Atau adakah manusia yang mampu menemukan ayat tandingan yang lebih
luhur dan mulia daripada ayat tersebut? Sungguh mustahil ada “ayat manusia”
yang mampu disandingkan dengan kemuliaanNya!
Lalu, apakah Hukum Taurat masih berlaku ? Jawabannya Ya ! "Terkutuklah orang yang tidak setia
melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat” (Galatia
3:10). Namun, kedatangan Kristus membebaskan kita dari kutuk itu: “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum
Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis:
"Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” (Galatia 3:13). Di
sinilah hukum barter terjadi. Kita yang seharusnya dihukum karena dosa kita dan
kutuk karena tidak sanggup melakukan hukum Taurat tanpa cacat cela, Kristus
menggantikan tempat kita agar kita beroleh keselamatan.
Mengapa demikian? “Sebab tidak
seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum
Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Roma 3:20).
Jadi tujuan Hukum Taurat ialah agar manusia mengenal dosa dan menyadari
ketidakmampuan mewujudnyatakannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga manusia
tidak lagi mengandalkan kekuatan sendiri tetapi mengandalkan Kristus. Rasul
Paulus kepada jemaat ke Galatia berkata: “Kamu
tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum
Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun
telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman
dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak
ada seorang pun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat”
(Galatia 2:16).
Justru karena itulah kita membutuhkan Kristus. Tanpa kematian Yesus di atas
kayu salib, kita tidak mempunyai harapan. “Aku
tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum
Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus” (Galatia 2:21). “Tetapi andaikata Kristus tidak
dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan
kamu” (1 Korintus 15:14). “Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah
kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1 Korintus 15:17).
Hal ini mengandung pengertian bahwa Hukum Taurat tetap perlu agar manusia
bisa mengenal dosa dan menyadari ketidakmampuannya. Hukum kasih karunia
memberikan harapan keselamatan dalam Kristus. Itulah sebabnya Yesus katakan: “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak
akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi” (Matius 5:18).
7.2. KETIDAKBERDAYAAN HUKUM TAURAT
TUHAN berfirman kepada Musa: “Naiklah menghadap Aku, ke atas gunung, dan tinggalah di sana, maka Aku akan memberikan kepadamu loh batu, yakni hukum dan perintah, yang telah Kutuliskan untuk diajarkan kepada mereka.” (Keluaran 24: 12)
Hukum Taurat ditulis oleh Allah sendiri di atas loh batu dan kemudian disampaikan kepada bangsa Israel oleh nabi Musa. Hukum Taurat berisikan ketetapan dan perintah Allah untuk dilakukan oleh bangsa Israel. Namun, sesunggunya hukum Taurat hanyalah gambaran dari akan datangnya hukum yang lebih mulia dan agung, yaitu hukum yang akan membebaskan manusia dari hukum dosa dan maut. Hukum yang tertulis itu akan digenapi dan tahap selanjutnya adalah diberlakukannya hukum yang tidak tertulis yaitu Roh Allah yang membebaskan! Sebab Tuhan adalah Roh; dan dimana ada Roh Allah, disitu ada kemerdekaan (2 Kor. 3: 17)
Hukum Taurat sebagai hukum yang tertulis telah gagal memberikan keselamatan kepada manusia dan telah gagal memerdekakan manusia dari hukum dosa dan maut. Hal ini terjadi bukan disebabkan oleh tidak baik dan tidak kudusnya Hukum Taurat, tetapi penyebabnya adalah tabiat keberdosaan manusia. Hukum Taurat tidak berdaya untuk menyelamatkan manusia!
“Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan
mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti
perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku
memegang tangan mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka
ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah
firman TUHAN” (Yeremia 31: 31-32)
Oleh karena Hukum Taurat sebagai hukum tertulis tersebut tidak dapat menyelamatkan manusia, maka Allah telah merancangkan suatu perjanjian yang baru kepada kaum Israel dan kaum Yehuda.
Selanjutnya dalam kitab Yeremia 31:33-34 kita dapat dipahami
bagaimana cara kerja perjanjian yang baru itu. “Tetapi beginilah perjanjian
yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN:
Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati
mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan
tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan
mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku,
demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak
lagi mengingat dosa mereka.”
(Yeremia 31: 33-34).
Selain itu, perjanjian baru yang dirancang Allah tidaklah
berarti bahwa perjanjian sebelumnya yaitu Hukum Taurat tidak berlaku lagi,
justru perjanjian baru menggenapi perjanjian lama. Hal ini senada dengan
pernyataan Tuhan Yesus Kristus yang menegaskan bahw: “Jangan kamu menyangka bahwa
Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan
untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5: 17).
Walaupun demikian, para ahli taurat dan orang Farisi pada
masa itu mengganggap Tuhan Yesus telah melanggar beberapa perintah hukum
Taurat. Mereka menuduh bahwa
menyembuhkan penyakit dan orang cacat fisik (Yohanes 5: 1-18; 9) dan melakuan
pekerjaan kecil seperti memetik bulir gandum (Matius 12:1-8) pada hari Sabat
adalah melanggar perintah tertulis hukum Taurat! Mereka menuduh Yesus dan para
murid-Nya melanggar hukum tertulis itu dengan melakukan pekerjaan tersebut.
Menurut ahli taurat dan orang Farisi Hukum Taurat sebagai
perjanjian lama akan memberikan keselamatan kepada manusia. Dengan
memperaktekan Hukum Taurat manusia akan memperoleh keselamatan dari Allah,
sehingga Hukum Taurat dijadikan alat untuk menghakimi manusia menurut apa yang
dilihatnya, padahal yang terpenting dalam Hukum Taurat adalah keadilan, belas kasihan dan kesetiaan (Matius
23: 23). Manusia yang masih terikat dengan perjanjian lama tidak akan
dapat melihat hukum-hukum yang tidak tertulis yang lebih agung dari pada
hukum-hukum tertulis yang terkesan legalistis dan agamawi.
Perjanjian Allah dengan manusia pertama-tama diberikan
kepada bangsa Israel sebagai pembaharuan dari perjanjian lama dan selanjutnya
akan dinikmati oleh semua bangsa termasuk bangsa yang bukan Yahudi. Yesus
sendiri menjelaskan bahwa “keselamatan datang dari bangsa Yahudi” (Yohanes 4:22). Perjanjian barulah yang dapat membawa manusia ke
dalam keselamatan dan kesempurnaan. Perjanjian baru hanya diberikan Allah
kepada manusia yang percaya kepada Yesus Kristus. Sebab Yesus Kristus telah
mengggenapi seluruh hukum-hukum tertulis Musa selama hidup-Nya di dunia.
Perjanjian baru hanya dapat ditulis dalam batin dan hati
manusia melalui Roh Allah yang Mahakudus yang hanya dapat bekerja di dalam hati
manusia yang telah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadinya. Roh
Kudus Allah itu juga disebut sebagai Roh Kebenaran (Yohanes 14: 16-17), dan
mengenai Roh itu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Dunia tidak dapat menerima
Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal
Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yohanes 14:17)
Jadi dapat disimpulkan bahwa tubuh jasmaniah Yesus Kristus
merupakan lambang bentuk fisik dari perjanjian lama dan sifat ke-ilahian Yesus
Kristus merupakan bentuk tak tertulis dari Hukum Taurat. Dalam keadaan-Nya
sebagai manusia, Allah di dalam diri Yesus Kristus telah melimpahkan semua
tuntutan Hukum Taurat atas pelanggaran manusia di dalam tubuh jasmaniah-Nya.
Oleh sebab itu Yesus dapat memiliki akses ke dalam maut. Semua pelanggar hukum
Taurat seyogianya harus mati tetapi karena Yesus Kristus telah menang atas maut
melalui kebangkitan-Nya, Allah melalui Dia berkenan mengampuni dosa-dosa
manusia yang percaya dan setia dalam ajaran kasih-Nya melalui Roh Kudus. Setia
dalam ajaran Yesus Kristus berarti bahwa orang itu memberikan hati dan batinnya
untuk diukir oleh hukum kasih melalui Roh Kudus yang telah ia terima melalui
iman kepada Yesus Kristus. Proses penyempurnaan dari dalam itu akan terus
bekerja seumur hidup orang itu. Sekalipun orang itu jatuh dalam pelanggaran
namun Roh Kudus akan memberikan jalan keluar atas setiap pelanggaran dan
kesalahanya itu. Roh itu akan memimpin manusia ke dalam keselamatan dan
kesempurnaan. Jaminan surga telah diberikan Allah secara gratis melalui iman di
dalam Yesus Kristus! Hukum-hukum tertulis Taurat telah disampaikan oleh Musa
namun hukum-hukum tak tertulis yaitu KASIH disampaikan oleh Roh Allah dari
dalam hati dan batin orang yang percaya kepada Yesus.
Sebelum bertobat, Paulus dulunya adalah seorang Farisi yang
sangat bersemangat untuk membunuh dan menganiaya orang-orang yang mengikuti
Jalan Tuhan. Namun setelah ia dibebaskan dari hukum-hukum tertulis itu melalui
kasih karunia Allah dan menjadi murid Yesus Kristus, ia berkata: “Demikianlah
besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. Dengan diri kami sendiri
kami tidak sanggup untuk memeperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami
sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami
juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri
dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan,
tetapi Roh menghidupkan.” (2
Korintus 3:4-6)
BAB VIII
IMAN DAN
PERBUATAN
8.1.
PENDAHULUAN
Seorang teman bertanya kepada saya mengenai adanya kesan “kontradiktif”
antara iman dan perbuatan. Beliau bertanya, manakah yang lebih utama ‘iman’
atau ‘perbuatan. Dasar beliau adalah sebagaimana tercantum dalam kitab Paulus
kepada jemaat di Roma 3:28 “Karena kami
yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan
hukum Taurat” yang dihubungkan dengan kitab Yakobus 2:17 “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman
itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati”.
Sekilas memang kedua ayat tersebut bertolak belakang. Di
satu pihak, Paulus kepada jemaat di Roma menegaskan bahwa dasar pembenaran
manusia adalah ‘iman’ dan bukan ‘perbuatan. Di lain pihak, kitab Yakobus
menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati. Apa memang kedua
ayat Alkitab tersebut bertentangan satu sama lain ?
Tetapi kalau kita memperhatikan secara mendalam
masing-masing perikop di atas, justru kedua perikop tersebut saling melengkapi.
Mengapa demikian ?
1. Satu hal yang
pasti adalah bahwa manusia dibenarkan karena iman, bukan karena perbuatan. Walaupun demikian,
bagaimana seseorang mengatakan memiliki iman tanpa mewujudnyatakan dalam bentuk
perbuatan ? Dalam perikop kitab Yakobus tersebut dijelaskan bahwa seseorang
tidak akan mungkin menunjukkan imannya tanpa perbuatan, melainkan iman hanya
dapat ditunjukkan melalui perbuatan. Tidak ada gunanya jika seseorang
mengatakan bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan.
2. Iman
bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman
menjadi sempurna, artinya bahwa manusia dibenarkan karena iman melalui
perbuatan-perbuatannya.
3. Pada
hakekatnya, semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan
Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena
penebusan dalam Kristus Yesus, sehingga kebenaran Allah adalah kebenaran iman dalam Yesus
Kristus.
4. Tidak ada dasar bagi seseorang untuk
bermegah dalam hal keselamatanya. Seseorang diselamatkan bukan karena usahanya
sendiri melalui perbuatannya melainkan semata-mata hanya karena kasih karunia
Allah melalui iman dalam Yesus Kristus.
5. Pembenaran karena iman sama sekali
tidak membatalkan
hukum Taurat tetapi justru meneguhkannya.
Dengan demikian maka kedua ayat tersebut di atas tidaklah saling
kontradiktif tetapi justru saling melengkapi, dimana pembenaran manusia
semata-mata hanyalah karena anugerah Allah (sola
gratia) kepada manusia melalui iman kepada Yesus Kristus dan bukan karena
melakukan perbuatan-perbuatan yang baik sebagaimana diamanatkan dalam Hukum
Taurat.
8.2. MANUSIA DIBENARKAN KARENA IMAN
Pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib merupakan karya Allah sebagai
tanda kasihNya kepada umat manusia karena melalui kematianNya tersebut manusia
yang percaya kepadaNya dapat memperoleh keselamatan. Yohanes 3:16, “Karena begitu
besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang
tunggal, supaya setiap orang yang
percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Keselamatan adalah semata-mata
hanya karena Kristus saja, bukan karena Hukum Taurat. Hal ini berarti bahwa
keselamatan manusia tidak didasarkan dari amal-ibadah, melainkan sepenuhnya
keselamatan itu anugerah Allah melalui Yesus Kristus. 2 Timotius 1:9, “Dialah yang
menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan
perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud
dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam
Kristus Yesus sebelum permulaan zaman”.
Beberapa ayat paralel dengan 2 Timotius 1:9 tersebut adalah sebagai
berikut:
·
Orang yang percaya
kepadaNya sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya
kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut
dihukum, sebab ia sudah pindah dari
dalam maut ke dalam hidup”
(Yohanes 5:24).
·
Orang yang menerimaNya menjadi anak-anak Allah. “Tetapi semua orang yang menerima-Nya
diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya
dalam nama-Nya” (Yohanes 1 : 12).
·
Orang yang dibenarkan karena iman hidup dalam damai
sejahtera dengan Allah. “Sebab itu, kita
yang dibenarkan karena iman,
kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus
Kristus” (Roma 5:1).
·
Semua orang yang percaya kepadaNya telah dibenarkan
dengan cuma-cuma. “Karena semua orang
telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena
penebusan dalam Kristus Yesus. Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan
cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” (Roma 3:23-24).
·
Manusia beroleh jalan masuk kepada kasih karunia Allah
oleh Yesus Kristus. “Oleh Dia kita juga
beroleh jalan masuk oleh iman
kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita
bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Roma 5:2).
·
Manusia diselamatkan bukan
karena usahanya supaya tidak ada orang yang memegahkan diri. “itu bukan
hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:9).
·
Manusia yang benar akan
hidup oleh iman. “Tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan
Allah karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang yang
benar akan hidup oleh iman” (Galatia 3:11).
·
Manusia dibenarkan karena
kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. “dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri
karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah
anugerahkan berdasarkan kepercayaan” (Filipi
3:9).
Oleh karena semua manusia telah berdosa, maka keselamatan
manusia hanya dimungkinkan terjadi oleh sebuah pembenaran, yaitu pemberian
kebenaran yang dilakukan oleh Allah sendiri kepada manusia. Melalui pembenaran,
maka Allah mengubah seluruh hubungan manusia denganNya. Manusia tidak lagi
menjadi seteru Allah. Dalam hal ini pembenaran adalah terhadap relasi manusia
dengan Allah, dan bukan pembenaran terhadap perbuatan-perbuatan dosa manusia.
Pembenaran ini merupakan anugerah karena tidak diperoleh
dengan usaha manusia tapi oleh anugerah atau pemberian cuma-cuma dari Allah
bagi mereka yang beriman. Bagi orang Yahudi yang terbiasa dengan konsep
keselamatan oleh karena melakukan hukum Taurat, hal ini mungkin agak sukar
diterima. Agar mereka dapat memahami hal ini maka Paulus terlebih dahulu
membuka mata orang Yahudi bahwa Abraham, bapa bangsa-bangsa itu pun mendapatkan
kebenaran bukan karena melakukan hukum Taurat melainkan karena iman (Roma 4:13).
Paulus menggunakan paralelisme Adam dan Kristus untuk
menggambarkan bagaimana manusia dibenarkan oleh iman (Roma 5:12,15). Adam dan
Kristus memiliki kemiripan dalam satu hal, dimana satu orang berdampak kepada
banyak orang. Sebagai kebenaran yang masuk ke dalam dunia oleh satu orang
sebagaimana dosa yang masuk ke dalam dunia oleh satu orang. Surat Paulus kepada
jemaat di Roma tersebut merupakan pengembangan pemikiran bahwa kebenaran
Kristus diimputasikan kepada manusia di dalam pembenaran. Kebenaran Kristus itu
adalah bahwa Ia telah dengan sempurna mentaati hukum Taurat yang tidak bisa
ditaati manusia, dan bahwa Ia telah menanggung murka yang selayaknya ditimpakan
kepada manusia atas dosa-dosa manusia itu sendiri.
Kebenaran tersebut hanya bisa diterima dengan iman.
Kebenaran diberikan kepada mereka yang percaya pada janji penebusan Allah di
dalam Kristus yang sudah dilakukannya di kayu salib. Sebagaimana Abraham
percaya oleh janji Allah dan imannya itu diperhitungkan sebagai kebenaran,
demikian juga bagi kita yang percaya pada janji Allah oleh Yesus Kristus, iman
kita akan diperhitungkan sebagai kebenaran. Kebenaran yang diterima tanpa usaha manusia ini merupakan anugerah atau
kasih karunia.
Mari kita kembali ke zaman Abraham untuk melihat bagaimanakah Abraham
memperoleh “pembenaran” di hadapan Allah. Di dalam keadaan lanjut usia
dan dengan menghadapi kenyataan bahwa Sara isterinya telah mati haid, Allah
berjanji kepada Abraham untuk memberikannya ahli waris dan bukan hanya satu,
tetapi seperti bintang-bintang di langit banyaknya ! “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka
TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”
(Kejadian 15:6)
Rasul Paulus menguraikan hal ini dengan jelas di dalam ayat-ayat berikut: “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk
berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa
banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti
keturunanmu.” Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa
tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan
bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang
karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan
Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang
telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai
kebenaran.” (Roma 4:18-22; bnd Galatia 3:6; Yakobus 2:22-23).
Perhatikan bahwa yang dimaksud dengan “percaya” atau “iman” di sini
bukanlah percaya dan iman yang sering diklaim banyak orang beragama, tetapi
seperti yang didefinisikan di dalam Ibrani 11:1, sebagai berikut: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang
kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
Ada dua keyataan lain yang membenarkan pernyataan kebenaran tentang
pembenaran Abraham oleh iman dan bukan oleh melakukan Hukum Taurat.
·
Ketika Abraham dibenarkan
Allah oleh karena iman (Kejadian 15:6), Hukum Taurat belum ditulis. Hukum
Taurat baru ditulis pada zaman Musa.
·
Ketika Abraham dibenarkan
Allah oleh karena iman (Kejadian 15:6), Abraham belum disunat. Sunat
Abraham baru dilakukan di dalam Kejadian 17:24-27.
Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita wajib melakukan Hukum
Taurat? Sejalan dengan Matius 5:18, semua umat Allah Israel wajib
melakukan Hukum Taurat. Sebenarnya, akan celakalah kita karena ada
tertulis: “Karena semua orang, yang
hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis:
“Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis
dalam kitab hukum Taurat.” (Galatia 3:10)
Sebab sejujurnya, kita tidak mampu mencapai separuhpun dari apa yang
dilakukan orang muda kaya yang bodoh dan oleh rasul Paulus. Tetapi segala
puji dan hormat serta kemuliaan bagi Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang
telah menyelamatkan kita dari kutuk Hukum Taurat melalui Yesus Kristus. “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum
Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah
orang yang digantung pada kayu salib!” Yesus Kristus telah membuat ini, supaya
di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh
iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” (Galatia 3:13-14)
Lalu, mengapa Iman diperhitungkan
sebagai kebenaran ?
Roma 4:4,
5 Kalau ada
orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai
haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia
yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.
Roma 6:18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa
dan menjadi hamba kebenaran.
Roma 3:28 Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan
karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.
Markus 16 :16 Siapa yang percaya dan dibaptis akan
diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Kalau demikian, apakah itu berarti
perbuatan baik tidak ada gunanya? Tetap berguna. Tetapi posisinya harus benar,
yaitu perbuatan baik yang keluar dari keselamatan tersebut. Perhatikan kitab Efesus 2:1-10, “Kamu dahulu sudah
mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya,
karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan
angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka.
Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup
di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang
jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti
mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya
yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita
bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan
kita -- oleh kasih karunia kamu diselamatkan dan di dalam Kristus Yesus Ia
telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di
sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan
kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita
dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman;
itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu:
jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan
dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah
sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
Paulus menegaskan kebinasaan semua
manusia karena dosa (ayat 1-3) selanjutnya dia mengumandangkan 'kasih'
pada ayat 4-7. Setelah itu, Paulus melanjutkannya "Bukan karena
kebaikanku... semua hanya anugerahNya" (ayat 8-9). Akhirnya Paulus
menegaskan supaya orang yg telah mengalami kasih dan anugerah itu giat berbuat
baik (ayat 10).
Perbuatan baik tetap dituntut kepada semua umat Allah, terlebih ketika kita telah menerima 'benih ilahi' dan dimateraikan sebagai anak-anak-Allah. Maka, 'nature' Allah yang baik itu ada dalam diri kita. Maka, kalau kita melakukan perbuatan-perbuatan baik, itu bukan untuk "membeli" keselamatan, melainkan justru sebagai buah keselamatan! Yaitu ujud bersyukur dan terima kasih kita kepada Sang Juruselamat, yang terlah mengkaruniai kita dengan keselamatan.
8.3. HUBUNGAN ANTARA
IMAN DAN PERBUATAN BAIK
Alkitab mengajarkan bahwa iman yang
tidak disertai oleh perbuatan baik adalah iman yang mati (Yakobus 2:17). Dengan
demikian, jika dirumuskan secara positif adalah: iman yang disertai perbuatan
baik adalah iman yang hidup. Iman yang hidup inilah, yang kita peroleh karena
kasih karunia Allah, yang dapat menyelamatkan kita (Efesus 2:8-10; Titus 3:5-8;
Yakobus 2:14-26). Dengan demikian, jika kita ingin diselamatkan kita
harus mempunyai iman yang hidup, yaitu iman yang dinyatakan dengan perbuatan
baik / kasih.
Hubungan antara iman dan perbuatan baik
dapat diketahui dari penjelasan perikop surat Rasul Yakobus 2:14-26. “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika
seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai
perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? (Yakobus 2:14). Ajaran ini
sangat sesuai dengan ajaran Kristus, “Bukan
setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan
Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”
(Matius 7:21).
Iman tanpa perbuatan tidak dapat menyelamatkan, artinya bahwa manusia
yang sudah menerimaNya atau
dengan kata lain manusia yang telah menikmati keadaan yang istimewa itu bukan
karena jasa-jasa mereka sendiri, melainkan berkat rahmat Kristus yang istimewa.
Dan bila mereka tidak menanggapi rahmat itu dengan pikiran, perkataan dan
perbuatan, mereka bukan saja tidak diselamatkan, malahan akan diadili lebih
keras.” (Lukas 12:48, Lih. Matius 5:19-20; 7:2-22; 25:4-46; Yak 2:14).
Jika seorang tidak mempunyai pakaian dan
kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat
jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak
memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? (Yakobus
2:15-16). Ini adalah contoh yang jelas yang serupa dengan ajaran dalam surat
Rasul Yohanes, “Barangsiapa mempunyai
harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu
hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam
dirinya?” (1 Yohanes 3:17). Dan kesimpulannya, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan
lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1 Yohanes 3:18).
Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka
iman itu pada hakekatnya adalah mati. (Yakobus 2:17). Sebagaimana
melibatkan ketaatan yang teguh terhadap kebenaran yang diwahyukan Allah, iman
harus mempengaruhi kehidupan sehari-hari umat Kristen, dan menjadi patokan yang
menjadi tolok ukur bagi perbuatannya. Ketika perbuatan-perbuatan
seseorang tidak sesuai dengan imannya, maka imannya itu mati.
Alkitab juga mengajarkan bahwa iman
seseorang yang di dalam keadaan dosa berat sebagai “iman yang mati”, sebab ia
tidak berada di dalam rahmat Tuhan, ia tidak mempunyai kasih sebab kasih adalah
jiwa dari segala kebajikan lainnya. “Iman tanpa harapan dan kasih tidaklah
menyatukan manusia dengan Kristus ataupun menjadikannya anggota yang hidup bagi
tubuh-Nya. Karena itu, dikatakan dengan benar sekali bahwa, ‘iman tanpa perbuatan adalah mati’
(Yakobus 2:17) dan tidak berguna”
Tetapi mungkin ada orang berkata:
“Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia:
“Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu
imanku dari perbuatan-perbuatanku.” (Yakobus 2:18). Rasul Yakobus menjelaskan
dengan terang sekali bahwa iman tanpa perbuatan sangatlah tidak masuk akal sama
sekali. “Kebenaran iman melibatkan tidak saja kepercayaan di dalam hati, tetapi
juga pengungkapan ke luar, yang diekspresikan tidak saja dengan pernyataan iman
seseorang, tetapi juga dengan perbuatan-perbuatan yang melaluinya orang itu
menunjukkan imannya.”
Engkau percaya, bahwa hanya ada satu
Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan
mereka gemetar. (Yakobus 2:19). Selanjutnya Rasul Yakobus bahkan membandingkan
iman tanpa perbuatan dengan semacam iman yang dimiliki oleh setan-setan, sebab
mereka percaya: karena terpaksa percaya dengan bukti tanda-tanda yang mendukung
ajaran Kristus. Namun demikian iman semacam ini bukan iman yang menyelamatkan;
sebaliknya menyebabkan mereka ciut/takut karena mengingatkan mereka akan
keadilan ilahi dan penghukuman kekal.
Ada perbedaan antara percaya Tuhan,
percaya akan Tuhan, dan percaya kepada Tuhan. “Percaya Tuhan adalah percaya
bahwa yang dikatakan-Nya adalah benar. Percaya akan Tuhan, artinya percaya
bahwa Ia adalah Tuhan. Percaya kepada Tuhan adalah mengasihi Dia. Banyak orang,
bahkan orang jahat percaya bahwa Tuhan mengatakan kebenaran, dan mereka percaya
akan yang dikatakan itu sebagai kebenaran meskipun mereka tidak menginginkannya
atau terlalu malas untuk mengikutinya. Percaya bahwa Ia adalah Tuhan juga
adalah sesuatu yang dapat dilakukan oleh setan-setan. Tetapi percaya kepada-Nya
dan mengikuti Dia hanya benar terjadi pada mereka yang mengasihi Tuhan, yaitu
umat Kristen, yang tidak hanya namanya saja tanpa perbuatan dan hidup yang
membuktikan hal itu. Sebab tanpa kasih, iman itu sia-sia. Dengan kasih, iman
menjadi iman Kristen; tanpa kasih, iman menjadi iman setan-setan.
Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama
dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi
sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah
Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai
kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah. ”Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya
dan bukan hanya karena iman” (Yakobus 2:22-24). Magisterium Gereja mengutip
ayat-ayat ini ketika mengajarkan tentang justifikasi / pembenaran, penghapusan
dosa, yang diterima sebagai pemberian yang cuma-cuma di dalam sakramen
Pembaptisan, bertumbuh di dalam kekuatan asalkan orang yang dibaptis itu
menanggapi rahmat Tuhan dengan melaksanakan perintah-perintah Tuhan dan Gereja;
orang yang benar dan jujur / adil, “bertumbuh di dalam keadilan yang mereka
terima melalui rahmat Kristus, iman mereka disempurnakan oleh perbuatan (lih.
Yakobus 2:22), dan mereka lebih dibenarkan lagi, sebab ada tertulis: “barangsiapa yang benar, biarlah ia terus
berbuat kebenaran” (Wahyu 22:11) dan lagi, “Jadi kamu lihat bahwa manusia dibenarkan karena
perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman”
(Yakobus 2:24)”
Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah
mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan
adalah mati.” (Yakobus 2:26). Dengan berbicara tentang roh,
Rasul Yakobus mengacu kepada “nafas kehidupan”, “pernafasan”…. kita mengetahui
bahwa tubuh menjadi hidup oleh karena nafas, tanpa nafas maka tubuh menjadi
jasad. Demikian pula, iman yang hidup menyatakan
dirinya sendiri dengan perbuatan-perbuatan, terutama di dalam perbuatan kasih.
“Seperti ketika tubuh bergerak kita
mengetahui bahwa ia hidup, maka perbuatan-perbuatan baik menunjukkan bahwa iman
itu hidup. Jiwa memberikan hidup kepada tubuh, menyebabkannya bergerak dan
merasakan; kasih memberikan hidup kepada iman, dan menyebabkannya berbuat
sesuatu, sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus, “iman yang bekerja oleh
kasih” (Galatia 5:6). Seperti halnya tubuh mati ketika jiwanya meninggalkannya,
maka iman mati jika perbuatan kasih menjadi dingin / berkurang. Karena itu,
ketika kamu melihat seseorang yang aktif melakukan perbuatan-perbuatan baik dan
gembira dan bersemangat di dalam tingkah lakunya, kamu dapat yakin bahwa iman
itu hidup di dalam dirinya: hidupnya jelas membuktikan hal itu.”
BAB IX
KASIH
KARUNIA MELEBIHI HUKUM TAURAT
9.1. PENDAHULUAN
Ketika Yesus belum datang ke dunia, masyarakat Israel dalam
Perjanjian Lama hidup menurut sebuah kaidah atau aturan yang tertulis di dalam
hukum Taurat. Di dalam hukum Taurat tidak ada kasih karunia, sebab pahala itu
hanya akan diberikan kepada mereka yang mampu melaksanakan hukum Taurat.
Pertanyaannya adalah siapakah manusia di bumi ini yang mampu melaksanakan hukum
Taurat dengan sempurna? Tidak satupun! Jika demikian maka manusia terancam
mendapatkan hukuman. Sebab barangsiapa tidak mampu melaksanakan hukum Taurat
maka ia mendapat hukuman. Oleh karena itu, tidak ada harapan bagi manusia untuk
mendapatkan keselamatan apabila hanya bergantung kepada hukum Taurat.
Inilah yang menjadi nasihat Paulus dalam suratnya yang
mengatakan: “Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran
oleh hukum taurat: kamu hidup di luar kasih karunia” (Galatia 5 : 4)
Ketika pemahaman jemaat masih kurang mengenai keselamatan
yang di dalam Kristus, maka Paulus memberikan nasihat, bahwa di dalam Kristus
ada kasih karunia. Sehingga bagi manusia yang tidak mampu melaksanakan hukum
Taurat telah disediakan kasih karunia. Dengan demikian keselamatan bukan
merupakan usaha manusia dalam melaksanakan hukum, melainkan hanya kasih dan
kemurahan Allah saja. Karena itu, jangan sampai kita lepas dari Kristus!
Menjauhkan diri dari Kristus identik dengan menjauhkan diri dari keselamatan.
Dalam kitab Galatia 2:21 “Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran
oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus’. Jadi sudah sangat
jelas bahwa kalau ada kebenaran sedikitpun oleh hukum Taurat, maka sia-sialah
kematian Kristus. Tidak ada orang yang dibenarkan dengan hasil usahanya. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan
telah kehilangan kemuliaan Allah,” (Roma 3:23) jika manusia bisa selamat
karena usahanya, Yesus tidak perlu berkorban untuk keselamatan manusia.
Jika Hukum
Taurat tidak menyelamatkan maka ada di
manakah posisi Hukum Taurat ?
1. Hukum Taurat ada di
dalam kasih
a. “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama
manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 13:10).
b. "Jikalau kamu mengasihi Aku,
kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15)
2. Hukum Taurat adalah
buah dari iman
a. “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah
mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26).
b. “Akulah pokok anggur dan kamulah
ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia
berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes
15:5).
c. “Setiap ranting pada-Ku yang tidak
berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya
ia lebih banyak berbuah” (Yohanes 15:2).
d. “Barangsiapa berkata: Aku mengenal
Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di
dalamnya tidak ada kebenaran” (I Yohanes 2:4).
Orang percaya tidak
lagi berada di bawah Hukum Taurat namun di bawah Kasih Karunia. Sebelum iman
itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai
iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai
Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah
datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. Galatia
3:23-25)
Berada di bawah
Kasih Karunia bukan berarti berada di atas Hukum Taurat dan menginjak-injak
Hukum Taurat. “Karena saya berada di bawah kristus maka saya berbuah, karena
saya berada di dalam Kristus”. Menuruti Hukum Taurat tempatnya bukan di samping
Kristus. keselamatan bukan Kristus plus Hukum Taurat, namun sebagai efek.
akibat saya di dalam Kristus dan Kristus di dalam saya, maka saya berbuah.
“Dan keselamatan
tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong
langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita
dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12)
Apakah setelah
dibenarkan, maka manusia tidak akan berbuat berdosa lagi? Kenyataan menunjukkan
bahwa manusia dapat jatuh ke dalam dosa meskipun telah mengalami pembenaran. Roma 7:19-21, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat,
melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.
Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang
memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang
baik, yang jahat itu ada padaku”.
Jika setelah
pembenaran dosa masih tetap ada, jadi apa yang dimaksudkan dengan telah
dimerdekakan / menjadi hamba kebenaran? Roma
6:14 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu
tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. Roma 6:6 Karena kita tahu, bahwa
manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang
kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Dalam
kehidupan orang Kristen, dosa tidak lagi berkuasa tetapi ia tetap ada. Saat
dibenarkan dosa tidak berkuasa lagi atas kita. Maksudnya, meskipun dosa masih
tetap ada di dalam diri kita tapi sekarang ia tidak memerintah lagi, ia kini
dapat dikalahkan.
Apakah Manusia
sanggup menuruti hukum Allah dengan sempurna ?
Adalah mungkin bagi Adam sebelum berdosa untuk membentuk karakter
yang benar oleh penurutan kepada hukum Allah. Tetapi ia gagal melakukan
hal ini, dan karena dosanya keadaan kitapun lemah sehingga kita tidak dapat
membuat diri kita benar. Oleh karena kita penuh dosa dan najis kita
tidak dapat menurut hukum yang suci itu dengan sempurna. Roma 7:14. Sebab kita tahu, bahwa
hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa
dosa. 1 Korintus 15:40, 44 Ada
tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari
pada kemuliaan tubuh duniawi. Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang
dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh
rohaniah.
Jika kita benar-benar mengerti dan menghargai pengorbanan
Kristus untuk manusia maka melakukan hukum taurat bukan lagi menjadi beban, namun
itu akan keluar sebagai buah dari iman kita, kita akan berusaha untuk hidup
oleh roh, dibaharui setiap hari,
bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan memiliki prinsip seperti Sadrakh,
Mesakh dan Abednego (Daniel 3:17,18) yang tetap setia.
Jika demikian, maka jelaslah bahwa Kasih Karunia Allah
jauh melebihi Hukum Taurat. Perbedaan keduanya adalah sebagai berikut:
1. Dalam 1 Yohanes
1:17 disebutkan: "Sebab hukum Taurat
diberikan oleh Musa, Tetapi kasih karunia (anugerah) dan kebenaran datang oleh
Yesus Kristus. Yang diberikan (melalui) Musa adalah Hukum Taurat,
sedangkan yang datang melalui Yesus Kristus adalah Kasih karunia (anugerah) dan
kebenaran.
Hukum Taurat tergolong suatu hukum
yang harus dipatuhi dan bila ada yang melanggarnya akan diberikan suatu sanksi
atau hukuman. Hukum Taurat itu adalah suatu peraturan atau hukum (dalam
perjanjian lama) yang harus di penuhi oleh manusia agar dapat memenuhi tuntutan
Allah. Jadi hukum taurat itu menuntut manusia untuk dapat memenuhi peraturan
atau hukum itu. Agar manusia dapat memenuhi tuntutan hukum Taurat itu, maka
tentu saja manusia harus bekerja / atau melakukan sesuatu untuk memenuhi
tuntutan hukum itu.
Hal ini berbeda dengan kasih karunia
(anugerah) yang datang melalui Yesus Kristus. “....Karena begitu besar kasih Allah...sehingga Ia telah mengaruniakan
anak Nya yang tunggal....” (Yohanes 3:16). Kasih karunia (anugerah) itu
sebenarnya adalah diri Yesus Kristus sendiri.
2. Hukum taurat itu
menuntut manusia untuk bekerja/ berusaha melakukan sesuatu untuk Allah agar
dapat memenuhi tuntutan Allah. Tetapi kasih karunia ini merupakan suatu
anugerah / pemberian Allah agar manusia dapat memenuhi tuntutan Allah. Kalau
hukum Taurat itu berdasarkan usaha manusia, kalau kasih karunia itu berdasarkan
Kasih karunia (pemberian Allah), jadi Allah yang mengerjakan untuk manusia.
3. Masalah
Keselamatan, Allah yang mengerjakan, dia datang sebagai manusia Yesus Kristus,
menderita sengsara mati dan disalibkan di kayu salib, dan kemudian bangkit naik
kesurga. Jadi manusia tidak perlu berjerih lelah, harus banyak amal. Harus
memperbaiki diri dulu, harus memperingati hari sabat, harus ini dan harus itu,
jangan ini dan jangan itu. Yang perlu dilakukan itu adalah Percaya. Dan
keselamatan itu diberikan secara cuma-cuma. "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman, itu bukan hasil
usahamu, tetapi pemberian Allah" (Efesus 2:8).
Sejak kedatangan Yesus Kristus sampai saat ini merupakan
jaman kasih karunia, dan bukan lagi jaman Hukum Taurat. Yang perlu dilakukan
adalah percaya kepada Yesus Kristus.
Allah telah memberikan anugerah (kasih karunia) Nya melalui Yesus
Kristus. Dia telah datang ke dunia ini dalam Yesus Kristus, hidup di dunia,
mati tersalib, bangkit dan naik ke surga, dan kemudian menjadi roh yang
menghidupkan. Allah telah melahirkan kembali kita, memberikan hidup kekal bagi
setiap orang yang percaya.
9.2. DARI HUKUM TAURAT KEPADA KASIH KARUNIA
Manusia “berada di bawah kasih
karunia” mengandung pengertian bahwa manusia “tidak berada di bawah hukum
taurat" dan "telah mati untuk hukum Taurat”. Hal ini bukan berarti
bahwa manusia tidak bersalah jika melanggar hukum Taurat (lih. Roma 6:14-15),
tetapi manusia bebas dari hukuman dan kutukan hukum taurat. "Karena
semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk.
Sebab ada tertulis, 'terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala
sesuatu yang tertulis di dalam kitab hukum Taurat" (Galatia 3:10). Tidak peduli betapa
baiknya terlihat kehidupan seseorang, orang yang belum memiliki iman kepada
Tuhan Yesus Kristus akan tetap hidup di bawah kutukan Allah. Pada saatnya ia
akan mendengar kata-kata yang menyakitkan, "Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke
dalam api yang kekal yang telah tersedia untuk iblis dan malaikat-malaikatnya”
(Matius 25:41). Di lain pihak, orang yang telah memiliki iman kepada Yesus
Kristus telah ditebus dari kutuk hukum Taurat: "Kristus telah menebus
kita dari kutuk hukum Taurat, dengan jalan menjadi kutuk, sebab ada tertulis,
“terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib..." (Galatia 3:13). "Demikianlah
sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang berada di dalam Kristus Yesus"
(Roma 8:1). Selanjutnya, dalam Ibrani 8:12 “Sebab Aku menaruh belas
kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka”.
Bebas dari hukum, oh betapa bahagianya, Darah Yesus telah tercurah, dan ada
pengampunan Dikutuk oleh hukum dan memar karena jatuh, kasih karunia telah
menebus kita, sekali untuk selamanya Sekali untuk selamanya, oh orang berdosa
menerimanya, Sekali untuk selamanya, oh saudara percayalah; Melekat pada salib,
beban akan terlepas, Kristus telah tebus kita, sekali untuk selamanya!
Orang beriman tidak hanya bebas dari kutuk hukum Taurat, tetapi juga bebas
dari beban yang menghancurkan karena harus menjaga hukum sebagai alat untuk
mendapatkan kebenaran dan hidup. Hukum menahan janji akan hidup dan berkat
bagi mereka yang berdiri di atas kebenaran dan melakukannya. (Galatia 3:12,
Lukas 10:25-28; Filipi 3:9; Roma 10:5). “Tetapi dasar hukum Taurat bukanlah
iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya” (Lukas
10:25-28; Filipi 3:9; Roma 10:5). "Lakukan ini dan kamu akan hidup",
itulah prinsip Taurat. Di bawah hukum Taurat, manusia bersusah-payah mencoba
untuk mendapatkan kemurahan Allah. Bagi orang beriman, segalanya berbeda, orang
beriman telah memiliki hidup yang kekal, semua karena karya Kristus atas dirinya!
Allah senang kepadanya dan bersuka atasnya, seperti mempelai bersuka atas
pengantin perempuan itu: "Dan seperti girang hatinya seorang mempelai
melihat pengantin perempuan, demikanlah Allahmu akan bergirang atasmu"
(Yesaya 62:5) "Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem:
"Janganlah takut, hai Sion; janganlah tanganmu menjadi lemah-lesu. Tuhan
Allahmu ada di antaramu, sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang
karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak
karena engkau dengan sorak-sorai!" (Zefania 3:16-17). Alllah bukan
hanya mengasihi orang yang beriman, tetapi Allah mengasihi mereka melebihi
kemampuan mereka, kasih-Nya "melampaui segala pengetahuan. ”dan dapat
mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan, aku berdoa
supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (Efesus 3:9)
Orang percaya bebas dari hukum Taurat yang merupakan syarat untuk
memperoleh hidup. Kristus tidak hanya menebusnya dari kutuk hukum taurat; Dia
juga mendapatkan baginya semua berkat kehidupan dan kebenaran. "Kristus
telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat... supaya di dalam Dia berkat
Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh
yang telah dijanjikan itu" (Galatia 3:13-14). Hal ini berarti orang
percaya tidak lagi hidup di bawah kutuk, melainkan hidup di bawah berkat Allah
yang melimpah. Keadaan yang penuh berkat ini mengalir dari pembenarannya.
"Apa yang tidak pernah terlihat oleh mata dan tidak pernah didengar
oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul didalam hati manusia, semua yang
disediakan Allah bagi yang mengasihi Dia!" (1 Korintus 2:9) "Kebajikan dan kemurahan belaka akan
mengikuti aku, seumur hidupku; dan Aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang
masa!" (Mazmur 23:6).
Hukum Taurat mendorong dan mengendalikan manusia yang belum bertobat
dengan rasa takut dan dengan ancaman, dan dia benci hal itu: “Sebab
keinginan daging adalah perseturuan terhadap Allah, sebab ia sendiri tidak
takluk kepada hukum Allah, hal ini memang tidak mungkin baginya” (Roma
8:7). Orang beriman telah dimerdekakan dari ikatan tersebut. Orang beriman
didorong oleh kasih dan bukan oleh hukum Taurat (2 Korintus 5:14). Hal itu
mengalir keluar dari dirinya yang paling dalam, sesuai dengan hukum dan secara otomatis
menggenapinya, karena "kasih adalah kegenapan hukum taurat"
(Roma 13:10). Orang kristen yang menjadi dirinya sendiri tidak perlu
takut akan terjadinya pertentangan dengan hukum Allah! "tetapi buah Roh
ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan,
kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri; tidak ada hukum yang menentang
hal-hal itu" (Galatia 5:22-23) "akan tetapi jikalau kamu
memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat” (Galatia 5:18). Dalam kenyataan ini,
Paulus berkata bahwa "Hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar,
melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang
berdosa, bagi orang duniawi dan tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh
ibu, bagi pembunuh pada umumnya. Bagi orang cabul dan pemburit, bagi penculik,
bagi pendusta, bagi orang makan sumpah dan seterusnya segala sesuatu yang
bertentangan dengan ajaran sehat " (1 Timotius 1:8-10).
Orang benar tidak memerlukan larangan dari luar yang seperti itu, karena
dia dikendalikan oleh sifatnya yang kudus. Bahkan perintah dan desakan menjadi
penting, hanya karena orang percaya belum sepenuhnya "menjadi diri mereka
sendiri" karena kita masih ada dalam "tubuh jasmani" ini dan
menjadi sasaran dari "tipu daya dosa" (Ibrani 3:13) dan "tipu
muslihat iblis" (Efesus 6:11). Kita masih memerlukan petunjuk untuk
membantu kita memilih mana yang baik dan mana yang salah. Namun, saat kita
bertumbuh dalam kasih karunia, pikiran kita secara cepat “diperbaharui”,
dan “karena mempunyai panca indera yang
terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat”. (Ibrani 5:14) Dengan
cara ini, kita dapat lebih lagi “sehingga kamu dapat membedakan manakah
kehendak Allah: apa yang baik yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
(Roma 12:2). Orang kristen tidak lagi berada "di bawah" hukum Taurat;
dia berada "di bawah hukum Kristus" (1 Korintus 9:21).
Semua orang beriman telah mati bagi hukum Taurat. Mereka "tidak lagi
berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah Kasih karunia." Orang
beriman tidak lagi berada di dalam alam "tuntutan", tetapi di dalam
alam dari "pemberian". Orang beriman berada "di bawah"
Kasih karunia, bukan Taurat, sebagai kekuatan yang menguasai, dan mereka hidup
di alam dimana kasih karunia "berkuasa" (Roma 5:21) sehingga dengan
demikian tidak ada lagi ketergantungan kepada manusia; semuanya bergantung
pada Allah. Setiap keinginan untuk kebaikan dan setiap tindakan ketaatan yang
ada pada diri setiap orang beriman dikerjakan dengan baik oleh Allah! "Karena
Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut
kerelaan-Nya” (Filipi 2:13).
9.3. KASIH KARUNIA ALLAH MELEBIHI
HUKUM TAURAT
Roma 5:12-14 “Sebab
itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa
itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena
semua orang telah berbuat dosa. Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa
di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat.
Sungguhpun demikian maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman
Musa juga atas mereka, yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti
yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang”.
Paulus
menjelaskan rahasia tentang maut, menunjukkan bahwa dosa manusia adalah
penyebab dari kebinasaan. Nenek moyang manusia yang pertama telah memberontak
terhadap Allah, sehingga mereka dan keturunannya berada di bawah hukuman maut.
Maut telah berkuasa atas semua makhluk. Namun, Allah memberikan waktu kepada
manusia untuk bertobat agar manusia menerima sang Juruselamat, dan
diperkenalkan kepada kehidupan yang baru melalui iman kepada Yesus Kristus.
“Tetapi karunia
Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran
satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi
kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang
karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. Dan kasih karunia tidak berimbangan
dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah
mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia atas banyak
pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. Sebab, jika oleh dosa satu orang,
maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang
telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan
berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus”. (Roma 5:15-17).
Paulus
menjelaskan rahasia mengenai dosa dan maut karena Adam yang pertama, dan
mengenai kebenaran serta kehidupan karena Adam yang kedua, dimana ia menyebut
bapa kita yang pertama, “Suatu pola tentang Kristus, yang akan datang.” Paulus
tidak mengatakan bahwa sebagaimana dosa dan maut berkembang melalui Adam,
demikian juga anugerah Allah dan karunia kehidupan kekal berkembang melalui
manusia Yesus; karena Kristus lebih besar dibandingkan Adam, dan berbeda dengan
Adam. Tuhan memberikan kelimpahan di dalam anugerah dan karunia surgawi.
Anugerah itu tidak membawa maut dan kelumpuhan seperti maut, tetapi menghasilkan
kehidupan kebangkitan, berbuah, bertumbuh, dan kuat.
Penghukuman
Allah atas dosa dimulai sejak manusia yang pertama, dan secara otomatis
diteruskan kepada semua manusia. Hal itu berbeda dengan pembenaran, yang tidak
diawali dari seorang berdosa, tetapi dengan semua orang berdosa, karena Yesus
sudah membenarkan mereka semua sekaligus. Barangsiapa yang percaya kepada-Nya
akan dibenarkan.
Ketika maut,
karena dosa nenek moyang tersebut, menjadi raja yang mematikan bagi semua
manusia, Yesus membuka, dengan anugerah-Nya yang besar yang darinya kehidupan
kekal mengalir kepada semua orang percaya. Namun, kehidupan Allah tidaklah
memerintah dengan paksaan atas hati orang-orang percaya, sebagaimana yang
dilakukan oleh maut, namun mereka yang disucikan akan memerintah selama-lamanya
bersama dengan Kristus, Juruselamat dan Tuhan mereka. Bahkan, kebesaran Kristus
tidak bisa dibandingkan dengan Adam dalam hal apapun, karena anugerah dan
kehidupan dari Allah sangatlah berbeda dengan maut dan kutuk.
“Sebab itu, sama
seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula
oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup. Jadi
sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang
berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang
benar. Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin
banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi
berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian
kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus
Kristus, Tuhan kita” (Roma 5:18-21).
Paulus kembali
membandingkan Adam dengan Kristus. Di dalam bagian, ini, ia tidak membandingkan
kedua pribadi itu terlebih dahulu, tetapi pekerjaan dan akibat dari hal itu.
Melalui satu pelanggaran maka hukuman berkuasa atas semua manusia, tetapi
melalui satu perbuatan kebenaran maka pembenaran dan penyucian di dalam
kehidupan kekal diberikan kepada semua manusia. Betapa besarnya tawaran surgawi
itu!
Akhirnya, di
dalam perbandingan yang dilakukannya antara Adam dengan dosanya, dan Kristus
dengan kebenaran-Nya, Paulus masuk ke dalam masalah hukum Taurat. Hukum Taurat
tidak dianggap sebagai sesuatu yang akan menolong bagi keselamatan dunia karena
hukum Taurat datang ke dalam sejarah keselamatan untuk menunjukkan pelanggaran
secara sangat nyata, dan mendorong manusia untuk menggenapi ketaatannya. Hukum
Taurat meningkatkan kekerasan hati manusia dan berlipat gandanya jumlah
dosanya. Namun, Kristus membawa kita mendekat kepada sumber dari segala
anugerah, dan Ia menawarkan kepada kita kepenuhan kuasa dan kebenaran yang
terus menerus sehingga sungai anugerah bisa mengalir ke segala padang gurun
yang ada di dunia. Paulus bersukacita dan berseru dengan penuh kegembiraan,
“Jika dosa, melalui maut, berkuasa atas semua manusia di masa lalu, maka
sekarang kekuasaannya sudah berakhir, karena sekarang anugerah sudah dimahkotai
sebagai penguasa untuk masa kita, yang didirikan di atas kebenaran Allah yang
diteguhkan oleh salib Yesus.”
BAB X
KRISTEN DAN HUKUM TAURAT
Seringkali orang
Kristen terkesan kurang “terikat” dengan hukum Taurat. Pada umumnya alasan
mereka mengacu pada kitab Galatia. 5:4, “Kamu
lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat, kamu
hidup di luar kasih karunia". Selain itu mereka mengacu pada kitab
Roma 7:6 "Tetapi sekarang kita telah
dibebaskan dari hukum Taurat". Demikian juga kitab-kitab lainnya
seperti Galatia 2:16, Roma 2:6, Galatia
3:10, 2 Korintus 3:6, dan Ibrani 8:13.
Padahal Tuhan Yesus sendiri memerintahkan orang kristen untuk mengikuti
hukum Taurat (Matius 5:17-18; Matius 23:1-3; Yohanes 5:46-47; Lukas 16:17).
Peranan, fungsi dan makna hukum Taurat dalam perjalanan kehidupan
ke-Kristen-an saat ini sudah mulai ‘kabur’. Hukum Taurat tidak lagi dipahami
dan dimengerti sebagai hukum yang bersumber dari Allah sendiri yang harus
dipatuhi dan dilakukan. Orang Kristen saat ini sudah lebih mematuhi produk
hukum yang dibuat oleh manusia dari pada mematuhi hukum yang dibuat oleh Allah
sendiri. Manusia lebih takut melanggar hukum manusia dari pada melanggar hukum
Tuhan.
Bagi orang Kristen saat ini, hukum Taurat bukanlah sesuatu yang harus
diwajibkan untuk dikerjakan. Mereka melihat hukum ini bukan hukum yang harus
dipatuhi untuk zaman ini. Hukum Taurat hanya merupakan pengetahuan sejarah
Alkitab saja. Pengajaran hukum Taurat ini pun kurang begitu ditekankan oleh
pihak gereja lagi. Gereja mungkin menganggap bahwa pengajaran utama ialah
pengajaran tentang kasih Tuhan Yesus Kristus. Dampak langsung bagi warga jemaat
bila tidak melakukan hukum Taurat dirasakan tidak ada sehingga hukum Taurat itu
sendiri tidak dihargai sebagai sesuatu hukum yang mutlak harus dipatuhi.
Kasih tanpa hukum, kacau-balau, tetapi hukum tanpa kasih, kaku. Pepatah ini
sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Jika Gereja terlalu menekankan
kasih atau anugerah, dan melalaikan hukum Taurat, maka bisa saja Gereja itu
akan mengalami kekacau-balauan. Sebaliknya, jika Gereja hanya menekankan hukum
Taurat, dan melalaikan kasih dan anugerah Allah, maka akan terjadi kekakuan.
Kita harus memelihara Hukum Taurat supaya orang menahan diri berbuat dosa.
Namun perlu ditekankan seperti yang dikatakan Martin Luther, bahwa fungsi dan
kuasa terpenting dari hukum Taurat itu adalah untuk menampakkan dengan jelas
dan terang dosa asali itu.
Bagi bangsa Israel di zaman perbudakan di Mesir dan bagi orang percaya saat
ini, keselamatan berasal hanya karena oleh anugerah Tuhan. Sebagaimana Paulus
menekankan, “Sebab tidak seorang pun yang
dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena
justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Roma 3:20). Peran hukum pada
zaman ini sama seperti pada zaman lalu: hukum merupakan petunjuk bagi kehidupan
kita yang berasal dari Tuhan yang murah hati agar kita boleh menyenangkan Dia
dan menjadi kebaikan untuk kita.
Sebagaimana orang Kristen, kita mengetahui dengan jelas akan ketidakmampuan
kita melakukan hukum Taurat. Kita tahu bahwa kita adalah pelanggar-pelanggar
hukum Taurat. Paulus menekankan keberdosaan manusia yang bersifat universal
dengan mengutip Perjanjian Lama: “Tidak
ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi,
tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka
semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak.” (Roma
3:10-12; Mazmur 14:1-3; Mazmur 53:1-3).
Kesalahan manusia bukan dari banyaknya dosa. Yakobus memperingati kita
berusaha menyelamatkan diri melalui kebaikan kita bahwa “barangsiapa menuruti
seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah
terhadap seluruhnya. Sebab Ia yang mengatakan: “Jangan berzinah”, Ia mengatakan
juga: “Jangan membunuh”. Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka
kamu menjadi pelanggar hukum juga” (Yakobus 2:10-11).
Tetapi keadaan buruk manusia ternyata lebih menyedihkan. Melalui penerangan
dari Khotbah di Bukit (Matius 5-7), di mana Yesus menekankan Hukum Taurat,
sukar dipercaya bahwa ada banyak orang yang tidak pernah berzinah. Di dalam
ajaranNya, semua hukum mempunyai sebuah pengertian internal yang radikal.
Bayangkan umpamanya tentang perintahNya mengenai hukum ketujuh:
“Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi
Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta
menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu
yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik
bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh
dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau,
penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota
tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka”. (Matius 5:27-30)
Ada dua paham berbeda yang ada pada zaman ini untuk mewakili pendapat tentang
apakah orang Kristen wajib mentaati hukum Taurat atau tidak. Pada dasarnya
ajaran Dispensasi dan ajaran Theonomi merupakan pandangan hermeneutika, tetapi
keduanya berfokus pada hukum Taurat dalam hal-hal tertentu. Ada yang melihat
penganut ajaran Dispensasi bertendensi membedakan Perjanjian Lama sebagai waktu
di mana Allah bekerja melalui hukum Taurat sedangkan Perjanjian Baru sebagai
sebuah masa anugerah. Pemisahan yang paling jelas dan nyata dari Firman
Kebenaran ialah antara Hukum Taurat dan Anugerah. Sesungguhnya, prinsip-prinsip
yang kontras ini merupakan karakteristik dua dispensasi yang paling penting
yaitu antara orang Yahudi dan orang Kristen. Alkitab tidak pernah, dalam tiap
dispensasi, mencampurkan dua prinsip ini. Pandangan ini oleh banyak penganut
dispensasi zaman sekarang tidak dipegang secara eksplisit, sehingga berakibat
pada minimalisasi hukum Taurat yaitu sebuah sikap yang kurang menghargai hukum
Perjanjian Lama.
Di pihak lain, ajaran Theonomi (dalam bahasa Yunani untuk “hukum Allah”)
berpendapat bahwa hukum-hukum Perjanjian Lama dan hukumnya terus berlaku sampai
sekarang. Singkatnyanya, pendekatan ajaran Theonomi terhadap hukum ialah
memegang ajaran Tuhan Yesus dengan serius baik secara dogmatik dan harafiah.
“Iota dan titik” dari hukum Taurat tetap masih berlaku. Kesinambungan ketat
tetap ada antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Penganut ajaran Theonomi
percaya bahwa tanggung jawab pemerintah ialah menjalankan hukum-hukum Perjanjian
Lama yang seharusnya menjadi acuan
bagi masyarakat banyak.
Ajaran Theonomi dan Dispensasi mewakili dua pendekatan ekstrim tentang
hukum Taurat. Meskipun ajaran theologia mereka amat ortodoks, tetapi mereka
secara radikal berbeda pendapat tentang hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru. Ajaran Theonomi menekankan kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru, sedangkan ajaran Dispensasi menekankan ketidaksinambungan keduanya.
Ada beberapa kelemahan dalam ajaran Theonomi. Pertama, Hukum Perjanjian Lama
ditujukan kepada umat Allah ketika mereka merupakan sebuah bangsa. Umat Allah
merupakan sebuah kelompok politik berbeda, yaitu bangsa Israel; dan sebuah
fungsi utama yang disebut hukum-hukum yang berkenaan dengan kasus dan khususnya
hukuman-hukumannya ialah untuk menjaga bangsa pilihan ini bebas dari dosa. Saat
ini Allah tidak bekerja lagi hanya melalui sebuah bangsa pilihan, tetapi
melalui sebuah umat pilihan yang meliputi bangsa-bangsa di dunia. Kedua, Allah
memberi bangsa Israel hukum Taurat sebelum Tuhan Yesus Kristus diwahyukan ke
dalam dunia. Singkatnya, kita tidak dapat menerima kesinambungan di antara
kedua Perjanjian dalam hal pelaksanaan hukum dan hukuman-hukumannya.
Pasal-pasal penting dari Perjanjian Baru memberikan konfirmasi bahwa sesuatu
yang baru sedang bekerja.
Sebagai contoh, mari kita memperhatikan salah satu hukum Taurat, yaitu
mengenai perzinahan. Perzinahan merupakan hukum ke-7 dari Dasa Titah (Keluaran
20:14; Ulangan 5:18). Hukum kasus memberitahukan kita hukumannya: “Apabila seseorang kedapatan tidur dengan
seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh mati: laki-laki
yang telah tidur dengan perempuan itu dan perempuan itu juga. Demikianlah harus
kau hapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel” (Ulangan 22:22).
Berdasarkan hukum Perjanjian Lama ini, ajaran Theonomi berargumentasi bahwa
pada masa ini, perzinahan harus dihukum mati. Tetapi kalau kita membaca Perjanjian
Baru dengan teliti, justru mengajarkan hal yang lain. Kita ingat kembali
Yohanes 7:53-8:11 mengenai wanita yang ditangkap sedang berzinah. Wanita itu
adalah seorang pezinah. Dia hampir dirajam, tetapi Yesus menengahi dan menahan
perajam dengan tantangan “Barangsiapa di
antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada
perempuan itu” (Yohanes 8:7). Ketika Yesus memandang wanita ini, Dia
berkata kepadanya bahwa Dia tidak menghukumnya. Yesus menyuruh dia pergi dengan
peringatan agar “jangan berbuat dosa lagi” (Yohanes 8:11).
Oleh sebab itu maka bukan semata-mata karena kita adalah umat “Perjanjian Baru”,
maka kita serta-merta mempunyai alasan untuk mencampakkan semua yang berbau Perjanjian
Lama. Salah besar! Sebutan “Perjanjian Baru” justru hendak mengingatkan bahwa
ia tidak muncul tiba-tiba. Ia punya akar sejarah. Ia punya ibu yang mengandung
dan melahirkannya. Tak akan ada yang “baru”, bila tak ada yang “lama”. Selain itu Dasa Titah bukanlah semata-mata
etikanya orang Yahudi saja. Dasa Titah mengandung nilai-nilai yang universal.
Selain itu Gereja harus memberikan penjelasan-penjelasan teologis tentang makna
dan fungsi hukum Taurat bagi kehidupan setiap orang percaya. Perhatikan nats
berikut:
Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku
datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan
untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau
satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya
terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat
sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia
akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa
yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan
menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata
kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan
ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke
dalam Kerajaan Sorga.
Banyak orang yang sampai hari ini masih bertanya-tanya, meskipun dalam
bentuk dan cara yang berbeda, tentang hubungan antara Tuhan Yesus dan Musa,
antara Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru. Karena Tuhan Yesus
tanpa ragu menanggapinya langsung dengan memberi jawaban yang tegas, maka kita
pun janganlah segan berbuat demikian. Yesus datang ke dunia bukan untuk
meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi, dengan jalan mengesampingkan atau
membatalkannya, maupun untuk mengabsahkannya secara mati dan harafiah,
melainkan untuk menggenapinya.
Arti harfiah kata kerja Yunani Plerosai yang diterjemahkan di sini dengan
‘menggenapi’ ialah ‘memenuhi’. Ini menyingkapkan, seperti dikatakan
Chrysostomus, bahwa ‘segala sesuatu yang diucapkan Yesus bukanlah untuk
mencabut ajaran Kitab Perjanjian Lama, melainkan untuk mengangkat intinya ke
permukaan, menampilkan isinya secara ‘utuh’. Untuk daat menyimak makna yang
menakjubkan dari pernyataan Yesus ini, perlu kita sadari bahwa ‘hukum Taurat
dan kitab para nabi’, yakni Kitab Perjanjian Lama, berisi berbagai jenis
ajaran. Kaitan ajaran Yesus dengan berbagai jenis ajaran Perjanjian Lama memang
berbeda-beda, namun kata ‘menggenapi’ mencakup dan merupakan kesimpulan atas
keseluruhnya.
Pertama, Perjanjian Lama terdiri dari ajaran, doktrin. ‘Torah’, yang
biasanya diterjemahkan ‘hukum’, sebenarnya berarti ajaran yang diwahyukan, dan
Perjanjian Lama memang mengajarkan tentang Allah, manusia, keselamatan, dan
lain-lain. Semua doktrin besar terdapat di situ. Namun itu barulah sebagian
dari penyataan Allah. Yesus ‘menggenapi’’ semua itu dalam arti bahwa Ia
melengkapinya dengan diriNya, ajaranNya dan karyaNya (bnd Ibrani 1:1-2).
Perjanjian Lama adalah ibarat Injil yang masih kuncup. Perjanjian Baru adalah
ibarat Injil yang sudah mekar menjadi bunga. Perjanjian Lama adalah ibarat
Injil yang masih tersembunyi dalam pucuk, Perjanjian Baru adalah ibarat Injil yang
sudah keluar sebagai bulir.
Kedua, isi Perjanjian Lama adalah nubuat-nubuat yang bersifat ramalam, yang
masih belum merupakan kenyataan. Pandangannya terarah ke zaman Mesias yang akan
datang, baik dalam ramalan berbentuk kata-kata maupun dalam ramalan berbentuk
bayangan-bayangan pendahuluan, yang menggambarkan bagaimana Mesias yang bakal
datang itu dalam bentuk lambang-lambang. Namun itu barulah antisipasi Tuhan Yesus
‘menggenapi’ semua itu dalam arti bahwa segala yang diramalkan itu menjadi
nyata, menjelma, menjadi perwujudan dalam diriNya. pernyataanNya yang pertama
pada awal penampilanNya di depan umum ialah ‘Waktunya telah genap …’ (Markus 1:14).
Berulang-ulang Ia klaim, bahwa kitab para nabi memberi kesaksian tentang
Dia. Dan Matius, melebihi penginjil lain, menitikberatkan kenyataan ini dengan
formula yang berulangkali diucapkannya. ‘Hal
ini terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi…’ (Matius 122;
bnd Matius 2:23; 3:4; 4:14, dan seterusnya bnd Matius 11:13). Klimaksnya ialah kematianNya
di kayu salib, dalam mana keseluruhan system ritual Perjanjian Lama, keimanan
maupun pemberian korban, memperoleh kegenapannya yang sempurna. Lalu mulai saat
itu sistem ritual Perjanjian Lama itu pun berhenti berlaku. Namun, seperti yang
dengan tepat dikatakan Calvin, ‘Yang kadaluwarsa hanyalah penerapannya, sebab
maknanya telah mendapat penegasan yang demikian kuat’ (bnd Lukas 22:16).
Keimanan dan pemberian korban itu hanya merupakan ‘bayangan’ dari apa yang
harus datang; wujudnya’ ialah Kristus (Kolose 2:17).
Ketiga, Perjanjian Lama memuat aturan-aturan etis, atau hukum moral Allah.
Namun hukum moral ini sering disalahmengerti dan bahkan lebih sering lagi tidak
ditaati. Tuhan Yesus ‘menggenapinya’ pertama-tama dengan jalan mentaatinya,
sebab Ia ‘lahir dan takluk kepada hukum Taurat’ (Galatia 4:4) dan dengan tekad
‘menggenapkan’ seluruh kehendak Allah’ (Matius 3:15). ‘Tak ada sesuatu pun yang
hendak ditambahkanNya pada hukum Allah’, demikianlah tulis Bonhoeffer, ‘kecuali
bahwa Ia mematuhinya’. Tapi Ia berbuat lebih dari mematuhinya; Ia menguaraikan
kepada para murid hal-hal apa yang terkait dalam ketaatan kepada hukum Allah.
Ia menolak tafsiran dangkal yang diberikan para ahli Taurat tentang hukum Allah
itu; Ia sendiri menyajikan tafsiran yang sesungguhnya. TujuanNya bukanlah untuk
mengubah hukum Taurat, apalagi meniadakannya, melainkan ‘untuk menyingkapkan
seluruh kedalaman makna yang terkandung di dalamnya’. Demikianlah Ia
‘menggenapi hukum Taurat dengan mengatakan betapa radikalnya sifat tuntutan-tuntutan
yang datang dari kebenaran Allah’. Inilah yang dititikberatkan Yesus ajaranNya.
Dalam setiap generasi dalam era kristiani selalu ada orang-orang yang tidak
dapat menyesuaikan diri kepada sikap Tuhan Yesus terhadap hukum Taurat.
Marcion, pemurtad yang terkenal dari abad kedua, yang menulis ulang Perjanjian
Baru dengan meniadakan rujukan-rujukan kepada Perjanjian Lama, tentulah
menghilangkan bagian ini. beberapa pengikutnya bahkan bertindah lebih jauh
lagi. Mereka bahkan nekat memutarbalikkan artinya dengan menggantikan kata
kerjanya, sehingga kalimatnya menjadi, ‘Aku datang bukan untuk menggenapi hukum
Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk meniadakannya;!.
Agaknya mitra mereka dewasa ini ialah penganut apa yang lazim disebut ‘new morality’. Menurut mereka kategori hukum itu sendiri telah ditiadakan bagi orang Kristen (kendati Kristus berkata bahwa kedatanganNya bukan untuk meniadakannya). Mereka juga mengatakan tidak ada lagi hukum yang mengikat orang Kristen kecuali hukum kasih, dan bahwa mutlak hanya perintah untuk saling mengasihi itulah hukum satu-satunya yang masih ada. Sikap Tuhan Yesus terhadap Perjanjian Lama sama sekali bukan mendobrak dan membatalkan, melainkan mengukuhkan. Ia menyimpulkan posisiNya dengan satu kata, bukan ‘meniadakan’ melainkan menggenapi.
Rasul Paulus mengajarkan kebenaran yang sama. Pernyataannya bahwa ;Kristus
adalah kegenapan hukum Taurat’, bukan berarti bahwa kita sekarang bebas untuk
tidak mematuhinya – justru sebaliknya (Roma 8:4) – tapi bahwa kita dibenarkan oleh
Allah bukannya karena ketaatan kita kepada hukum Taurat, melainkan berkat iman
kita kepada Kristus, dan bahwa kesaksian tentang kabar baik ini sudah tersirat
dalam hukum Taurat itu sendiri (Roma 3:21).
Setelah dipastikanNya bahwa tujuan kedatanganNya adalah untuk menggenapi hukum Taurat, maka ini dilanjutkanNya dengan menguraikan sebab musabab dan konsekuensi kenyataan ini. Sebab musababnya ialah karena hukum Taurat akan tetap berlaku sampai semuanya tergenapi, dan konsekuensinya ialah bahwa karena itu maka warga Kerajaan Allah harus tetap tunduk kepada hukum Taurat.
Inilah yang dikatakan Yesus tentang hukum Taurat, yang untuk menggenapinya
Ia datang ke dunia ini: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya selama belum lenyap
langit dan bumi ini, satu iota tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat sebelum
semuanya terjadi. Artinya bahwa sekelumit pun dari pernyataan tersebut tak akan
ditiadakan, bahkan satu huruf atau bagian huruf yang terkecil sekalipun tak akan
dihilangkan, sebelum semuanya digenapi. Dan penggenapan ini tak akan lengkap
sebelum langit dan bumi sendiri lenyap. Sebab suatu hari langit dan bumi akan
lenyap dalam suatu kelahiran kembali alam semesta yang maha hebat (Matius
24:35; bnd 19:28). Waktu, sebagaimana yang kita kenal, akan berhenti dan firman
tertulis Hukum Allah tidak akan diperlukan lagi, sebab segala sesuatu yang terkandung
dalamnya sudah akan digenapi. Tidak ada gambaran yang lebih tegas lagi, untuk
menggarisbawahi betapa kokohnya kepercayaan Tuhan Yesus terhadap hukum-hukum Taurat
dalam Perjanjian Lama.
BAB XI
SIKAP
TERHADAP HUKUM TAURAT
11.1.
PENDAHULUAN
Bagaimana sikap umat Kristen terhadap Hukum Taurat? Apakah bebas dari
ikatan hukum Taurat ? Kalau bebas, lalu dengan hukum apa seharusnya yang
diresponi oleh orang Kristen? Yesus
berkata bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, atau kitab para
nabi. Ia tidak menolak apa yang
berlaku di Perjanjian Lama, tetapi justru malah menggenapinya. Mengapa ? Karena
seluruh hukum Taurat menyatakan kehendak Allah untuk manusia, bahkan
mencerminkan karakter Allah untuk diwujudkan dalam kehidupan manusia.
Ketika Yesus membandingkan hukum Taurat pada murid Tuhan sejati
dengan para ahli Taurat sesungguhnya Ia hendak menunjukkan bahwa para ahli
Taurat melakukannya melakukan hukum Taurat hanya sebatas formalitas. Itu membuat hukum Taurat
begitu kelihatan kaku, tidak menyentuh kehidupan manusia.Seharusnya hukum
Taurat menghidupkan dan menumbuhkan kesadaran penuh akan keilahian dalam hidup
setiap anak Tuhan. Kesempurnaan Yesus justru karena Ia melakukan hukum Taurat
dalam kehidupanNya.
Tujuan melakukan hukum Taurat adalah menyatakan dan mewujudkan kualitas
karakter Allah di dalam Yesus Kristus melalui kehidupan seorang Kristen setiap
hari. Suatu kelak, Yesus Kristus sendiri yang akan menjadi hakim atas segala
hal yang baik dan jahat yang diperbuat manusia. Dia adalah Allah yang tidak
memandang muka. Keadilannya akan segera digenapi pada saat kedatangan yang
kedua kali.
11.2.
MENGIKUTI HUKUM TAURAT ATAU HUKUM KRISTUS ATAU
KEDUA-DUANYA
Tentang Yesus Kristus dituliskan,
“Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung,
karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan
atas janji yang lebih tinggi. Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu
tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua” (Ibrani 8:6,
7). Dalam ayat-ayat ini, “perjanjian pertama” adalah hukum Perjanjian Lama dan
“yang kedua” ditujukan kepada perjanjian yang diberikan Allah kepada kita
melalui anakNya.
Alkitab, Firman Allah adalah kebenaran
yang bisa membebaskan kita dari dosa dan penghukuman (Yohanes 8:32; 17:17). Ia
adalah satu-satunya berita yang bisa menyelamatkan jiwa kita (Yakobus 1:21).
Apakah Perjanjian Lama itu bagian dari Firman Allah dan apakah ia benar? Tidak
diragukan! Bagaimana dengan Perjanjian Baru? Ia juga Firman Allah. Bila memang
demikian, lalu melalui hukum atau perjanjian yang mana kita harus lakukan untuk
hidup? Apakah kita diwajibkan untuk mengikuti hukum Perjanjian Lama atau ajaran
Kristus, atau kedua-duanya?
Hukum yang diberikan Allah kepada bangsa
Israel di bukit Sinai, sering disebutkan sebagai “hukum Musa” (Kisah Rasul
13:39). Hal ini bukan berarti bahwa Musa adalah sumber dari hukum itu, dia
adalah seorang mediator yang melaluinya Allah memberikan hukum. Hukum Musa itu
sering juga disebut hukum Allah (Nehemia 8:8, 18) dan hukum Tuhan (Lukas 2:23,
24). Hukum itu digambarkan kudus, adil dan baik (Roma 7:12). Tanpa diragukan,
bahwa 10 hukum adalah bagian yang sangat penting dari instruksi yang Allah
berikan kepada bangsa Israel. Penting untuk dicatat, bahwa hukum Musa tidak
hanya terdiri dari 10 hukum. Faktanya ada lebih dari 600 perintah dalam hukum
Perjanjian Lama
Pada abad 15 Sebelum Masehi, Allah
mengutus Musa untuk melepaskan bangsa Israel dari perhambaan di Mesir. Pada
bulan ketiga setelah mereka menyeberangi Laut Merah dan lepas dari Mesir,
mereka tiba di gunung Sinai (Keluaran 19:1). Allah memberi mereka sebuah hukum
yang baru, yaitu hukum Musa.
Dalam Keluaran 20:2, 3 tertulis, ”Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau
keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain
di hadapan-Ku.” Inilah permulaan dari pernyataan hukum yang diberikan Allah
di gunung Sinai. Ingat, perkataan ini diberikan kepada mereka yang telah lepas
dari perbudakan di Mesir. Siapakah mereka itu? Orang Israel. Lebih jauh dalam
Ulangan 5:1-3, kita membaca, “Musa memanggil
seluruh orang Israel berkumpul dan berkata kepada mereka: "Dengarlah, hai
orang Israel, ketetapan dan peraturan, yang pada hari ini kuperdengarkan
kepadamu, supaya kamu mempelajarinya dan melakukannya dengan setia. TUHAN,
Allah kita, telah mengikat perjanjian dengan kita di Horeb. Bukan dengan nenek
moyang kita TUHAN mengikat perjanjian itu, tetapi dengan kita, kita yang ada di
sini pada hari ini, kita semuanya yang masih hidup.” Perjanjian yang mana
yang dibicarakan Musa disini? Yaitu perjanjian yang dibuat Allah di Sinai.
Dengan siapa perjanjian itu dibuat? Dengan mereka dimana Musa berbicara.
Perhatikan, dikatakan bahwa pada hari itu Musa hanya berbicara kepada bangsa
Israel, mengingatkan mereka akan perjanjian yang telah dibuat Allah dengan mereka.
Hanya ada satu bangsa yang hadir di gunung Sinai yang menerima hukum Musa dan
bangsa tersebut adalah bangsa Israel. Hukum Musa tidak dialamatkan kepada
bangsa Spanyol, China, Amerika atau orang Kristen di negara manapun. Hukum itu
hanya diberikan kepada bangsa Yahudi.
Segala sesuatu yang Allah perbuat pasti
mempunyai tujuan. Tuhan pasti mempunyai tujuan dalam memberikan hukum Musa
kepada bangsa Israel. Salah satunya adalah untuk menolong mereka mengerti
tentang dosa, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah
oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang
mengenal dosa” (Roma 3:20). Tujuan yang lainnya adalah menolong bangsa Israel
untuk datang kepada Kristus (Galatia 3:24).
Sebagai orang Yahudi, Yesus hidup di
bawah hukum lama dan wajib mentaatinya (Galatia 4:4). Yesus tidak pernah
melanggar hukum Musa, tetapi melakukannya dengan sempurna. Dia tidak berdosa (1
Petrus 2:22). Dia digambarkan sebagai tujuan akhir hukum Taurat (Roma 10:4).
Kemudian, Dia menggenapi hukum Taurat (Matius 5:17).
Saat ini Allah berbicara kepada kita
melalui AnakNya (Ibrani 1:1, 2). Kita hidup melalui apa yang Yesus katakan
(Matius 17:5). Setelah kebangkitanNya Dia berkata, "Kepada-Ku telah
diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi, dan ajarlah mereka melakukan
segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai
kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Matius 28:18, 20).
Hari ini Tuhan memanggil manusia melalui
Injil, bukan melalui hukum Musa (2 Tesalonika 2:14; Roma 1:16; 2 Yohanes 9).
Hukum Perjanjian Lama datang dari Allah dan yang bermanfaat bagi orang Kristen
bila mempelajarinya. Tetapi harus diingat bahwa hukum itu tidak lagi mengikat.
Saat ini Tuhan ingin agar semua manusia dimana saja mengikuti pengajaran
Kristus, yang juga disebut Injil Perjanjian Baru.
"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang
pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu
manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh
hukum Taurat dan kitab para nabi" (Matius 22:37-40). Jika kita
melakukan kedua hal ini, kita menggenapi apa yang Kristus ingin kita lakukan. “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu,
bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak
berat” (1 Yohanes 5:3).
11.3.
HIDUP DALAM ATURAN ALLAH
“Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di
dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat” (Roma
5 :13). Paulus
membandingkan Adam dan Kristus sebagai wakil dari dua kelompok manusia. Adam
adalah manusia pertama. Ia jatuh ke dalam dosa karena melanggar firman Allah.
Pelanggaran Adam ternyata bukan hanya berpengaruh pada dirinya sendiri.
Persekutuan dengan Adam mengakibatkan seluruh manusia jadi terkena dampaknya
(ayat 12, band. 1 Korintus 15:22). Semua manusia jadi terlahir sebagai orang
berdosa karena ketidaktaatan Adam. Lebih dari itu, sebagai hukuman dosa, semua manusia
harus binasa (ayat 17). Dosa Adam bukan sekadar sebuah contoh buruk yang jelas
tidak boleh ditiru, tetapi dosa Adam merusak kemanusiaan secara keseluruhan.
Hukum Taurat membawa kita kepada pengertian akan banyaknya pelanggaran yang telah kita lakukan. Hukum Taurat menjadi cermin dan panduan bagi kita, juga sebagai introspeksi prilaku kita. Sebelum Kristus datang ke dunia ini, manusia dihakimi melalui Hukum Taurat. Akan tetapi kasih dan kemurahan Allah tidak membiarkan manusia tetap dalam dosa dan maut. Tuhan Allah mengutus Adam terakhir yaitu Yesus Kristus (1 Korintus 15:45) yang berlawanan dengan Adam justru merendahkan diri dan taat sempurna kepada Allah. PengorbananNya di kayu salib menjadi kekuatan yang menganugerahkan hidup bagi semua yang percaya kepada-Nya. Kristus lebih mengutamakan kehendak Allah diberlakukan dalam hidup-Nya. Bahkan meski itu harus mengorbankan nyawa-Nya. Namun dampaknya ternyata jauh lebih luar biasa (ayat 16). Ketaatan Kristus membuat Allah tidak memperhitungkan dosa-dosa manusia yang mau percaya kepada Dia. Karya-Nya membuat orang-orang yang percaya kepada Dia menerima pembenaran (ayat 18-19).
Namun daripada itu, bukan berarti Hukum Taurat tidak lagi dibutuhkan. Justru Kristus datang ke dunia ini untuk menggenapi hukum Taurat. Karena pada dasarnya manusia ciptaan Allah tidak mampu membebaskan dirinya dari tuntutan Hukum Taurat. Oleh karena itu Allah mengutus AnakNya untuk menggenapinya (memenuhi tuntutan itu). Kesempurnaan penggenapan itu telah nyata melalui pengorban Kristus di kayu salib. Sehingga manusia tidak lagi tunduk kepada Hukum itu, melainkan tunduk kepada Kristus Sang Penebus. Yesus sendiri yang akan menghakimi kita dengan caraNya sendiri. Oleh karena itu, kita dapat memutuskan untuk terikat dalam persekutuan dengan Kristus dan menikmati kelahiran baru di dalam Dia. Persekutuan yang baru ini memungkinkan kita memiliki keselamatan dan hidup kekal karena kasih karunia Kristus yang tercurah atas kita (ayat 21). Kelahiran baru menandai pemutusan hubungan kita dengan dosa dan kuasanya, serta mengawali hidup baru di dalam Kristus untuk menikmati kekekalan sebagai anak Allah. Dalam kehidupan baru itu, kita harus memelihara hukum Tuhan sebagai respon kita akan anugerah keselamatan itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar